Featured post

KURANG DARI 50 TAHUN

Aku terbangun di pagi hari Memasuki lentera baru, lensa baru, harapan baru Pelupuk mataku yang lemah begitu berat untuk disingsingkan Te...

Friday, 11 November 2016

CERPEN 1 : LENSA YANG HILANG

NASKAH CERPEN
“LENSA YANG HILANG”
Bagaimana bila darahmu adalah aliran benih-benih jiwa pengabdian ? Menjalarkan rasa ingin berbagi kepada masyarakat dari setiap sendi-sendi tubuhmu ? Pastilah seluruh waktu yang ada, kau genggam erat untuk mampu menerbitkan alunan senyum di wajah-wajah masyarakat. Pastilah jalur perjalananmu akan menyita seluruh degupan jantung dan daya fikiran untuk mampu belajar mencurahkan. Mencurahkan rasa untuk mengabdi: memperbaiki apa yang telah ada serta membangun apa yang belum terwujud di tengah-tengah masyarakat. Bukan tanpa alasan dan sebab, melainkan rasa tanggung jawab dan cita-cita yang dijunjung tinggi untuk memperindah tatanan masyarakat. Mendidik generasi harapan negeri. Menumbuhkan tunas-tunas wajah bangsa di masa depan. Di masa depan. Kelak. Memperindah mereka, untuk menjadi tonggak besar sejarah Indonesia. Memperindah mereka, untuk menjadi tokoh besar dunia. Melalui apa ? Pendidikan ! Melalui apa ? Aroma aklak yang sejati !
Negeriku namanya Indonesia, negeri seribu bahasa dan budaya. Negeri berwujud garuda dengan jahitan titel “Bhineka Tunggal Ika” di dadanya. Negeri yang berani, punya tekad hebat dan semangat yang kuat, merdeka, dan mampu melibas segala antek-antek debu kotor di sekitarnya. Perbedaan ras, suku, dan agama terbalut dalam harmonisasi yang maha mempesona di negeri khatulistiwa ini. Jalinan tali persaudaraan terikat kuat dengan keutuhan batin satu dengan yang lainnya saling merekat sempurna. Serta romansa kedamaian yang tersambung apik dalam ikatan kebersamaan.

Bangsaku namanya Indonesia, bangsa paling ramah seantero dunia. Bangsa paling murah senyum sejagat alam semesta. Siapa berani tanding keelokan senyumnya ? Pastilah tiada dua. Lebih baik minggir sebelum kalah adu dengan pesona titian surgawi yang dimiliki bangsaku ini. Bahkan orang sebrang pun terpeleset rasa iri dan luka cemburu karena mereka tahu bangsaku diciptakan saat Tuhan sedang menenun senyum kebahagiaan-Nya. Dimana derajat keindahnya lebih dari malihgai kilauan mutiara di dasar lautan terdalam--yang berkas cahaya pun malu untuk menyapanya.

Kisah ini pun bermula saat kerumunan awan yang saling berkejaran menemami tapakan kaki perempuan berjilbab merah muda. Perempuan cantik nan ayu, wajah asli Indonesia. Terlihat natural khas bumi khatulistiwa. Berpadukan baju putih hingga lutut dan disempurnakan dengan juluran rok batik berwarna merah yang bermegaran. Bila menuruni anak-anak tangga, persis seperti princess di kerajaan dunia khalayan anak-anak. Roknya teruntai pada anak-anak tangga sebelumnya, sedangkan kaki kanannya sudah melangkah maju terlebih dahulu. Bila digunakan berlari, akan menjadi bermegaran bagai bunga kamboja merah bermotif batik dengan kelopak yang terbalik.

Bentuk mata almond eyes shape yang menawan, menemani kejernihan hitam lembam pada bola matanya. Hampir-hampir terlihat mengagumkan.bagi siapa pun yang memandangnya. Tajam pangkal atas hidungnya, penghias keelokan rupa perempuan ini. Pipinya yang bergemul saat tersenyum, merekah indah sempurna bak bunga anggrek merah di taman Kledokan di Sleman, Yogyakarta. Dagunya yang agak panjang mengikuti pola wajahnya, sumber kesempurnaan pesona tiada tara. Ayu. Satu kata yang akan mampir ke kerak kepalamu seketika berpapasan  dengan perempuan berdarah jawa ini.

