Aksi untuk Pendidikan :
Menanam Benih bagi Masa Depan Bangsa
Menanam Benih bagi Masa Depan Bangsa
Masyarakat
adalah tonggak pembangunan sebuah negeri. Ia adalah cermin identitas negara
yang sesungguhnya. Ia layaknya bagian paling dasar dari kapal besar yang hendak
berlayar di laut lepas. Bila bagian ini dirancang dengan sebaik-baiknya, ia
akan menjadi tiang pancang pembangunan yang kuat. Ia juga dapat menjadi cermin
yang mempelihatkan wajah singa kepada seluruh dunia. Bahkan ia menjadi dasar
untuk mampu menopang tanggungjawab besar Indonesia kelak di masa depan.
Dari tengah-tengah masyarakat inilah,
akan hadir generasi pembesar bangsa. Generasi yang akan memperbaharui warna
pembangunan ekonomi, politik, sosial, budaya, dan pendidikan di negeri ini.
Generasi yang akan menjadi tulang punggung bangsa kelak. Generasi yang akan
menjadi para pemimpin dan pencetak sejarah Indonesia di masa depan. Ialah
mereka, generasi yang sangat berarti untuk diperhatikan : anak-anak.
“Banyak
anak, banyak rezeki,” menjadi pandangan umum yang sudah tidak asing lagi di
telinga kita. Sebagian masyarakat di Indonesia masih memiliki cara berfikir
yang mengarah pada pandangan tersebut. Hal ini mendorong keluarga di Indonesia tidak
khawatir untuk memiliki banyak anak, termasuk pada desa tempat saya dan
teman-teman melakukan pengabdian KKN-T, Desa Cibitung Kulon, Pamijahan,
Kabupaten Bogor. Merupakan fenomena yang dianggap biasa, ketika
perempuan-perempuan melahirkan anak dengan jumlah di atas lima, ketika seorang
anak PAUD sudah memiliki 2-3 adik, dan
ketika orang tua lupa urutan kelahiran anak-anak mereka.
Bukanlah suatu yang salah bila sebagian
masyarakat masih berkutik pada usaha meningkatkan kuantitas anak. Bukan pula
suatu hal yang salah bila mereka memiliki keyakinan bahwa anak adalah pintu
rezeki, semakin banyak anak, semakin banyak pintu rezeki yang terbuka, maka
keluarga akan memiliki peluang yang lebih besar untuk mendapatkan rezeki.
Namun, adalah suatu hal yang disayangkan bila keyakinan terserbut tidak disesuaikan
dengan kemampuan keluarga untuk memenuhi hak-hak anak, tidak diperkuat dengan
upaya meningkatkan kualitas anak, tidak disertai kesadaran untuk memberikan
pengasuhan yang terbaik kepada anak, dan tidak menjadikan pendidikan sebagai ujung
pena dalam pembentukkan masa depan anak.
Berjarak 15, 24 KM dari Kampus IPB
Darmaga, kesenjangan idealitas pendidikan dengan kondisi masyarakat desa
terlihat. Bersumber dari minimnya kesadaran akan pentingnya pendidikan, putus
sekolah pun banyak terjadi. Alih alih ekonomi jadi wajah alasan yang tak
bersalah. Tidak sedikit yang harus merasa puas setelah mengenyam bangku SLTA.
Bermodalkan pengalaman yang minim, para pemuda dari desa ini mengadu nasibnya
di Jakarta. Sebagan besar dianatara mereka bekerja sebagai buruh harian lepas
di Pasar Tanah Abang. Sedangkan bagi wanita, bersiap untuk memulai siklus baru
dalam hidup mereka : menikah.
