NASKAH CERPEN
“LENSA YANG HILANG”
“
Bagaimana bila darahmu adalah aliran
benih-benih jiwa pengabdian ? Menjalarkan rasa ingin berbagi kepada masyarakat
dari setiap sendi-sendi tubuhmu ? Pastilah seluruh waktu yang ada, kau genggam erat
untuk mampu menerbitkan alunan senyum di wajah-wajah masyarakat. Pastilah jalur
perjalananmu akan menyita seluruh degupan jantung dan daya fikiran untuk mampu
belajar mencurahkan. Mencurahkan rasa untuk mengabdi: memperbaiki apa yang
telah ada serta membangun apa yang belum terwujud di tengah-tengah masyarakat.
Bukan tanpa alasan dan sebab, melainkan rasa tanggung jawab dan cita-cita yang
dijunjung tinggi untuk memperindah tatanan masyarakat. Mendidik generasi
harapan negeri. Menumbuhkan tunas-tunas wajah bangsa di masa depan. Di masa
depan. Kelak. Memperindah mereka, untuk menjadi tonggak besar sejarah
Indonesia. Memperindah mereka, untuk menjadi tokoh besar dunia. Melalui apa ?
Pendidikan ! Melalui apa ? Aroma aklak yang sejati !
”
Negeriku
namanya Indonesia, negeri seribu bahasa dan budaya. Negeri berwujud garuda
dengan jahitan titel “Bhineka Tunggal Ika”
di dadanya. Negeri yang berani, punya tekad hebat dan semangat yang kuat, merdeka,
dan mampu melibas segala antek-antek debu kotor di sekitarnya. Perbedaan ras,
suku, dan agama terbalut dalam harmonisasi yang maha mempesona di negeri
khatulistiwa ini. Jalinan tali persaudaraan terikat kuat dengan keutuhan batin satu
dengan yang lainnya saling merekat sempurna. Serta romansa kedamaian yang
tersambung apik dalam ikatan kebersamaan.
Bangsaku
namanya Indonesia, bangsa paling ramah seantero dunia. Bangsa paling murah
senyum sejagat alam semesta. Siapa berani tanding keelokan senyumnya ? Pastilah
tiada dua. Lebih baik minggir sebelum kalah adu dengan pesona titian surgawi
yang dimiliki bangsaku ini. Bahkan orang sebrang pun terpeleset rasa iri dan
luka cemburu karena mereka tahu bangsaku diciptakan saat Tuhan sedang menenun senyum
kebahagiaan-Nya. Dimana derajat keindahnya lebih dari malihgai kilauan mutiara
di dasar lautan terdalam--yang berkas cahaya pun malu untuk menyapanya.
Kisah
ini pun bermula saat kerumunan awan yang saling berkejaran menemami tapakan
kaki perempuan berjilbab merah muda. Perempuan cantik nan ayu, wajah asli
Indonesia. Terlihat natural khas bumi
khatulistiwa. Berpadukan baju putih hingga lutut dan disempurnakan dengan
juluran rok batik berwarna merah yang bermegaran. Bila menuruni anak-anak tangga,
persis seperti princess di kerajaan
dunia khalayan anak-anak. Roknya teruntai pada anak-anak tangga sebelumnya,
sedangkan kaki kanannya sudah melangkah maju terlebih dahulu. Bila digunakan berlari,
akan menjadi bermegaran bagai bunga kamboja merah bermotif batik dengan kelopak
yang terbalik.
Bentuk
mata almond eyes shape yang menawan, menemani kejernihan hitam lembam pada bola matanya. Hampir-hampir
terlihat mengagumkan.bagi siapa pun yang memandangnya. Tajam pangkal atas
hidungnya, penghias keelokan rupa perempuan ini. Pipinya yang bergemul saat
tersenyum, merekah indah sempurna bak bunga anggrek merah di taman Kledokan di Sleman,
Yogyakarta. Dagunya yang agak panjang mengikuti pola wajahnya, sumber
kesempurnaan pesona tiada tara. Ayu.
Satu kata yang akan mampir ke kerak
kepalamu seketika berpapasan dengan perempuan
berdarah jawa ini.