Di desa yang bernama Cibitung Kulon, ia mengabdi untuk negeri, untuk Indonesia, untuk pendidikan anak-anak bangsa. Rasa juangnya melekat dengan hebat di kedalaman jiwa nasionalisnya. Kemudian rasa tersebut diikat kuat dalam hati yang selalu mengibarkan dendangan merah putih. Tak sedikit keringat yang membalur di kening dan pipi untuk mewarnai karakter anak-anak di sekitarnya. Menembarkan api semangat belajar yang tak ingin padam walau hujan deras silih berganti untuk menjegatnya keluar dari rumah. Menggoreskan tinta emas budi pekerti walau terik matahari tak surut memancarkan rasa panas di ubun-ubun kepalanya. Untuk apa ? Membangun mental anak bangsa yang hebat.

Setiap pagi langkahnya selalu berbaitkan senandung pengabdian. Mengantarkannya ke tanah ilmu, buku, dan pensil, Madrasah Ibtidaiyyah (MI) namanya. Lalu, siang hari saat mentari mulai berada di pucuk lentera, saat panas mulai mengikis pundi-pundi tenaganya, dan saat udara meniupkan embun-embun kantuk di pelupuk mata banyak orang, ia bergegas pergi menuju saung bambu di pinggir empang. Empang milik Haji Engkos dipertigaan jalan depan gang tikus. Ia mengajarkan Bahasa Inggris untuk anak-anak desa dan membuka pertemuannya dengan kalimat, “Assalamu’alaikum, Good afternoon anak-anak ! How are you today ? .” Sore hari bersama dengan sahabat-sahabatnya, ia mengikatkan hati, jiwa, dan loyalitasnya untuk kembali mengajarkan sedikit tinta-tinta ilmu dan senandung doa di Taman Pengajian Al-Qur’an (TPA).

Terlepas dari rutinintasnya, lukisan senyum selalu ia bagikan saat bermain bersama kerumunan anak-anak. Jentik-jentik perjuangan ini tak khayal dan tak bukan, selain untuk membentuk wajah pendidikan bangsa indonesia di masa yang akan datang. Wajah dengan karakter khas yang berbalut kedalaman moral dan keindahan akhlaqul karimah. Akhlak yang baik. Sebaik-baik akhlak dari miliaran manusia yang pernah dan sedang bermukim di bumi ini. Visinya jauh menatap ke depan, bagai jalan lurus yang tak berbelok sedikit pun, lebih mantap garis pinggirnya daripada tol Cikopo-Palimanan sekalipun. Matanya penuh tinta optimis, memandang wajah anak-anak Cibitung Kulon menjadi tokoh-tokoh besar Indonesia kelak. Semangatnya ? Tak usah ditanya. Bahkan peluh sakit pun ia bantai tiada ampun. Virus dan bakteri penyakit tak berani untuk singgah ke tubuhnya, Walaupun hanya lewat sebentar
.
Rum, bade kamana ? ” geliat tanya seorang perempuan berkerudung hitam yang berlari kearahnya dengan aksen Bahasa Sunda.

Bade ka madrasah li !” Jawabnya di pinggir jalan yang yang agak berliku dengan beberapa orang desa yang sedang berlalu lalang.

Mau mengajar pelajaran sejarah di kelas 4 ?

Iya li, betul, mau ngajar sejarah, mau bangun wajah peradaban bangsa di Cibitung Kulon ! ” jawabnya dengan nada semangat dan mimik wajah penuh jeratan optimis kepada Lili Nurmali yang kini berada dihadapannya--mengenakan baju kurung muslimah berwarna biru dengan balutan jilbab hitam panjang.

