Hujan, aku ingin kau mendengarkan gelisah yang mulai menjadi
badai. Menelantarkan segala periuk harta hingga waktu pun tertelan olehnya.
Kini aku kurus kerontang. Kini aku tak berlapiskan sehelai daging pun. Bahkan
tak ada secercah tenaga yang rumpun tersisa. Hanya betemankan baluran air mata
yang membasahi tulang pipi.
Hujan, aku tak lagi memiliki embun yang dahulu pernah
berjanji bahwa belaian kesejukanya tak kan pernah singgah dari singgasana ini.
Aku tak lagi memiliki sinar mentari yang dahulu pernah berjanji bahwa kisaran
kehangatnnya tak akan pernah pudar dalam romansa ini. Aku tak lagi memiliki
jiwa untuk bernafas lebih lama, tak lagi bisa mengedipkan bola mata yang kini telah
mengering- walaupun hanya sekejap.
Mengapa aku harus terjerembab dalam pergulatan dunia ini.
Aku lelah. Aku sangat lelah. Daya tak mampu aku bangkitkan walau hanya meniup
semut yang berjalan di tangan kiriku. Pamandanganku tertunduk. layu dan membisu.
Siapa lagi yang kini mengingat namaku, ukiran sejarahku di masa lampau. Siapa
lagi yang mau peduli dengan diri yang telah kurus kerontang ini. Siapa lagi ?
Tak lama, hujan pun pamit dan hilang dari uluran
pandanganku. Disambut azan yang mengetuk segala ruang dalam ragaku untuk mengingat
untuk siapa aku hidup dan mengukir tinta perjuanganku.
9:05 PM
18 Februari 2016
Di kamar asrama, di atas meja belajar.
Pertama kalinya bikin prosa