Di
desa yang bernama Cibitung Kulon, ia mengabdi untuk negeri, untuk Indonesia, untuk
pendidikan anak-anak bangsa. Rasa juangnya melekat dengan hebat di kedalaman
jiwa nasionalisnya. Kemudian rasa tersebut diikat kuat dalam hati yang selalu mengibarkan
dendangan merah putih. Tak sedikit keringat yang membalur di kening dan pipi untuk
mewarnai karakter anak-anak di sekitarnya. Menembarkan api semangat belajar
yang tak ingin padam walau hujan deras silih berganti untuk menjegatnya keluar
dari rumah. Menggoreskan tinta emas budi pekerti walau terik matahari tak surut
memancarkan rasa panas di ubun-ubun kepalanya. Untuk apa ? Membangun mental
anak bangsa yang hebat.
Setiap
pagi langkahnya selalu berbaitkan senandung pengabdian. Mengantarkannya ke tanah
ilmu, buku, dan pensil, Madrasah Ibtidaiyyah (MI) namanya. Lalu, siang hari saat mentari mulai berada di pucuk lentera, saat
panas mulai mengikis pundi-pundi tenaganya, dan saat udara meniupkan embun-embun
kantuk di pelupuk mata banyak orang, ia bergegas pergi menuju saung bambu di
pinggir empang. Empang milik Haji Engkos dipertigaan jalan depan gang tikus. Ia
mengajarkan Bahasa Inggris untuk anak-anak desa dan membuka pertemuannya dengan
kalimat, “Assalamu’alaikum, Good
afternoon anak-anak ! How are you today ? .” Sore hari bersama dengan
sahabat-sahabatnya, ia mengikatkan hati, jiwa, dan loyalitasnya untuk kembali
mengajarkan sedikit tinta-tinta ilmu dan senandung doa di Taman Pengajian
Al-Qur’an (TPA).
Terlepas
dari rutinintasnya, lukisan senyum selalu ia bagikan saat bermain bersama kerumunan
anak-anak. Jentik-jentik perjuangan ini tak khayal dan tak bukan, selain untuk
membentuk wajah pendidikan bangsa indonesia di masa yang akan datang. Wajah
dengan karakter khas yang berbalut kedalaman moral dan keindahan akhlaqul karimah. Akhlak yang baik. Sebaik-baik akhlak dari miliaran manusia yang
pernah dan sedang bermukim di bumi ini. Visinya jauh menatap ke depan, bagai
jalan lurus yang tak berbelok sedikit pun, lebih mantap garis pinggirnya daripada
tol Cikopo-Palimanan sekalipun. Matanya penuh tinta optimis, memandang wajah
anak-anak Cibitung Kulon menjadi tokoh-tokoh besar Indonesia kelak. Semangatnya
? Tak usah ditanya. Bahkan peluh sakit pun ia bantai tiada ampun. Virus dan
bakteri penyakit tak berani untuk singgah ke tubuhnya, Walaupun hanya lewat
sebentar
.
“Rum, bade kamana ? ” geliat tanya
seorang perempuan berkerudung hitam yang berlari kearahnya dengan aksen Bahasa Sunda.
“Bade ka madrasah li !” Jawabnya di
pinggir jalan yang yang agak berliku dengan beberapa orang desa yang sedang berlalu
lalang.
“Mau mengajar pelajaran sejarah di kelas 4
? ”
“Iya
li, betul, mau ngajar sejarah, mau bangun wajah peradaban bangsa di Cibitung
Kulon ! ” jawabnya dengan
nada semangat dan mimik wajah penuh jeratan optimis kepada Lili Nurmali yang
kini berada dihadapannya--mengenakan baju kurung muslimah berwarna biru dengan balutan
jilbab hitam panjang.
“Rum” begitulah ia di panggil oleh
sahabat-sahabatnya. Seorang perempuan idealis yang punya mimpi seperti indahnya
Raja Ampat di bumi timur Indonesia. Merah darahnya perlambang tanda juang yang
terus mengalir tiada henti. Putih bersih hatinya perlambang ketulusan bakti
pada negeri yang tiada henti. Ratna Ardiningrum nama lengkapnya, seorang
mahasiswa cerdas asal perguruan tinggi ternama di Indonesia. Kecerdasan yang
melekat selalu ia junjung bagai bulir-bulir padi yang menguning di sawah. Semakin
berisi, semakin teduhlah hatinya. Siapa yang mengenalnya, kan tahu betapa
menawannya tata bahasa dan sopan santun yang dilakunya. Kelembuatan suaranya
mampu mengalunkan harmoni kedamaian bagi siapa saja yang bercengkrama
dengannya.