Rum” begitulah ia di panggil oleh sahabat-sahabatnya. Seorang perempuan idealis yang punya mimpi seperti indahnya Raja Ampat di bumi timur Indonesia. Merah darahnya perlambang tanda juang yang terus mengalir tiada henti. Putih bersih hatinya perlambang ketulusan bakti pada negeri yang tiada henti. Ratna Ardiningrum nama lengkapnya, seorang mahasiswa cerdas asal perguruan tinggi ternama di Indonesia. Kecerdasan yang melekat selalu ia junjung bagai bulir-bulir padi yang menguning di sawah. Semakin berisi, semakin teduhlah hatinya. Siapa yang mengenalnya, kan tahu betapa menawannya tata bahasa dan sopan santun yang dilakunya. Kelembuatan suaranya mampu mengalunkan harmoni kedamaian bagi siapa saja yang bercengkrama dengannya.

Assalamu’alaikum semuanya, selamat pagi,” sambut Rum memasuki kelas sambil menaikkan tulang pipi dan melebarkan kedua lapis bibir merah muda pada wajahnya. Manis merekah senyumnya.

Ada kak Rum, ada kak Rum ! ” teriak salah satu anak kelas 4 di Madrasah Ibtidaiyyah Rhadatul Wildan, Desa Cibitung Kulon.

Anak-anak pun lari dengan semangat, menduduki bangkunya masing-masing. Dengan serempak mereka menjawab, “Wa’alaikumsalam kak Rum.

Sudah siap kita untuk membangun peradaban hari ini ?” Puluhan suara cempreng khas anak-anak terbalut menjadi satu kesatuan dan mengatakan “Kami siap kak Rum !,”

Apa ? Belum siap ?,” imbangnya menyahut anak-anak dengan candaan yang hendak menyulutkan api semangat dengan matanya yang diekspresikan dengan penasaran dan bibirnya yang di-pose-kan dengan senyuman hangat hingga dua gigi serinya terlihat.

Siap kakak !” Jawaban yang lebih lantang dari anak-anak menderu seisi kelas.

Baiklah, hari ini kak Rum akan mengajarkan tentang perjuangan seorang pahlawan kita yang telah memberikan hidupnya untuk pendidikan Indonesia. Beliau adalah tokoh yang dikenal dengan Bapak Pendidikan Nasional. Ada yang tahu siapakah nama beliau ?”

Aku tahu kak, Ki Hadjar Dewantara,” jawab Aisyah, anak paling pandai di kelas 4 yang setiap hari selalu duduk di bangku baris ketiga bersama Najwa. Ia mengenakan jilbab putih bergo dan seragam lengan panjang putih lengkap dengan rok merah panjang khas sekolah dasar bernuansa islami.

Baaaaa.. gus Aisyah ! Good job !” jawab Rum dengan respon positif sambil menunjukkan  jempol tangannya untuk memuji setiap tidakan baik bagi siapa saja dari anak-anak yang melakukan perbuatan baik, berani menjawab, dan prestatif.

Rum kemudian menambahkan dengan penjelasan yang runtun, kata per katanya mampu ia jabarkan dengan perlahan dan jelas. Ia berharap anak-anak akan mengerti apa yang ia sampaikan. Buahnya adalah percikan api semangat untuk belajar lebih giat, rajin, dan tekun belajar. Itulah yang ia inginkan dari anak-anak. Itulah rasa yang ia harapkan hadir dalam benak anak-anak. Kelak mimpi besar untuk melihat anak-anak Cibitung Kulon menjadi tokoh-tokoh besar Indonesia, seperti buah yang ranum saat tiba masa panennya. Di masa depan. Semoga. Aamiin.

Ia pun mulai menjelaskan dengan pembawaannya yang lembut. Tapi dengan balutan dan desakan semanagat dari pangkal ulu hatinya. Menyiaratkan rasa sabar dalam belajar bersama anak-anak. 

Raden Mas Soewardi Soeryaningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara adalah teladan untuk kita anak-anak Indonesia. Semangat perjuangannya tidak gentar sedikit pun. Sangat berani. Berani menghadapi penjajah Belanda dan Jepang demi menyelamatkan masa depan pendidikan anak-anak Indonesia. Ia berjuang untuk kalian, kakak, dan seluruh orang-orang Indonesia hingga sekarang, kita semua bisa belajar dengan merdeka, tidak diganggu musuh, penjajah, tidak ada bom, apalagi letupan suara meriam. Kini kita bisa belajar dengan suasana yang tenang.