Di sisi lain, pendidikan selalu
dikaitkan dengan biaya. Biaya yang terus menerus bertambah besar dengan
sejalannya peningkatan taraf pendidikan. Tidak sekedar uang pangkal dan SPP,
ongkos kendaraan, jajan harian, buku, alat tulis, seragam, sepatu, dan tas menjadi
syarat mutlak bagi orang tua untuk menyediakan keperluan tersebut bila tidak
mau pendidikan anak-anak mereka terputus. Pada suatu ketika di Kampung
Ciaseupan, Desa Cibitung Kulon, terdapat seorang ibu yang sedang mengandung dan
telah memiliki 13 anak. Ia berhadapan dengan masalah biaya pendidikan sekolah
anak-anak. Masalahnya, ia memiliki 4 orang anak yang masih bersekolah di
tingkat SD. Namun semuanya vakum bersekolah karena tidak mampu memenuhi kebutuhan
sekolah anak-anaknya. Ibu dari ketiga belas anak tersebut berkata, “saya tidak
bisa beli satu pasang sepatu dan 1 tas. Anak saya yang SD ada 4. Kalau beli
satu, harus belikan keempat empatnya. Sedangkan uang kami tidak cukup untuk
memenuhinya.” Akhirnya, pendidikan sekolah mereka pun terputus.
Apa
gunanya pendidikan, bila bukan untuk memanusiakan manusia. Menempatkan setiap
insan pada tempat yang seharusnya. Menjadikan setiap individu kaya akan
pengetahuan dan pengalaman, sehingga mendorong terciptanya karakter yang
positif. Pendidikan memang membutuhkan biaya. Tidak ada pendidikan yang tidak membutuhkan
biaya. Namun, ada yang lebih dibutuhkan oleh pendidikan selain biaya, yaitu
kesadaran, kemauan yang kuat, dan semangat yang tinggi dari setiap individu.
Tiga poin inilah yang saya dan teman-teman KKN-T Desa Cibitung Kulon sadari.
Kami bukan mahasiswa dengan banyak uang atau telah bekerja di sebuah perusahaan
ataupun memiliki wiraswasta yang telah sukses, sehingga kami belum mampu untuk
mendonasikan uang demi kelanjutan pendidikan anak-anak dengan harapan tidak ada
lagi yang putus sekolah di Desa Cibitung Kulon. Namun, kami adalah civitas
pendidikan, kami adalah penggerak pendidikan, walaupun kami tidak memiliki uang
yang banyak, semangat, kontribusi waktu dan tenaga akan kami curahkan semampu
kami. Kami yang berusaha untuk mengenyam pendidikan tinggi ingin juga rasanya
menularkan semangat, kemauan, dan kesadaran yang mendalam mengenai pendidikan kepada
para orang tua dan anak-anak di desa ini. Sehingga bukan hanya kami yang
berpendidikan, tapi lingkungan kami juga dapat merasakan menempuh pendidikan
tinggi, efek domino yang positif atas keberadaan kami.
Selain
menjalankan program bidang pertanian, peternakan, dan gizi masyarakat, setiap
harinya kami aktif untuk melakukan aksi untuk pendidkan. Secara bergantian,
kami satu kelompok KKN-T datang ke SD, MI, PAUD, TPA, dan Kelas Terbuka Bahasa
Inggris. Di lain waktu, kami pun terlibat secara langsung untuk berdialog
dengan masyarakat desa mengenai pendidikan, mendengarkan mereka, memahami
posisi dan keadaan mereka, dan memberikan masukan kepada mereka guna membangun
apa yang sangat kami harapkan. Peningkatan kesadaran berpendidikan, sehingga
akan tumbuh benih benih terbaik bangsa dari desa ini.
Kami menyadari bahwa dari anak-anaklah bangsa
ini kelak akan mempertaruhkan nasibnya. Dari anak-anaklah wajah bangsa masa
depan bangsa akan ditentukan. Hanya melalui anak-anaklah investasi terbesar
yang mampu dilakukan oleh orang tua untuk memberikan sumbangan yang terbaik
bagi agama, negara, dan masyarakat. Karena
anak-anak adalah benih. Baik tidaknya benih, bergantung bagaimana ia
diproduksi dan diberikan perlakuan. Maka, hanya hanya dengan pendidikan yang
terbaiklah, benih-benih ini akan tumbuh menjadi harapan besar masa depan
bangsa.