“Assalamu’alaikum semuanya, selamat pagi,”
sambut Rum memasuki kelas sambil menaikkan tulang pipi dan melebarkan kedua
lapis bibir merah muda pada wajahnya. Manis merekah senyumnya.
“Ada kak Rum, ada kak Rum ! ” teriak
salah satu anak kelas 4
di Madrasah Ibtidaiyyah Rhadatul Wildan, Desa Cibitung Kulon.
Anak-anak
pun lari dengan semangat, menduduki bangkunya masing-masing. Dengan serempak
mereka menjawab, “Wa’alaikumsalam kak Rum.”
“Sudah siap kita untuk membangun peradaban
hari ini ?” Puluhan
suara cempreng khas anak-anak terbalut menjadi satu kesatuan dan mengatakan “Kami siap kak Rum !,”
“Apa ? Belum siap ?,” imbangnya menyahut anak-anak dengan candaan
yang hendak menyulutkan api semangat dengan matanya yang diekspresikan dengan
penasaran dan bibirnya yang di-pose-kan
dengan senyuman hangat hingga dua gigi serinya terlihat.
“Siap kakak !” Jawaban yang lebih lantang
dari anak-anak menderu seisi kelas.
“Baiklah, hari ini kak Rum akan mengajarkan tentang
perjuangan seorang pahlawan kita yang telah memberikan hidupnya untuk
pendidikan Indonesia. Beliau adalah tokoh yang dikenal dengan Bapak Pendidikan Nasional. Ada yang tahu siapakah
nama beliau ?”
“Aku tahu kak, Ki Hadjar Dewantara,” jawab
Aisyah, anak paling pandai di kelas 4 yang setiap hari selalu duduk di bangku
baris ketiga bersama Najwa. Ia mengenakan jilbab putih bergo dan seragam lengan panjang putih lengkap dengan rok merah
panjang khas sekolah dasar bernuansa islami.
“Baaaaa.. gus Aisyah ! Good job !” jawab Rum dengan respon positif sambil menunjukkan jempol tangannya untuk memuji setiap tidakan
baik bagi siapa saja dari anak-anak yang melakukan perbuatan baik, berani
menjawab, dan prestatif.
Rum
kemudian menambahkan dengan penjelasan yang runtun, kata per katanya mampu ia
jabarkan dengan perlahan dan jelas. Ia berharap anak-anak akan mengerti apa
yang ia sampaikan. Buahnya adalah percikan api semangat untuk belajar lebih
giat, rajin, dan tekun belajar. Itulah yang ia inginkan dari anak-anak. Itulah
rasa yang ia harapkan hadir dalam benak anak-anak. Kelak mimpi besar untuk
melihat anak-anak Cibitung Kulon menjadi tokoh-tokoh besar Indonesia, seperti
buah yang ranum saat tiba masa panennya. Di masa depan. Semoga. Aamiin.
Ia
pun mulai menjelaskan dengan pembawaannya yang lembut. Tapi dengan balutan dan
desakan semanagat dari pangkal ulu hatinya. Menyiaratkan rasa sabar dalam
belajar bersama anak-anak.
“Raden Mas Soewardi Soeryaningrat atau yang
lebih dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara adalah teladan untuk kita anak-anak
Indonesia. Semangat perjuangannya tidak gentar sedikit pun. Sangat berani. Berani
menghadapi penjajah Belanda dan Jepang demi menyelamatkan masa depan pendidikan
anak-anak Indonesia. Ia berjuang untuk kalian, kakak, dan seluruh orang-orang
Indonesia hingga sekarang, kita semua bisa belajar dengan merdeka, tidak
diganggu musuh, penjajah, tidak ada bom, apalagi letupan suara meriam. Kini
kita bisa belajar dengan suasana yang tenang.”
“Bapak Pendidikan Nasional kita ini mendirikan
Sekolah Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922. Terbuka bagi siapa saja orang-orang
Indonesia yang ingin belajar dengan sungguh-sungguh saat zaman penjajahan
Belanda. Walaupun, bambu runcing ada dalam genggaman tangan kiri untuk siap
siaga menghadapi musuh.
