Rasulullah SAW merupakan sosok yang sangat cerdas. Mungkin
lebih tepatnya disifati dengan jenius. Kenapa bisa demikian ? Ust. Salahuddin
El Ayyubi pagi ini memaparkan alasan mengenai hal tersebut. Nabi Muhammad memang seorang yang ummi, tidak bisa membaca dan menulis.
Tapi, hal tersebut bukan mengimplikasikan bahwa Nabi Muhammad tidak cerdas.
Pengukuran kecerdasan itu luas bukan ? mencakup banyak dimensi dan sudut
pandang.
Sifat ummi yang disandarkan kepada Rasulullah adalah untuk
menunjukkan kemurnian Al-Qur’an. Bahwa Al-Qur’an bukanlah berasal dari sisi,
pemikiran, kehendak, maupun kemauan Rasulullah. Sungguh Al-Qur’an adalah wahyu
dari Allah. Hal tersebut sebagaimana dipaparkan dalam surat An-Najm (53) : 3-4.
Sebagian orang menyatakan suatu stigma yang kurang tepat
mengenai Rasulullah. Mereka memiliki persepsi bahwa dalam diri Rasulullah, ada
sisi kerasulan dan ada yang tidak. Sehingga, berimplikasi bahwa sebagian
perilaku Rasulullah mendapat wahyu dan bimbingan dari Allah, semetara
sebagiannya yang lain tidak. Ini adalah persepsi yang keliru. Rasulullah lebih
dari sekedar perantara / penyambung lidah atas wahyu dari Allah kepada umat
manusia. Ia adalah pembimbing dan teladan yang terbaik dalam bingkai kerasulan.
Untuk kita semua, kaumnya. Dari orang-orang yang dapat bertemu langsung dengan
beliau hingga orang-orang yang menutup akhir zaman nanti.
Mengenai kecerdasan Rasul, seorang sahabatnya pernah
menyebutkan bahwa Rasulullah adalah orang yang jenius, sehingga menjadi pusat perhatian
orang banyak. Ia tidak hanya cerdas dalam logika berfikirnya, tapi juga cerdas
secara emosi, sehingga lahirlah budi pekerti yang indah darinya.
Jeniusnya Rasulullah pun diakui oleh para musuh yang hidup
di zamannya. Rasulullah pernah mengirimkan orang yang juga cerdas bernama
Uzaifah. Ia dikirim untuk menjadi mata-mata kepada kaum kafir Quraisy. Saat
Uzaifah berada di antara mereka, kaum Quraisy, berkatalah seorang diantara
mereka. “Hati-hati terhadap orang-orang yang ada di samping kalian, boleh jadi
Muhammad mengirimkan utusannya untuk mematai-matai kita. Ia adalah orang yang
cerdas.” (kutipan tersebut disertai improvisasi). Dengan segeralah Uzaifah
langsung menanyakan orang yang berada disebelahnya, agar intriknya tidak
diketahui oleh kaum Quraisy. Bahkan posisi Uzaifah saat itu sangat dekat dengan
Abu Sofyan.
Berbicara soal Rasul/ pemimpin, lebih dari sekedar
pemasalahan untuk “menggordinasikan.” Kepemimpinan adalah masalah keteladanan,
masalah bagaimana seorang pemimpin mampu memberikan contoh yang baiik, mampu
memberikan nilai-nilai yang positif bagi para pengikutnya. Bila kamu ingin
mencari sosok yang terbaik, teladan yang terbaik, sosok yang jenius, arahkanlah
wajah dan hatimu kepada sosok rahmatan lil ‘alamin ini, Rasulullah SAW.
8 Safar 1483 H / 8 November 2016
(Hari pertama kuliah sesi UAS semester 7)
APD, Kampus IPB Darmaga
Selesai ditulis dan diedit pukul 2:14 PM
Referensi : Kajian Rutin Al-Hurriyah 8/10/2016
No comments:
Post a Comment