Bapak Pendidikan Nasional kita ini mendirikan Sekolah Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922. Terbuka bagi siapa saja orang-orang Indonesia yang ingin belajar dengan sungguh-sungguh saat zaman penjajahan Belanda. Walaupun, bambu runcing ada dalam genggaman tangan kiri untuk siap siaga menghadapi musuh. Untuk berani mengahadang lawan kapan saja musuh titiba datang menyerang. Tapi, tangan kanannya memegang erat pena dengan api semangat yang selalu menyalah untuk belajar. Mereka menulis pada kertas-kertas yang warnanya kuning pucat. Sebagian lagi berwarna cokelat kumal. Tanda kertas sudah tua, sudah lama, tidak baru lagi. Tidak putih bersih seperti kertas pada buku tulis yang kalian punya, tidak rapi seperti buku-buku kalian diatas meja. Tapi, kemauan mereka untuk belajar tidak kusam, kumal, apalagi lecek.

Kalian semua harus meneladani orang-orang yang punya semangat tinggi untuk belajar. Seperti mereka para pejuang Indonesia yang tetap mau belajar di masa kejamnya penjajahan. Sadis. Bila tuan-tuan penjajah tahu, senjata api pun mereka letuskan di udara. Tepat mengenai para pendahulu kalian. Simbaran darah akan mengalir dengan segarnya. Mati. Mereka ditembak bila penjajah tahu bahwa mereka sedang belajar. Penjajah tak mau kita pandai, tidak boleh orang indonesia jadi cerdas.

Tak kenal malas, orang-orang Indonesia dulu. Hanya ingin merdeka atau mati. Merdeka dari penjajah, merdeka dari kebodohan. Setiap ilmu yang mereka terima, mereka ikat kuat dalam ingatannya. Mereka ingin Indonesia menjadi bangsa yang cerdas, yang tidak kalah dengan penjajah. Bangsa yang ditakuti oleh negara lain. Yang menjadi pemandu lalu lintas dunia. Yang menjadi pusat dari segala sumber. Yang menjadi inti kekuatan nomor satu di dunia.

Berarti orang-orang Indonesia dulu sangat suka belajar yah kak ?,” tanya Baihaqi yang duduk dibangku paling pojok kiri barisan pertama dengan nada polosnya.

Belum selesai Rum membuka kelopak bibirnya untuk menjawab, tiba-tiba....

Tapi di Indonesia sekarang banyak yang males, engga peduli sama pendidikan yah kak Rum. Banyak yang engga punya pekerjaan, jadi pengemis, jadi pengamen di jalan,” tukas Silpi yang seolah menjawab pertanyaan Baihaqi dengan ritme bicara khas anak-anak yang spontanitas. Berbicara atas fenomena yang ia lihat sehari-hari—saat pulang sekolah melewati Pasar Jumat.

Rum pun menjawabnya dengan deru semangat dan penuh kehati-hatian. Hati-hati karena takut salah ucap. Ia sadar bahwa ini adalah titik kritis. Titik puncak untuk memasukkan nasihat yang membangun. Saat yang tepat untuk mewarnai karakter anak-anak, seperti yang ia dambakan. Seperti yang ia cita-citakan. Momen untuk membangun anak bangsa punya mentalitas yang hebat. Waktu untuk membuka cakrawala anak-anak tentang kita. Kita : bangsa Indonesia di mata dunia.

 Indonesia dulu dikenal sebagai bangsa yang cerdas, yang giat belajar. Hingga banyak orang-orang asing yang datang untuk belajar di negeri kita. Mereka sangat suka dengan Indonesia. Kata mereka, kita adalah bangsa yang menjunjung tinggi pendidikan dan persaudaraan. Kurikulum pendidikan kita jadi percontohan untuk negara mereka. Mereka mengenal kita sebagai bangsa pekerja keras. Berjuang dengan hebat menghadapi musuh tanpa merasa malas untuk menimba ilmu. Rajin. Tidak hanya itu, dunia pun mengakui bahwa kita adalah bangsa yang paling ramah. Yang paling murah senyum, Bangsa yang paling indah tata karma dan akhlaknya.