Untuk berani mengahadang
lawan kapan saja musuh titiba datang menyerang. Tapi, tangan kanannya memegang erat pena dengan
api semangat yang selalu menyalah untuk belajar. Mereka menulis pada
kertas-kertas yang warnanya kuning pucat. Sebagian lagi berwarna cokelat kumal.
Tanda kertas sudah tua, sudah lama,
tidak baru lagi. Tidak putih bersih seperti kertas pada buku tulis yang kalian
punya, tidak rapi seperti buku-buku
kalian diatas meja. Tapi, kemauan mereka untuk belajar tidak kusam, kumal,
apalagi lecek.”
“Kalian semua harus meneladani orang-orang
yang punya semangat tinggi untuk belajar. Seperti mereka para pejuang Indonesia
yang tetap mau belajar di masa kejamnya penjajahan. Sadis. Bila tuan-tuan
penjajah tahu, senjata api pun mereka letuskan di udara. Tepat mengenai para pendahulu
kalian. Simbaran darah akan mengalir dengan segarnya. Mati. Mereka ditembak
bila penjajah tahu bahwa mereka
sedang belajar.
Penjajah tak mau kita pandai, tidak boleh orang indonesia jadi cerdas.“
“Tak kenal malas, orang-orang Indonesia dulu.
Hanya ingin merdeka atau mati. Merdeka dari penjajah, merdeka dari kebodohan. Setiap
ilmu yang mereka terima, mereka ikat kuat dalam ingatannya. Mereka ingin
Indonesia menjadi bangsa yang cerdas, yang tidak kalah dengan penjajah. Bangsa
yang ditakuti oleh negara lain. Yang menjadi pemandu lalu lintas dunia. Yang
menjadi pusat dari segala sumber. Yang menjadi inti kekuatan nomor satu di
dunia.”
“Berarti
orang-orang Indonesia dulu sangat suka belajar yah kak ?,” tanya Baihaqi yang
duduk dibangku paling pojok kiri barisan pertama dengan nada polosnya.
Belum selesai Rum membuka kelopak bibirnya untuk
menjawab, tiba-tiba....
“Tapi di Indonesia
sekarang banyak yang males,
engga
peduli sama
pendidikan yah kak Rum. Banyak yang engga
punya pekerjaan, jadi pengemis, jadi pengamen di jalan,” tukas Silpi yang seolah menjawab pertanyaan Baihaqi
dengan ritme bicara khas anak-anak yang spontanitas. Berbicara atas fenomena
yang ia lihat sehari-hari—saat pulang sekolah melewati Pasar
Jumat.
Rum pun menjawabnya dengan deru semangat dan penuh
kehati-hatian. Hati-hati karena takut salah ucap. Ia sadar bahwa ini adalah
titik kritis. Titik puncak untuk memasukkan nasihat yang membangun. Saat yang tepat untuk mewarnai
karakter anak-anak, seperti yang ia dambakan. Seperti yang ia cita-citakan. Momen untuk membangun
anak bangsa punya mentalitas yang hebat. Waktu untuk membuka cakrawala
anak-anak tentang kita. Kita : bangsa Indonesia di mata dunia.
“Indonesia dulu dikenal sebagai bangsa yang
cerdas, yang giat belajar. Hingga banyak orang-orang asing yang datang untuk
belajar di negeri kita. Mereka sangat suka dengan Indonesia. Kata mereka, kita
adalah bangsa yang menjunjung tinggi pendidikan dan persaudaraan. Kurikulum pendidikan kita jadi percontohan
untuk negara mereka. Mereka mengenal kita sebagai bangsa
pekerja keras. Berjuang dengan
hebat menghadapi musuh tanpa merasa malas untuk menimba ilmu. Rajin. Tidak hanya itu, dunia
pun mengakui
bahwa kita adalah
bangsa yang paling ramah. Yang paling murah senyum, Bangsa yang paling indah tata karma
dan akhlaknya.”
