Featured post

KURANG DARI 50 TAHUN

Aku terbangun di pagi hari Memasuki lentera baru, lensa baru, harapan baru Pelupuk mataku yang lemah begitu berat untuk disingsingkan Te...

Tuesday, 8 November 2016

Kejeniusan Rasulullah SAW

Rasulullah SAW merupakan sosok yang sangat cerdas. Mungkin lebih tepatnya disifati dengan jenius. Kenapa bisa demikian ? Ust. Salahuddin El Ayyubi pagi ini memaparkan alasan mengenai hal tersebut.  Nabi Muhammad memang seorang yang ummi, tidak bisa membaca dan menulis. Tapi, hal tersebut bukan mengimplikasikan bahwa Nabi Muhammad tidak cerdas. Pengukuran kecerdasan itu luas bukan ? mencakup banyak dimensi dan sudut pandang.

Sifat ummi yang disandarkan kepada Rasulullah adalah untuk menunjukkan kemurnian Al-Qur’an. Bahwa Al-Qur’an bukanlah berasal dari sisi, pemikiran, kehendak, maupun kemauan Rasulullah. Sungguh Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah. Hal tersebut sebagaimana dipaparkan dalam surat An-Najm (53) : 3-4.

Sebagian orang menyatakan suatu stigma yang kurang tepat mengenai Rasulullah. Mereka memiliki persepsi bahwa dalam diri Rasulullah, ada sisi kerasulan dan ada yang tidak. Sehingga, berimplikasi bahwa sebagian perilaku Rasulullah mendapat wahyu dan bimbingan dari Allah, semetara sebagiannya yang lain tidak. Ini adalah persepsi yang keliru. Rasulullah lebih dari sekedar perantara / penyambung lidah atas wahyu dari Allah kepada umat manusia. Ia adalah pembimbing dan teladan yang terbaik dalam bingkai kerasulan. Untuk kita semua, kaumnya. Dari orang-orang yang dapat bertemu langsung dengan beliau hingga orang-orang yang menutup akhir zaman nanti.

Mengenai kecerdasan Rasul, seorang sahabatnya pernah menyebutkan bahwa Rasulullah adalah orang yang jenius, sehingga menjadi pusat perhatian orang banyak. Ia tidak hanya cerdas dalam logika berfikirnya, tapi juga cerdas secara emosi, sehingga lahirlah budi pekerti yang indah darinya.

Jeniusnya Rasulullah pun diakui oleh para musuh yang hidup di zamannya. Rasulullah pernah mengirimkan orang yang juga cerdas bernama Uzaifah. Ia dikirim untuk menjadi mata-mata kepada kaum kafir Quraisy. Saat Uzaifah berada di antara mereka, kaum Quraisy, berkatalah seorang diantara mereka. “Hati-hati terhadap orang-orang yang ada di samping kalian, boleh jadi Muhammad mengirimkan utusannya untuk mematai-matai kita. Ia adalah orang yang cerdas.” (kutipan tersebut disertai improvisasi). Dengan segeralah Uzaifah langsung menanyakan orang yang berada disebelahnya, agar intriknya tidak diketahui oleh kaum Quraisy. Bahkan posisi Uzaifah saat itu sangat dekat dengan Abu Sofyan.

Berbicara soal Rasul/ pemimpin, lebih dari sekedar pemasalahan untuk “menggordinasikan.” Kepemimpinan adalah masalah keteladanan, masalah bagaimana seorang pemimpin mampu memberikan contoh yang baiik, mampu memberikan nilai-nilai yang positif bagi para pengikutnya. Bila kamu ingin mencari sosok yang terbaik, teladan yang terbaik, sosok yang jenius, arahkanlah wajah dan hatimu kepada sosok rahmatan lil ‘alamin ini, Rasulullah SAW.

8 Safar 1483 H / 8 November 2016
(Hari pertama kuliah sesi UAS semester 7)
APD, Kampus IPB Darmaga
Selesai ditulis dan diedit pukul 2:14 PM

Referensi : Kajian Rutin Al-Hurriyah 8/10/2016

No comments: