Wahai bunda,
Bunga mawarku yang selalu
indah dalam pelabuhan hati,
Sungguh dengarkanlah sapaan dan alunan tirani yang menjadi bak wewangian ini
Sungguh dengarkanlah sapaan dan alunan tirani yang menjadi bak wewangian ini
Mungkin hatimu telah membisikan bahwa kini aku menepi
Layaknya pengembara yang telah menemukan pulau untuk mengusung kehidupan baru
Layaknya pengembara yang telah menemukan pulau untuk mengusung kehidupan baru
Mungkin hatimu telah cemburu
Bahwa aku bagaikan menemukan lunar baru di sini
Menghempaskan tawa dan senyum bahagia tanpa kau berada di sisi
Menghempaskan tawa dan senyum bahagia tanpa kau berada di sisi
Sungguh bundaku,
Wahai pemilik belikat hati
dan jiwaku
Takkan mungkin kata kata indah akan terbalut dengan sempurna
Tanpa ada ruang rindu dan ketulusan yang begitu lembut
Takkan mungkin kata kata indah akan terbalut dengan sempurna
Tanpa ada ruang rindu dan ketulusan yang begitu lembut
Dengarkanlah bundaku,
Wahai alunan permadani surgawi
Kaulah detak jantungku
Kaulah pandangan mataku ke depan
kaulah seluruh tenaga dalam ragaku
Kaulah pandangan mataku ke depan
kaulah seluruh tenaga dalam ragaku
Bunda,
Kini aku tak berada selalu di sisimu
Dunia memanggilku secara perlahan
Memendekkan dekapanku untuk menghangatkan
dirimu
Mempercepat waktu untuk aku dapat mendengarkan curahan hatimu
Mempercepat waktu untuk aku dapat mendengarkan curahan hatimu
Namun bunda,
Sungguh doamulah awan awan kesejukanku
Ridhamulah mentari bagi kehidupanku
Dan cintamulah udara bagi setiap hembusan nafasku
Sungguh doamulah awan awan kesejukanku
Ridhamulah mentari bagi kehidupanku
Dan cintamulah udara bagi setiap hembusan nafasku
Percayalah,
Bahwa namamu adalah kata
terindah
Yang selalu aku baitkan di hadapan sang Maha Pecinta
Dimana pun aku berada
Dimana pun aku berada
Disanalah selalu aku dekapkan dalam hati "untukmu bundaku yang
tercinta"
20 September 2015
10:42 PM
No comments:
Post a Comment