Dulu,
saya sangat suka menonton program TV “Jika Aku Menjadi”. Sebuah tayangan pendidikan
yang mengajarkan bahwa banyak orang yang tidak lebih beruntung daripada kita di
pelosok-pelosok desa. Melalui KKN-T, saya seperti ada di dalam program
tersebut.
Suatu
ketika saya sedang mengajar pelajaran Bahasa Inggris di kelas 4 MI. Kondisi MI
tidaklah sama dengan SD Negeri. Kondisinya apa adanya. Seperti sebuah bangunan
tua yang sudah lama belum direnovasi. Saat itu, hujan lebat pun terjadi. Saya
yang sedang berada tepat di depan papan tulis sambil memegang buku dan spidol,
menjelaskan kepada anak-anak penggunaan to
be yang bergantung pada subjeknya. Tiba tiba air pun menetes sedikit demi
sedikit dari atap tepat saya berdiri dan jilbab saya pun mulai basah. Tetesan
air tidak hanya jatuh pada tempat saya berdiri, beberapa titik di kelas juga
menjadi daerah rembesan air. Beberapa
buku anak-anak pun ikut basah. Akhirnya tidak hanya meja, bangku, dan lantai
yang basah, namun kedua pipi saya pun mulai basah, berlinang air mata. Belum
pernah terfikirkan sebelumnya untuk menjadi seorang guru di kondisi sekolah
seperti ini. Belum pernah terlintas dalam benak saya bahwa kondisi seperti ini
ada di daearah yang tidak terlalu jauh dari institusi pendidikan yang besar.
Singkat
cerita, delapan puluh, sembilan puluh kali kami bercerita tentang pendidikan
kepada para ibu, beberapa bapak-bapak, guru, pemuda, dan yang utama adalah
anak-anak. Kami tidak pernah ingin menyalahkan siapapun, karena mereka pun
tidak salah. Mereka yang sekarang mungkin pilihan diri mereka sendiri,
mengenyam pendidikan yang tidak tinggi, kesadaran untuk melanjutkan pendidkan
yang minim, dan cara berfikir yang selalu menyejajarkan antara pendidikan dan
ketidakmampuan untuk mengeluarkan biaya yang besar. Boleh jadi, mereka hanyalah
hasil bentukkan dari lingkungan lingkungan mereka yang sebelumya.
Mereka
hanya membutuhkan waktu untuk memahami arti penting pendidikan. Belajar dari
pengalaman orang tua yang sukses mendidik anak-anak mereka walaupun dengan keterbatasan
ekonomi. Mereka hanya butuh waktu untuk memahami arti penting nilai anak-anak
mereka di masa depan. Membekalkan anak-anak mereka dengan pendidikan yang
terbaik, baik secara formal maupun informal, dari dalam keluarga maupun di luar
keluarga. Dan pada akhirnya mereka pun akan menyadari bahwa anak-anak mereka
adalah benih-benih terbaik yang akan tumbuh menjadi individu-individu terbaik
di masa depan, jika dan hanya jika pendidikan mampu diusahakan dengan sebaik-baiknya.
-----------------
Selesai di tulis 21 Safar 1438 H/ 21 November 2016 pukul 13:17 AM, di atas tempat tidur bertingkat, kasur bawah, kamar 17 lantai 2 APD, Kampus IPB Darmaga, Bogor. Kondisi sekrang sedang mendung, tapi belum hujan. Petir mulai bermain, menabrakkan elektron elektronnya di langit yang warnanya agak keruh.
Menulis itu seperti menasihati diri sendiri, saya jadi lebih tersadarkan untuk belajar mandiri karena saya sedang menurun akhir-akhir ini, Waktu dan fokus saya sedang terbagi. Semoga tidak tertinggal waktu--dan masih bisa memperbaiki diri.. Doakan mela ya :)
No comments:
Post a Comment