Featured post

KURANG DARI 50 TAHUN

Aku terbangun di pagi hari Memasuki lentera baru, lensa baru, harapan baru Pelupuk mataku yang lemah begitu berat untuk disingsingkan Te...

Monday, 21 November 2016

Aksi untuk Pendidikan : Menanam Benih bagi Masa Depan Bangsa

Aksi untuk Pendidikan :
 Menanam Benih bagi Masa Depan Bangsa

Masyarakat adalah tonggak pembangunan sebuah negeri. Ia adalah cermin identitas negara yang sesungguhnya. Ia layaknya bagian paling dasar dari kapal besar yang hendak berlayar di laut lepas. Bila bagian ini dirancang dengan sebaik-baiknya, ia akan menjadi tiang pancang pembangunan yang kuat. Ia juga dapat menjadi cermin yang mempelihatkan wajah singa kepada seluruh dunia. Bahkan ia menjadi dasar untuk mampu menopang tanggungjawab besar Indonesia kelak di masa depan.
            Dari tengah-tengah masyarakat inilah, akan hadir generasi pembesar bangsa. Generasi yang akan memperbaharui warna pembangunan ekonomi, politik, sosial, budaya, dan pendidikan di negeri ini. Generasi yang akan menjadi tulang punggung bangsa kelak. Generasi yang akan menjadi para pemimpin dan pencetak sejarah Indonesia di masa depan. Ialah mereka, generasi yang sangat berarti untuk diperhatikan : anak-anak.
            “Banyak anak, banyak rezeki,” menjadi pandangan umum yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sebagian masyarakat di Indonesia masih memiliki cara berfikir yang mengarah pada pandangan tersebut. Hal ini mendorong keluarga di Indonesia tidak khawatir untuk memiliki banyak anak, termasuk pada desa tempat saya dan teman-teman melakukan pengabdian KKN-T, Desa Cibitung Kulon, Pamijahan, Kabupaten Bogor. Merupakan fenomena yang dianggap biasa, ketika perempuan-perempuan melahirkan anak dengan jumlah di atas lima, ketika seorang anak PAUD sudah memiliki  2-3 adik, dan ketika orang tua lupa urutan kelahiran anak-anak mereka.
            Bukanlah suatu yang salah bila sebagian masyarakat masih berkutik pada usaha meningkatkan kuantitas anak. Bukan pula suatu hal yang salah bila mereka memiliki keyakinan bahwa anak adalah pintu rezeki, semakin banyak anak, semakin banyak pintu rezeki yang terbuka, maka keluarga akan memiliki peluang yang lebih besar untuk mendapatkan rezeki. Namun, adalah suatu hal yang disayangkan bila keyakinan terserbut tidak disesuaikan dengan kemampuan keluarga untuk memenuhi hak-hak anak, tidak diperkuat dengan upaya meningkatkan kualitas anak, tidak disertai kesadaran untuk memberikan pengasuhan yang terbaik kepada anak, dan tidak menjadikan pendidikan sebagai ujung pena dalam pembentukkan masa depan anak.
            Berjarak 15, 24 KM dari Kampus IPB Darmaga, kesenjangan idealitas pendidikan dengan kondisi masyarakat desa terlihat. Bersumber dari minimnya kesadaran akan pentingnya pendidikan, putus sekolah pun banyak terjadi. Alih alih ekonomi jadi wajah alasan yang tak bersalah. Tidak sedikit yang harus merasa puas setelah mengenyam bangku SLTA. Bermodalkan pengalaman yang minim, para pemuda dari desa ini mengadu nasibnya di Jakarta. Sebagan besar dianatara mereka bekerja sebagai buruh harian lepas di Pasar Tanah Abang. Sedangkan bagi wanita, bersiap untuk memulai siklus baru dalam hidup mereka : menikah.
