Aku terbangun di pagi hari
Memasuki lentera baru, lensa baru, harapan baru
Pelupuk mataku yang lemah begitu berat untuk disingsingkan
Telingku yang layu tak kuasa untuk menangkap gemuruh azan di surau
Tepat pukul lima lewat sepuluh, raga ini baru mengecup fajar dan menghirup ion baru
Perhalan aku mendengar bongkahan permata yang sedang ditumbuk
dari layar televisi
Perhalan aku menyeruakkan telinga tuk memperhatikan lebih dalam
Perlahan aku dekatkan badan yang berat ini ke sumber permata itu
Suaranya tak keras
Suaranya tak menyakitkan
Ia mengalun begitu sederhana
Iramanya lembut penuh estetika
Terpanalah telinga ini, tuk menghadirkan hati bersamanya
mengajak mata tuk ikut serta padanya
Seorang laki berkoko dan peci sedang memainkan musik
surgawi
Memasuki lentera baru, lensa baru, harapan baru
Pelupuk mataku yang lemah begitu berat untuk disingsingkan
Telingku yang layu tak kuasa untuk menangkap gemuruh azan di surau
Tepat pukul lima lewat sepuluh, raga ini baru mengecup fajar dan menghirup ion baru
Perhalan aku mendengar bongkahan permata yang sedang ditumbuk
dari layar televisi
Perhalan aku menyeruakkan telinga tuk memperhatikan lebih dalam
Perlahan aku dekatkan badan yang berat ini ke sumber permata itu
Suaranya tak keras
Suaranya tak menyakitkan
Ia mengalun begitu sederhana
Iramanya lembut penuh estetika
Terpanalah telinga ini, tuk menghadirkan hati bersamanya
mengajak mata tuk ikut serta padanya
Ia juga mengenakan kaca mata, penuh arif terpapas diwajah
Dikelilingi bidadara dan bidadari permadani dunia
Suananya terlihat khidmat bagai malaikat sedang memeluk penuh jiwa dan hati mereka
Dikelilingi bidadara dan bidadari permadani dunia
Suananya terlihat khidmat bagai malaikat sedang memeluk penuh jiwa dan hati mereka
“Mungkinkah kita hidup 70 tahun lamanya ?
Tak banyak nyawa nyawa yang bertahan hingga ke titik persimpangan 70
Tak banyak yang lagi berkesempatan tuk menghadirkan segala keindahan dunia di pelupuk mata
Setiap yang memiliki benaman nyawa di raga, pasti hilang nantinya”
Syair syair yang patah dari sayap langit kini menghidupkan telingaku lebih dalam
Membangunkan setiap sel dalam tubuh yang masih tertidur pulas
Menggumpulkan jutaan ATP
Tuk siap melahap singsingan mentari hari ini, dua delapan agustus dua nol satu lima
Tak banyak nyawa nyawa yang bertahan hingga ke titik persimpangan 70
Tak banyak yang lagi berkesempatan tuk menghadirkan segala keindahan dunia di pelupuk mata
Setiap yang memiliki benaman nyawa di raga, pasti hilang nantinya”
Syair syair yang patah dari sayap langit kini menghidupkan telingaku lebih dalam
Membangunkan setiap sel dalam tubuh yang masih tertidur pulas
Menggumpulkan jutaan ATP
Tuk siap melahap singsingan mentari hari ini, dua delapan agustus dua nol satu lima
Aku bukan bayi yang baru saja menghembuskan nafas pertamanya
Aku bukan pula anak kecil yang sedang bergembira ria berlari bersama teman teman mengejar layang layang
Aku bukan pula remaja yang sedang asyik menikmati panorama dunia yang baru
Lanskap Menakjubkan, dan singasana dunia yang mempesona
Nyawaku telah bersatu dengan dunia 20 tahun lamanya
Ragaku telah bersuarak lebih dari 240 bulan lamanya
Wajahku telah menua 960 minggu lamanya
Berarti kesempatan yang masih aku genggam
Kurang dari 50 tahun lagi
Wajah indah dunia, tak lebih dari 50 tahun lagi aku dapat menikmatinya
Merasakan sejuknya hawa dingin dari udara di pagi hari
Senyum dan tawa keluarga, rumah mungil yang membuatku nyaman, laptop yang selalu bersama
Kita tak akan berjalan lebih lama lagi, tak lebih dari 50 tahun lagi
Aku bukan pula anak kecil yang sedang bergembira ria berlari bersama teman teman mengejar layang layang
Aku bukan pula remaja yang sedang asyik menikmati panorama dunia yang baru
Lanskap Menakjubkan, dan singasana dunia yang mempesona
Nyawaku telah bersatu dengan dunia 20 tahun lamanya
Ragaku telah bersuarak lebih dari 240 bulan lamanya
Wajahku telah menua 960 minggu lamanya
Berarti kesempatan yang masih aku genggam
Kurang dari 50 tahun lagi
Wajah indah dunia, tak lebih dari 50 tahun lagi aku dapat menikmatinya
Merasakan sejuknya hawa dingin dari udara di pagi hari
Senyum dan tawa keluarga, rumah mungil yang membuatku nyaman, laptop yang selalu bersama
Kita tak akan berjalan lebih lama lagi, tak lebih dari 50 tahun lagi
Aku disini tak lebih dari 50 tahun lagi
Status sebagai pengembara kan berakhir kurang dari 50 tahun lagi
Bumi kan siap mencium ragaku dengan panorama tanah coklat kemerahan
Dan kuharap langit siap menyambut nyawaku dengan garis keindahan yang tak pernah bertepi
Bumi kan siap mencium ragaku dengan panorama tanah coklat kemerahan
Dan kuharap langit siap menyambut nyawaku dengan garis keindahan yang tak pernah bertepi
6:32 AM
28 Agustus 2015
di ruang tamu rumah kemanggisan yang tak bersofa
aku duduk lesehan menyender ke tembok, didepanku ada motor yang dijaga di dalam rumah semalam suntuk, pintu depan yang 2/3 terbuka, dan televisi yang sedang menanyangkan net tv. Mama lagi masak, menyiapkan sarapan pagi dan siap mengajar, kakak siap siap untuk berangkat ke kantor. Aku, yah bersma pacarku, tercinta, laptop vaio berwarna hitam , hiks
28 Agustus 2015
di ruang tamu rumah kemanggisan yang tak bersofa
aku duduk lesehan menyender ke tembok, didepanku ada motor yang dijaga di dalam rumah semalam suntuk, pintu depan yang 2/3 terbuka, dan televisi yang sedang menanyangkan net tv. Mama lagi masak, menyiapkan sarapan pagi dan siap mengajar, kakak siap siap untuk berangkat ke kantor. Aku, yah bersma pacarku, tercinta, laptop vaio berwarna hitam , hiks
No comments:
Post a Comment