Pernah
saya mendengar bahwa Islam adalah agama yang menyeluruh. Pernah juga saya mendengar
bahwa islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah penyempurna dari apa yang
telah ada sebelumnya. Dua pernyataan tersebut menunjukkan "jati dirinya"
di negeri matahari, Jepang. Agustus-September 2016 lalu menjadi tanggal yang
bersejarah untuk mendapat kesempatan “belajar ” disana. Lebih dari sekedar menjadi
negara tujuan kegiatan pertukaran mahasiswa, ternyata Jepang memberikan banyak
arti dalam memperteguh keimanan kepada agama Islam.
Berbeda
situasi, berbeda lingkungan, dan berbeda orang orang yang dihadapi. Tiga
karakater yang menggambarkan keadaan di kota Seiyo, Jepang. Tidak terdengar
alunan adzan di sana. Tidak pula mudah untuk menemukan masjid. Shinto dan Budha
menjadi mayoritas kepercayaan. Alam ditempatkan sebagai sentra kehidupan. Layaknya
mahkluk hidup, alam pun bisa merasakan apa yang kita perbuat terhadapnya. Kehidupan
seseorang akan baik, bila ia berbuat baik kepada alam. Begitu pun sebaliknya, mereka
percaya bahwa orang-orang yang merusak alam, hidup mereka tidak akan baik.
Setitik
demi setitik, sedikit demi sedikit, ajaran Shinto mulai membuka bukunya. Dialog
kecil kecilan dan pertanyaan spontanitas kepada teman mahasiswa Jepang, jadi
referensi untuk mengetahuinya lebih dalam. Tidak ada kesalahan bukan untuk
mengetahui dan memahami bagaimana orang non muslim memilih agamanya.
Menganalisa bagaimana cara mereka menempatkan tuhan dalam kehidupannya. Serta
membandingkannya dengan apa yang selama ini ada dalam kepercayaan saya, Islam.
Dalam
kepercayaan Shinto, setiap tempat memiliki Tuhan. Batu ada Tuhannya tersendiri.
Begitu pula pada gunung, jalan, sungai, sawah, laut, hutan, dan lainnya. Tidak
diperbolehkan untuk melakukan perbuatan yang merusak disana. Bila kita berbuat demikian,
maka Tuhan akan marah dan alam pun akan bereaksi yang buruk pula pada pelakunya.
Inilah yang menurut saya menjadi satu landasan utama mengapa Jepang sangat
memelihara alamnya. Sampah yang berserakan tidak ada, hampir sempurna tertata
rapih. Mungkin dua tiga sampah ada, tapi sangat minim dan agak jarang ditemui. Sungai
yang masih terlihat asri, walaupun aroma kota sudah menjadi gaya hidup penduduknya.
Kejernihan airnya membuat para pejalan kaki dapat melihat tetumbuhan
didalamnya. Pun tidak sungkan bila ingin membasahi telapak tangan dengan airnya.
Manusia dan alam begitu hidup seimbang. Masyarakat Jepang menjaga alam dan alam
pun menjadi sangat bersahabat dengan mereka.
Selain
itu, tempat beribadah kepercayaan shinto menjadi salah satu kunjungan di Jepang.
Sebenarnya tidak ada dalam list kegiatan. Kunjungan ini memanfaatkan waktu pagi
sebelum beraktivitas. Melihat tata cara mereka berdoa dan melihat bagaimana
menempatkan Tuhan ketika mereka beribadah. Dimulai dengan membersihkan tangan
dan membasuh wajah, ibadah mereka pun dilanjutkan dengan pemberiaan salam saat
memasuki tempat ibadah. Menggerak-gerakan lonceng wujud penghormatan kepada Tuhan
di dalam tempat ibadah. Konon yang mereka sembah di dalam tempat ibadah
tersebut adalah orang-orang zaman dahulu yang sangat berkiprah bagi masyarakat.
Pada akhirnya, mereka meninggal dunia dan menjadi pemujaan bagi mereka,
orang-orang yang datang kemudian.
Perbedaan
adalah pembelajaran. Perbedaan adalah motif motif unik yang ada pada pakaian
masyarakat. Perbedaan adalah sisi untuk
mengerti arti yang tersirat. Dari sinilah Islam lebih kuat dalam mengakar di
sanubari. Dari sinilah saya menyadari, bahwa Islam adalah "bila
sempurnanya" kepercayaan Shinto. Apa yang ada dalam kepercayaan Shinto,
sungguh itu pun ada di dalam Islam, bahkan lebih sempurna. Pola dalam kepercayaan
Shinto dan Islam tidak jauh berbeda. Mengapa demikian?
I
slam
meyakini bahwa Allah adalah satu satunya Tuhan. Dimana, Dia memiliki banyak
malaikat yang bertugas untuk menjaga bumi ini. Bukankah pada setiap air hujan
yang turun, disertai oleh malaikat. Bukankah pada setiap tempat ada yang
menjaga dan mengawasi kita. Bahkan lebih dari itu, penjaganya ada di sisi kanan
dan kiri setiap manusia. Segala kebaikan dan keburukan akan jadi penghuni kitab
perbuatan kita. Baik buruknya perbuatan kita, dunia dan akhirat akan menjadi
saksinya. Allah akan menampakkan sebagian atau seluruh perbuatan kita saat ini
dan nanti. Begitu pun dalam kepercayaan Shinto seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya. Namun, dalam Islam, itu jauh lebih sempurna.
Kemudian,
kita mengenal adanya wudhu, taharah, membersihkan. Saya pun kaget mengetahui
bahwa mereka pun berwudhu sebelum mereka "bertemu" dengan Tuhannya
dalam ibadah mereka. Tangan dan wajah menjadi "bersih" untuk mengahadapkan
wajah kepada Yang Maha Tinggi. Shinto mengajarkan untuk membersihkan diri
sebelum beribadah. Bagaimana dengan Islam yang dibawa sebagai penyempurna ini.
Minimal 5 kali dalam sehari, air dibasuhkan pada telapak tangan, mulut dan lubang
hidung, wajah, tangan hingga ke siku, kepala, dan terakhir kaki.
Agama
Islam sesungguhnya mengajarkan kebersihan yang lebih sempurna daripada
kepercayaan Shinto. Betapa hebatnya Islam. Ini yang membuat saya yakin, bahwa
kemampuan manusia itu terbatas, seperti halnya kepercayaan shinto yang berasal
dari pemikiran manusia. Tidak ada yang mampu menembus batas pemikiran langit,
kecuali pemilik langit itu sendiri. Tidak ada yang mampu untuk mengadakan taharah
sesempurna itu, kecuali pengadaan oleh pemilik alam semesta ini, Allah SWT.
Mulai ditulis
bulan November dan selesai ditulis 26 Desember 2016 11:53 PM
Sebenarnya
tulisan ini adalah tulisan kedua yang mela kirimkan ke harian cetak, tapi masih
gagal wkwk, engga apa apa, nanti akan ada waktunya InsyaAllah.
Dan
baru kepikiran buat diposting di blog akhir akhir ini
Kalau ada kata kata yang kurang tepat, boleh kiranya diberikan masukan, karena sedikitnya pengetahuan yang mela punya. Terima kasih :)
No comments:
Post a Comment