            Di sisi lain, pendidikan selalu dikaitkan dengan biaya. Biaya yang terus menerus bertambah besar dengan sejalannya peningkatan taraf pendidikan. Tidak sekedar uang pangkal dan SPP, ongkos kendaraan, jajan harian, buku, alat tulis, seragam, sepatu, dan tas menjadi syarat mutlak bagi orang tua untuk menyediakan keperluan tersebut bila tidak mau pendidikan anak-anak mereka terputus. Pada suatu ketika di Kampung Ciaseupan, Desa Cibitung Kulon, terdapat seorang ibu yang sedang mengandung dan telah memiliki 13 anak. Ia berhadapan dengan masalah biaya pendidikan sekolah anak-anak. Masalahnya, ia memiliki 4 orang anak yang masih bersekolah di tingkat SD. Namun semuanya vakum bersekolah karena tidak mampu memenuhi kebutuhan sekolah anak-anaknya. Ibu dari ketiga belas anak tersebut berkata, “saya tidak bisa beli satu pasang sepatu dan 1 tas. Anak saya yang SD ada 4. Kalau beli satu, harus belikan keempat empatnya. Sedangkan uang kami tidak cukup untuk memenuhinya.” Akhirnya, pendidikan sekolah mereka pun terputus.
Apa gunanya pendidikan, bila bukan untuk memanusiakan manusia. Menempatkan setiap insan pada tempat yang seharusnya. Menjadikan setiap individu kaya akan pengetahuan dan pengalaman, sehingga mendorong terciptanya karakter yang positif. Pendidikan memang membutuhkan biaya. Tidak ada pendidikan yang tidak membutuhkan biaya. Namun, ada yang lebih dibutuhkan oleh pendidikan selain biaya, yaitu kesadaran, kemauan yang kuat, dan semangat yang tinggi dari setiap individu. Tiga poin inilah yang saya dan teman-teman KKN-T Desa Cibitung Kulon sadari. Kami bukan mahasiswa dengan banyak uang atau telah bekerja di sebuah perusahaan ataupun memiliki wiraswasta yang telah sukses, sehingga kami belum mampu untuk mendonasikan uang demi kelanjutan pendidikan anak-anak dengan harapan tidak ada lagi yang putus sekolah di Desa Cibitung Kulon. Namun, kami adalah civitas pendidikan, kami adalah penggerak pendidikan, walaupun kami tidak memiliki uang yang banyak, semangat, kontribusi waktu dan tenaga akan kami curahkan semampu kami. Kami yang berusaha untuk mengenyam pendidikan tinggi ingin juga rasanya menularkan semangat, kemauan, dan kesadaran yang mendalam mengenai pendidikan kepada para orang tua dan anak-anak di desa ini. Sehingga bukan hanya kami yang berpendidikan, tapi lingkungan kami juga dapat merasakan menempuh pendidikan tinggi, efek domino yang positif atas keberadaan kami.
Selain menjalankan program bidang pertanian, peternakan, dan gizi masyarakat, setiap harinya kami aktif untuk melakukan aksi untuk pendidkan. Secara bergantian, kami satu kelompok KKN-T datang ke SD, MI, PAUD, TPA, dan Kelas Terbuka Bahasa Inggris. Di lain waktu, kami pun terlibat secara langsung untuk berdialog dengan masyarakat desa mengenai pendidikan, mendengarkan mereka, memahami posisi dan keadaan mereka, dan memberikan masukan kepada mereka guna membangun apa yang sangat kami harapkan. Peningkatan kesadaran berpendidikan, sehingga akan tumbuh benih benih terbaik bangsa dari desa ini.
 Kami menyadari bahwa dari anak-anaklah bangsa ini kelak akan mempertaruhkan nasibnya. Dari anak-anaklah wajah bangsa masa depan bangsa akan ditentukan. Hanya melalui anak-anaklah investasi terbesar yang mampu dilakukan oleh orang tua untuk memberikan sumbangan yang terbaik bagi agama, negara, dan masyarakat. Karena anak-anak adalah benih. Baik tidaknya benih, bergantung bagaimana ia diproduksi dan diberikan perlakuan. Maka, hanya hanya dengan pendidikan yang terbaiklah, benih-benih ini akan tumbuh menjadi harapan besar masa depan bangsa.