“Tapi kini, kita
terperosok dalam jurang keterpurukan. Semangat
Ki Hadjar Dewantara hilang dari jiwa orang-orang Indonesia. Kemana semangat mereka
? Kemana api perjuangan yang dulu pernah menyala-nyala dengan hebat ? Kemana
mereka semua yang tetap mau belajar walaupun bambu runcing di kiri dan pena di kanan ? ”
“Mereka semua kini hanya menjadi museum
peradaban Indonesia di masa lampau. Mereka kini hanya menjadi gujarat-gujarat tinta
sejarah yang tidak lagi dilirik manusia modern Indonesia. Mereka kini hanya
angan-angan yang datang dan kemudian singgah tanpa permisi di dalam pikiran
orang-orang Indonesia. Mereka tidak lagi mengenal tokoh-tokoh Indonesia, pahlawan Indonesia, orang-orang
yang berjuang seluruh tumpah darah, jiwa dan raga, harkat dan martabat demi
Indonesia. Bahkan sosok idola mereka, bukan lagi orang-orang yang berjasa untuk
Indonesia, bangsa kita.”
Dengan hati yang berbalut aroma nasionalisnya, ingin Rum
menangis tentang bangsanya. Memberontak dalam penjara
perasaannya. Seolah menyiku ke kanan dan kiri agar besi di tangannya terlepas.
Dengan sekuat tenaga. Dengan lumuran keringat dan desah nafasnya yang dengan
cepat mengembang-ngempiskan relung dadanya. Berbicara pada riak-riak air di dalam hatinya. Sedih
atas noda hitam yang kini membekas di wajah ibu pertiwi. Seolah orang-orang
modern kini lebih suka Justin Timberlake, Christiano Ronaldo, Katy Perry, ataupun Jennifer Lopez daripada pahlawan-pahlawannya sendiri. Sedangkan
tokoh-tokoh yang terluka, terhasut, terpojokkan, bahkan
banyak yang terbunuh untuk membela kemerdekaan yang bisa
kita rasakan hari ini terlupakan. Mereka yang berani merampas proklamasi yang tak kunjung
diberikan oleh para penjajah. Penjajah: diktator ulung negeri jauh yang silih berganti membuat
derita di negeri ini.
Kini
banyak orang Indonesia yang
telah lupa identitas nasionalisnya. Mereka telah lupa identitas juang dari
darah para pendahulunya. Mereka lupa dengan dirinya sendiri.
Bagai
lensa copot dari sebuah kacamata, lensanya hilang. Bisa tetap digunakan, tapi
tak bermakna. Kelihatannya buram. Framenya
tetap ada, tapi lensanya hilang. Raganya tetap ada, tapi jiwa nasionalisnya
hilang.
Bahkan
permusuhan dan perselisihan menjadi ujung tombak kehidupan masyarakat yang kini
sering terjadi. Kemiskinan, pengangguran,
orang-orang yang tersingkap di pinggir-pinggir jalan menjadi fenomena yang
akrab terjadi di negeri yang katanya surga
dunia ini. Justru
kini ia menjadi
surganya para koruptor kelas
kakap. Pahlawan berwajah tikus yang sering diringkus oleh KPK. Sedih buka main.
Pilu, amat menyakiti. Luka, tersayat hati merasakannya.
Semangat
juang seperti mati suri di benak orang-orang Indonesia. Jiwa mereka tak lagi
punya tekat yang hebat untuk berjuang. Tak punya lagi mental seperti baja. Belajar pun hanya sebatas seperti ke pantai,
tidak tahu indah dan kayanya kerajaan laut. Tidak tahu dan tidak punya rasa
keinginantahuan untuk bisa mengetahuinya. Dimana potret Ki Hadjar
Dewantara, Bung Karno, Buya Hamka, Oemar Said Tjokroaminoto, E.F.E. Douwes
Dekker Danudirjdo Setiabudi, Hadji Agus Salim, Abdoel Muis, Soerjopranoto, dan
Achmad Dachlan ? Lensa yang dulu begitu bersih cemerlang, kini tersapu zaman.
Hilang entah kemana.