Tapi kini, kita terperosok dalam jurang keterpurukan. Semangat Ki Hadjar Dewantara hilang dari jiwa orang-orang Indonesia. Kemana semangat mereka ? Kemana api perjuangan yang dulu pernah menyala-nyala dengan hebat ? Kemana mereka semua yang tetap mau belajar walaupun bambu runcing di  kiri dan pena di kanan ?

Mereka semua kini hanya menjadi museum peradaban Indonesia di masa lampau. Mereka kini hanya menjadi gujarat-gujarat tinta sejarah yang tidak lagi dilirik manusia modern Indonesia. Mereka kini hanya angan-angan yang datang dan kemudian singgah tanpa permisi di dalam pikiran orang-orang Indonesia. Mereka tidak lagi mengenal tokoh-tokoh Indonesia, pahlawan Indonesia, orang-orang yang berjuang seluruh tumpah darah, jiwa dan raga, harkat dan martabat demi Indonesia. Bahkan sosok idola mereka, bukan lagi orang-orang yang berjasa untuk Indonesia, bangsa kita.”

Dengan hati yang berbalut aroma nasionalisnya, ingin Rum menangis tentang bangsanya. Memberontak dalam penjara perasaannya. Seolah menyiku ke kanan dan kiri agar besi di tangannya terlepas. Dengan sekuat tenaga. Dengan lumuran keringat dan desah nafasnya yang dengan cepat mengembang-ngempiskan relung dadanya. Berbicara pada riak-riak air di dalam hatinya. Sedih atas noda hitam yang kini membekas di wajah ibu pertiwi. Seolah orang-orang modern kini lebih suka Justin Timberlake, Christiano Ronaldo, Katy Perry, ataupun Jennifer Lopez daripada pahlawan-pahlawannya sendiri. Sedangkan tokoh-tokoh yang terluka, terhasut, terpojokkan, bahkan banyak yang terbunuh untuk membela kemerdekaan yang bisa kita rasakan hari ini terlupakan. Mereka yang berani merampas proklamasi yang tak kunjung diberikan oleh para penjajah. Penjajah: diktator ulung negeri jauh yang silih berganti membuat derita di negeri ini.

Kini banyak orang Indonesia yang telah lupa identitas nasionalisnya. Mereka telah lupa identitas juang dari darah para pendahulunya. Mereka lupa dengan dirinya sendiri. Bagai lensa copot dari sebuah kacamata, lensanya hilang. Bisa tetap digunakan, tapi tak bermakna. Kelihatannya buram. Framenya tetap ada, tapi lensanya hilang. Raganya tetap ada, tapi jiwa nasionalisnya hilang.

Bahkan permusuhan dan perselisihan menjadi ujung tombak kehidupan masyarakat yang kini sering terjadi. Kemiskinan, pengangguran, orang-orang yang tersingkap di pinggir-pinggir jalan menjadi fenomena yang akrab terjadi di negeri yang katanya surga dunia ini. Justru kini ia menjadi surganya para koruptor kelas kakap. Pahlawan berwajah tikus yang sering diringkus oleh KPK. Sedih buka main. Pilu, amat menyakiti. Luka, tersayat hati merasakannya.

Semangat juang seperti mati suri di benak orang-orang Indonesia. Jiwa mereka tak lagi punya tekat yang hebat untuk berjuang. Tak punya lagi mental seperti baja. Belajar pun hanya sebatas seperti ke pantai, tidak tahu indah dan kayanya kerajaan laut. Tidak tahu dan tidak punya rasa keinginantahuan untuk bisa mengetahuinya. Dimana potret Ki Hadjar Dewantara, Bung Karno, Buya Hamka, Oemar Said Tjokroaminoto, E.F.E. Douwes Dekker Danudirjdo Setiabudi, Hadji Agus Salim, Abdoel Muis, Soerjopranoto, dan Achmad Dachlan ? Lensa yang dulu begitu bersih cemerlang, kini tersapu zaman. Hilang entah kemana.

