Featured post

KURANG DARI 50 TAHUN

Aku terbangun di pagi hari Memasuki lentera baru, lensa baru, harapan baru Pelupuk mataku yang lemah begitu berat untuk disingsingkan Te...

Sunday, 26 February 2017

Think papayas

Tentang pepaya. Langit sore berbicara padaku melalui pohon pepaya. Tentang mengorganisasi, menstimulasi, dan mengeksplorasi. Alam adalah buku tak berhuruf yang mengajarkan kita banyak hal. Alam adalah puisi tak berbait yang dengan lembut melantunkan pesan pesan Nya untuk kita.

Dalam satu pohon pepaya akan memiliki banyak buah. Tapi buah buah tersebut bervariasi dari segi ukuran dan kematangannya. Ada yang besar dan kecil. Ada yang sudah menguning dan masih hijau. Analoginya seperti orang orang dalam satu organisasi. Ada yang dengan matang bisa "muncul dan terlihat". Dan ada pula yang "masih hijau", terlihat membutuhkan stimulasi untuk bisa "tumbuh dan berkembang".

Bagaimana caranya agar "pepaya pepaya" tersebut bisa menghasilkan buah yang matang dalam jumlah banyak pada satu waktu yang sama ? Atau pada waktu berbeda, tapi tidak terlalu jauh jarak waktu kematangannya antara satu dengan yang lainnya ?

Jawabannya (menurut subjektivitas saya yang tidak tahu apa apa ini) adalah sumbernya. Jika dalam satu organisasi, maka leadernya memiliki peran dan kesempatan untuk bisa membagi sumberdaya yang dimiliki agar semua terstimulasi secara merata. Setiap orang akan tumbuh dan berkembang, asal diberikan stimulasi yang optimal. Ruang untuk bisa mengeksplorasi diri. Dan kesempatan untuk mencoba dan belajar. Diberikan pengertian dan perasaan merasa dipahami. Hal ini akan membuat pohon pepaya akan menghasilkan buah yang berukuran maksimal dengan kematangannya. Persis orang orang dalam organisasi akan tumbuh dan berkembang secara optimal.

------------
Based on experience when visited small garden in Mr. Budjo house, bubulak
During SUIJI SLP program
26/02/2017
18:15

Thursday, 16 February 2017

Pita Merah (1)


Tidak sengaja ta’bir langit terbuka. Penduduk langit hingar bingar lari kebingungan. Mereka ingin mengadu. Tentang kitab yang baru saja terbaca oleh penduduk bumi. Berisi rahasia yang akan mengelupaskan kerak kulit hati manusia yang mengetahuinya. Mereka pun berlari dari awan satu ke awan lainnya, naik hingga langit ke lima, tapi mereka tetap kebingungan. Rasa khawatir terpapar dari wajah-wajah mereka.
   
Di hari itu, ternyata seorang anak manusia harus menelan pil terpahit dalam sejarah hidupnya. Pil yang berukuran lebih bsar dari pada dirinya sendiri. Badan terasa terluluh lantahkan saat dihadapkan dengan tinta takdir yang telah tertulis. Air mata seolah tak malu malu lagi untuk berderai membanjiri liang pipi. Bukan karena tak sanggup. Bukan karena tak kuat. Ini alamiah manusia dengan sifatnya yang lemah. Sekejap pil ini mampu mengubah mimpi menjadi hutan belantara yang terbakar api. Masa depan ? pertanyaan rumit.

Entah apa namanya hidup, ia datang kadang dengan angin segar. Kadang pula dengan tebasan pedang yang tak tak kenal lawan. Semua dibabat habis. Katanya hidup ini adalah perhiasan yang tidak akan dibawa mati kecuali amal, ilmu, dan doa. Tertegun mata menatap kosong jalan yang sepi di malam hari, kosong. Katanya hidup ini adil, namun mengapa pil besar itu yang harus diterimanya. Mengapa harus dia. Mengapa. Mengapa bukan yang lain saja. Mengapa harus air matanya yang mengalir.

Menempa hidup adlah seni bagaimana mengubah air mata menjadi rasa syukur. Rasa bahagia bukan ada karena semut semut kecil mengajakmu untuk tersenyum. Bukan pula karena ada kelapa yang bisa kau minum untuk meredakan rasa haus. Bukan. Bahagia ada karena kita memilihnya.

Kata orang bijak, hidup ini hanya drama uji coba. Sebuah seleksi untuk masuk ke tempat yang diberkahi. Menjadi penghuni di tempat berkumpulnya para orang-orang yang diridhai Allah. Alur dan skenario sudah ditetapkan saat kita pertama kali disebut sebagai manusia. 4 bulan dalam ruangan hangat dijaga oleh manusia yang berkaki surga. Sedih, senang, adalah titik-titik ekstrem, waktu ujian memeluk dirinya.

Pil besar itu selalu ingin manusia itu menelannya. Dan memberikan ucapan selamat datang dengan hati yang terbuka.Menerima segala luka yang akan mengiris asa menjadi lembar-lembar penuh nestapa. Mengubah langit biru menadi gulita malam yang mencengkram

“Aku ini manusia biasa,” rintihnya dalam hati.

To be continue….  

00:08 AM
16/02/2017

Di kamar, kemnggisan, Jakarta. Kepengen nulis.