Hari
itu, tepat hari ke-365
ia mengabdi di Desa Cibitung Kulon, desa indah dengan lukisan pegunungan yang
sangat mempesona. Seperti itulah hari demi harinya ia rajut di desa tersebut. Air-air
terjun di tebing-tebing jalan bagai aksesoris yang mampu menyempurnakan karya
Tuhan di sudut kabupaten Bogor ini. Caklawala keindahan Desa Cibitung Kulon
terus berdiri kokoh di kedalaman pikirannya. Namun, waktu pun harus pamit
meninggalkan hati yang terikat kuat di Desa Cibitung Kulon ini. Meninggalkan
hausnya berbagi semangat kepada wajah-wajah
generasi penerus bangsa, wajah-wajah tonggak sejarah besar Indonesia di masa depan, tokoh
besar dunia asal Indonesia,
anak-anak Desa Cibitung Kulon.
Sebelum berakhir waktu baktinya. Waktu untuk mengabdinya. Waktu untuk belajar, bermain, dan bercengkrama dan dengan anak-anak.
Waktu untuk menebarkan senyum dan semangat. Waktu untuk
menjadi sabahat bagi anak-anak. Waktu untuk menyapa orang-orang yang letih sepulang
dari sawah. Dan waktu untuk mencurahkan ketulusan hatinya bagi masyarakat di
Desa Cibitung Kulon. Ia pun menyepi—sendiri. Sepulang mengajar
di TPA, Ia mampir
ke pinggir sawah, duduk di
pinggir terasering yang paling atas.
Lanskap panorama Cibitung Kulon dengan anggun menampakkan
dirinya kehadapan Rum. Matahari sore yang berwarna oranye dengan iringan
awan-awan yang menutupi sebagian permukaannya seolah memberikan senyum yang
tidak rela kepada Rum. Tidak rela untuk ditinggal pergi oleh aliran darah yang
penuh semangat juang dan kehangatan senyumannya itu. Sawah-sawah yang
menghampar hijau seolah menahan dirinya untuk berlama-lama tetap berada di desa
ini. Membuat ia nyaman untuk terus membuka mode on pada matanya,
memandangi, sambil membayangkan wajah anak-anak saat sedang belajar, bertanya
padanya, menyapanya, tersenyum padanya, hingga satu dua hingga puluhan air mata
mulai membasahi pipinya. Ia menangis. Menangis haru karena hatinya telah
tertambat di desa ini. Ia ingin pergi tapi rasa baktinya menuntut waktu yang
lebih lama untuk tetap berada di sini.
Rum pun mulai membuka tas ransel hitamnya, mengambil buku
catatan kecil-tebal dengan cover motif batik coklat-hitam khas
Kalimantan Selatan. Membukanya ke halaman kosong yang nampak kertas kosong
dengan banyak garis. Kemudian, tempat pensilnya yang terbuat dari kain bermotif garis
horizontal tebal biru-putih pun ia buka untuk mengambil pena. Pena berwana
hitam dengan bertuliskan Standard AE 7 Alfa Tip 0,5. Huruf demi huruf,
kata demi kata, baris demi baris, bait demi bait, ia susun menjadi karya
sederhana yang menjadi cermin perasaannya. Perasaan beratnya untuk pergi meninggalkan desa ini.
Perasaan beratnya untuk tidak bisa lagi mengajar dan menebarkan semangat ke
wajah anak-anak. Wajah yang ia cintai. Wajah ia harapkan jadi peradaban emas
Indonesia di masa yang akan datang.
Mengapa aku harus ada di
sini
Ditengah sawah yang tak berbicara
Di tengah air yang mengalir
Tanpa mampu ia menjelaskan
Kenapa ia harus mengalir
Harusnya aku ada di sini lebih lama lagi
Harusnya aku mengajar lebih sering lagi
Harusnya aku mengabdi lebih tulus lagi
Harusnya aku menularkan semangat juang lebih berapi-api lagi
Hariku lebih sedikit dari hitungan jari di tempat ini
Waktu baktiku telah usai
Derap langkahku segera pergi
Dari indahnya mahligai desa ini
Tuhan, aku ingin menjadi pengabdimu
Tuhan, aku ingin membangun masyarakat di sini
Tuhan, aku mencintai mereka
Mereka, masyarakatku
Mereka adalah diriku
Terkadang aku ingin menjadi mati rasa untuk merasakan
Merasakan keterbelakangan masyarakatku
Merasakan pudarnya lensa perjuangan para pahlawan
Merasakan redupnya semangat yang dulu pernah membuncah
Saat Indonesia hendak disapu bersih oleh koloni
Aku tak mau
Aku tak sanggup
Sungguh mereka adalah detak jantungku
Sungguh mereka adalah aliran darahku
Sungguh mereka adalah saraf-saraf tubuhku
Aku akan pergi
Tapi hatiku telah tertanam di sini
Di hati hati masyarakat
Dan geliat canda tawa wajah peradaban bangsa,
Anak-anak desa Cibitung Kulon
Laju
detik pada jam dinding terus menderu tanpa henti. Tanpa bisa menghentikan
aliran waktu yang membawa Rum berada pada akhir waktu pengabdiannya.
Waktu baktinya di Desa Cibitung Kulon. Satu
tahun telah berlalu, Perjalanan yang
penuh rasa juang, semangat, ketulusan, dan senyuman asli darah jawa ini terukir
dengan indah di desa itu.
Lensa yang hilang
berharap akan kembali lagi. Berwujud jiwa nasionalis dan pengabdian untuk
negeri. Menghidupkan kembali benih-benih perjuangan pahlawan. Menghidupkan
kembali detak nadi Ki Hadjar Dewantara, Bung Karno, Buya Hamka, Oemar Said
Tjokroaminoto, E.F.E. Douwes Dekker Danudirjdo Setiabudi, Hadji Agus Salim,
Abdoel Muis, Soerjopranoto, dan Achmad Dachlan.
----------------------------------
Selesai ditulis Jumat, 11 Safar 1438 H/ 11 November 2016 07:30 AM, sebelum berangkat praktikum SC Pengasuhan Anak pertemuan ke-8
Sebenarnya, cerita di cerpen ini adalah adopsi dari kisah saya dan teman-teman sewaktu KKN-T di Desa Cibitung Kulon. Tetapi, namanya juga cerpen-- banyak sekali bumbu-bumbu yang saya berikan. Bahkan di tokoh utamanya - Rum, tidaklah sama seperti tokoh aslinya. Tokoh asli mah biasa aja (karena tokoh aslinya adalah saya) hihi. Penambahan yang dimaksudkan hanya untuk memperhidup suasana, menrik, dan lebih mudah untuk diimajinasikan.
Pada awalnya, judul cerpen ini adalah "Dari Cibitung Kulon ke Takagawa", yang sudah dimulai penulisannya sejak tanggal 8 Oktober 2016. Dari awalnya 5 halaman di microsoft word berkembang menjadi 11 halaman
Sejak kecil, hobi saya adalah menulis puisi. dan itu terus puisi dan puisi. Hingga sampai masuk ke perkuliahan, tulisan saya pun mulai berkembang, walaupun masih didominasi oleh puisi. Mulai belajar membuat tulisan berita, karena saya koran kampus, prosa baru satu, dan ini adalah cerpen pertama saya juga. Jadi kalau kalau belum seperti cerpennya Kak David (Korpus), Kak Rere
(Eksyar 49), Fuziyah Rahmi (Sahabat Eksyar APD), atau bahkan gaya novelnya Tere Liye dan Habiburahman Elshirazy, doakan saja yaah semoga tulisan saya bisa terus berkembang, bisa memberikan manfaat yang besar seperti mereka.
Sebenarnya yang kedua, saya banyak banyak mengilustrasikan dari novel Bumi Cinta yang belum lama ini saya baca. Karena terakhir kali saya baca novel adalah sewaktu SMP. Dan ketika itu ternayata salah baca novel karena novel yang saya baca adalah Breaking Dawn, yang menjadi salah satu seri dari The Twilight Saga. Di pertengahan membaca, saya menemukan bagian yang "agak parah", sehingga sejak saat itu hingga sebelum membaca Bumi Cinta saya memberikan wajah yang negatif kepada novel. Novel adalah buku yang tidak baik bagi saya. Selama itu pula, saya tidak pernah menyentuh novel. Karena bagi saya itu bacaan yang tidak terlalu penting. Tapi ternyata Allah itu sangat lembut, Ia mengevaluasi saya pada saat yang sama sekali tidak terduga. bahwa dari novel pun banyak pesan indah untuk membangun dunai dan akhirat. dan mungkin bisa dikatakan cerpen ini adalah salah satu buahnya. Terima kasih ya !
syukur alhamdulillahirrabi;'alamin
No comments:
Post a Comment