Dulu, saya sangat suka menonton program TV “Jika Aku Menjadi”. Sebuah tayangan pendidikan yang mengajarkan bahwa banyak orang yang tidak lebih beruntung daripada kita di pelosok-pelosok desa. Melalui KKN-T, saya seperti ada di dalam program tersebut.
Suatu ketika saya sedang mengajar pelajaran Bahasa Inggris di kelas 4 MI. Kondisi MI tidaklah sama dengan SD Negeri. Kondisinya apa adanya. Seperti sebuah bangunan tua yang sudah lama belum direnovasi. Saat itu, hujan lebat pun terjadi. Saya yang sedang berada tepat di depan papan tulis sambil memegang buku dan spidol, menjelaskan kepada anak-anak penggunaan to be yang bergantung pada subjeknya. Tiba tiba air pun menetes sedikit demi sedikit dari atap tepat saya berdiri dan jilbab saya pun mulai basah. Tetesan air tidak hanya jatuh pada tempat saya berdiri, beberapa titik di kelas juga menjadi daerah rembesan air. Beberapa buku anak-anak pun ikut basah. Akhirnya tidak hanya meja, bangku, dan lantai yang basah, namun kedua pipi saya pun mulai basah, berlinang air mata. Belum pernah terfikirkan sebelumnya untuk menjadi seorang guru di kondisi sekolah seperti ini. Belum pernah terlintas dalam benak saya bahwa kondisi seperti ini ada di daearah yang tidak terlalu jauh dari institusi pendidikan yang besar.
Singkat cerita, delapan puluh, sembilan puluh kali kami bercerita tentang pendidikan kepada para ibu, beberapa bapak-bapak, guru, pemuda, dan yang utama adalah anak-anak. Kami tidak pernah ingin menyalahkan siapapun, karena mereka pun tidak salah. Mereka yang sekarang mungkin pilihan diri mereka sendiri, mengenyam pendidikan yang tidak tinggi, kesadaran untuk melanjutkan pendidkan yang minim, dan cara berfikir yang selalu menyejajarkan antara pendidikan dan ketidakmampuan untuk mengeluarkan biaya yang besar. Boleh jadi, mereka hanyalah hasil bentukkan dari lingkungan lingkungan mereka yang sebelumya.
Mereka hanya membutuhkan waktu untuk memahami arti penting pendidikan. Belajar dari pengalaman orang tua yang sukses mendidik anak-anak mereka walaupun dengan keterbatasan ekonomi. Mereka hanya butuh waktu untuk memahami arti penting nilai anak-anak mereka di masa depan. Membekalkan anak-anak mereka dengan pendidikan yang terbaik, baik secara formal maupun informal, dari dalam keluarga maupun di luar keluarga. Dan pada akhirnya mereka pun akan menyadari bahwa anak-anak mereka adalah benih-benih terbaik yang akan tumbuh menjadi individu-individu terbaik di masa depan, jika dan hanya jika pendidikan mampu diusahakan dengan sebaik-baiknya.
-----------------
Selesai di tulis 21 Safar 1438 H/ 21 November 2016 pukul 13:17 AM, di atas tempat tidur bertingkat, kasur bawah, kamar 17 lantai 2 APD, Kampus IPB Darmaga, Bogor. Kondisi sekrang sedang mendung, tapi belum hujan. Petir mulai bermain, menabrakkan elektron elektronnya di langit yang warnanya agak keruh. 
Menulis itu seperti menasihati diri sendiri, saya jadi lebih tersadarkan untuk belajar mandiri karena saya sedang menurun akhir-akhir ini, Waktu dan fokus saya sedang terbagi. Semoga tidak tertinggal waktu--dan masih bisa memperbaiki diri.. Doakan mela ya  :)

No comments: