Sebait dua bait pertanyaan terkadang menghunus dalam telaga dadaku
Mengapa dunia bisa berjalan, padahal tak punya kaki
Lalu bagaimana langit bisa dijunjung, padahal tak ada tiang yang menyanggahnya
Dengungan demi dengungan menjadi asap yang termenung
Hingga sajak pun tercipta ketika pertanyaanku tak mampu terbendung
Tintaku terlalu banyak, untuk bertanya dan bertanya
Mengukirkan setiap fatamorgana untuk dikritisi
Tapi aku tak menemukan pena lain, untuk membalas sajak sajakku
Hingga aku baca tumpukkan buku yang berdebu diujung sana
Jawabannya tepat
Sembilan belas dua puluh kali, sajakku terhunus tepat pada buku itu
Buku kumal kusam, yang ternyata punya warna sama dengan apa yang telah aku gubah
Sajakku pun meleleh seketika
Tinta-tinta pertanyaanku menyeruak tanda genderang telah menemukan kedamaian
22 Desember 2015
5:55 AMSebelum siap siap kuliah Hukum Bisnis Syariah I
No comments:
Post a Comment