Hari itu, tepat hari ke-365 ia mengabdi di Desa Cibitung Kulon, desa indah dengan lukisan pegunungan yang sangat mempesona. Seperti itulah hari demi harinya ia rajut di desa tersebut. Air-air terjun di tebing-tebing jalan bagai aksesoris yang mampu menyempurnakan karya Tuhan di sudut kabupaten Bogor ini. Caklawala keindahan Desa Cibitung Kulon terus berdiri kokoh di kedalaman pikirannya. Namun, waktu pun harus pamit meninggalkan hati yang terikat kuat di Desa Cibitung Kulon ini. Meninggalkan hausnya berbagi semangat kepada wajah-wajah generasi penerus bangsa, wajah-wajah tonggak sejarah besar Indonesia di masa depan, tokoh besar dunia asal Indonesia, anak-anak Desa Cibitung Kulon.

Sebelum berakhir waktu baktinya. Waktu untuk mengabdinya. Waktu untuk belajar, bermain, dan bercengkrama dan dengan anak-anak. Waktu untuk menebarkan senyum dan semangat. Waktu untuk menjadi sabahat bagi anak-anak. Waktu untuk menyapa orang-orang yang letih sepulang dari sawah. Dan waktu untuk mencurahkan ketulusan hatinya bagi masyarakat di Desa Cibitung Kulon. Ia pun menyepi—sendiri. Sepulang mengajar di TPA, Ia mampir ke pinggir sawah, duduk di pinggir terasering yang paling atas.

Lanskap panorama Cibitung Kulon dengan anggun menampakkan dirinya kehadapan Rum. Matahari sore yang berwarna oranye dengan iringan awan-awan yang menutupi sebagian permukaannya seolah memberikan senyum yang tidak rela kepada Rum. Tidak rela untuk ditinggal pergi oleh aliran darah yang penuh semangat juang dan kehangatan senyumannya itu. Sawah-sawah yang menghampar hijau seolah menahan dirinya untuk berlama-lama tetap berada di desa ini. Membuat ia nyaman untuk terus membuka mode on pada matanya, memandangi, sambil membayangkan wajah anak-anak saat sedang belajar, bertanya padanya, menyapanya, tersenyum padanya, hingga satu dua hingga puluhan air mata mulai membasahi pipinya. Ia menangis. Menangis haru karena hatinya telah tertambat di desa ini. Ia ingin pergi tapi rasa baktinya menuntut waktu yang lebih lama untuk tetap berada di sini.

Rum pun mulai membuka tas ransel hitamnya, mengambil buku catatan kecil-tebal dengan cover motif batik coklat-hitam khas Kalimantan Selatan. Membukanya ke halaman kosong yang nampak kertas kosong dengan banyak garis. Kemudian, tempat pensilnya yang terbuat dari kain bermotif garis horizontal tebal biru-putih pun ia buka untuk mengambil pena. Pena berwana hitam dengan bertuliskan Standard AE 7 Alfa Tip 0,5. Huruf demi huruf, kata demi kata, baris demi baris, bait demi bait, ia susun menjadi karya sederhana yang menjadi cermin perasaannya. Perasaan beratnya untuk pergi meninggalkan desa ini. Perasaan beratnya untuk tidak bisa lagi mengajar dan menebarkan semangat ke wajah anak-anak. Wajah yang ia cintai. Wajah ia harapkan jadi peradaban emas Indonesia di masa yang akan datang.

Mengapa aku harus ada di sini
Ditengah sawah yang tak berbicara
Di tengah air yang mengalir
Tanpa mampu ia menjelaskan
Kenapa ia harus mengalir

Harusnya aku ada di sini lebih lama lagi
Harusnya aku mengajar lebih sering lagi
Harusnya aku mengabdi lebih tulus lagi
Harusnya aku menularkan semangat juang lebih berapi-api lagi

Hariku lebih sedikit dari hitungan jari di tempat ini
Waktu baktiku telah usai
Derap langkahku segera pergi
Dari indahnya mahligai desa ini

Tuhan, aku ingin menjadi pengabdimu
Tuhan, aku ingin membangun masyarakat di sini
Tuhan, aku mencintai mereka
Mereka, masyarakatku
Mereka adalah diriku

Terkadang aku ingin menjadi mati rasa untuk merasakan
Merasakan keterbelakangan masyarakatku
Merasakan pudarnya lensa perjuangan para pahlawan
Merasakan redupnya semangat yang dulu pernah membuncah
Saat Indonesia hendak disapu bersih oleh koloni

Aku tak mau
Aku tak sanggup
Sungguh mereka adalah detak jantungku
Sungguh mereka adalah aliran darahku
Sungguh mereka adalah saraf-saraf tubuhku

Aku akan pergi
Tapi hatiku telah tertanam di sini
Di hati hati masyarakat
Dan geliat canda tawa wajah peradaban bangsa,
Anak-anak desa Cibitung Kulon

Laju detik pada jam dinding terus menderu tanpa henti. Tanpa bisa menghentikan aliran waktu yang membawa Rum berada pada akhir waktu pengabdiannya. Waktu baktinya di Desa Cibitung Kulon. Satu tahun telah berlalu, Perjalanan yang penuh rasa juang, semangat, ketulusan, dan senyuman asli darah jawa ini terukir dengan indah di desa itu.

Lensa yang hilang berharap akan kembali lagi. Berwujud jiwa nasionalis dan pengabdian untuk negeri. Menghidupkan kembali benih-benih perjuangan pahlawan. Menghidupkan kembali detak nadi Ki Hadjar Dewantara, Bung Karno, Buya Hamka, Oemar Said Tjokroaminoto, E.F.E. Douwes Dekker Danudirjdo Setiabudi, Hadji Agus Salim, Abdoel Muis, Soerjopranoto, dan Achmad Dachlan.

----------------------------------

Selesai ditulis Jumat, 11 Safar 1438 H/ 11 November 2016 07:30 AM, sebelum berangkat praktikum SC Pengasuhan Anak pertemuan ke-8

Sebenarnya, cerita di cerpen ini adalah adopsi dari kisah saya dan teman-teman sewaktu KKN-T  di Desa Cibitung Kulon. Tetapi, namanya juga cerpen-- banyak sekali bumbu-bumbu yang saya berikan. Bahkan di tokoh utamanya - Rum, tidaklah sama seperti tokoh aslinya. Tokoh asli mah biasa aja (karena tokoh aslinya adalah saya) hihi. Penambahan yang dimaksudkan hanya untuk memperhidup suasana, menrik, dan lebih mudah untuk diimajinasikan.

Pada awalnya, judul cerpen ini adalah "Dari Cibitung Kulon ke Takagawa", yang sudah dimulai penulisannya sejak tanggal 8 Oktober 2016. Dari awalnya 5 halaman di microsoft word berkembang menjadi 11 halaman 

Sejak kecil, hobi saya adalah menulis puisi. dan itu terus puisi dan puisi. Hingga sampai masuk ke perkuliahan, tulisan saya pun mulai berkembang, walaupun masih didominasi oleh puisi. Mulai belajar membuat tulisan berita, karena saya koran kampus, prosa baru satu, dan ini adalah cerpen pertama saya juga. Jadi kalau kalau belum seperti cerpennya Kak David (Korpus), Kak Rere 
(Eksyar 49), Fuziyah Rahmi (Sahabat Eksyar APD), atau bahkan gaya novelnya Tere Liye dan Habiburahman Elshirazy, doakan saja yaah semoga tulisan saya bisa terus berkembang, bisa memberikan manfaat yang besar seperti mereka.

Sebenarnya yang kedua, saya banyak banyak mengilustrasikan dari novel Bumi Cinta yang belum lama ini saya baca. Karena terakhir kali saya baca novel adalah sewaktu SMP. Dan ketika itu ternayata salah baca novel karena novel yang saya baca adalah Breaking Dawn, yang menjadi salah satu seri dari The Twilight Saga. Di pertengahan membaca, saya menemukan bagian yang "agak parah", sehingga sejak saat itu hingga sebelum membaca Bumi Cinta saya memberikan wajah yang negatif kepada novel. Novel adalah buku yang tidak baik bagi saya. Selama itu pula, saya tidak pernah menyentuh novel. Karena bagi saya itu bacaan yang tidak terlalu penting. Tapi ternyata Allah itu sangat lembut, Ia mengevaluasi saya pada saat yang sama sekali tidak terduga. bahwa dari novel pun banyak pesan indah untuk membangun dunai dan akhirat. dan mungkin bisa dikatakan cerpen ini adalah salah satu buahnya. Terima kasih ya !

syukur alhamdulillahirrabi;'alamin

No comments: