Tidak sengaja ta’bir langit terbuka. Penduduk langit hingar bingar
lari kebingungan. Mereka ingin mengadu. Tentang kitab yang baru saja terbaca
oleh penduduk bumi. Berisi rahasia yang akan mengelupaskan kerak kulit hati
manusia yang mengetahuinya. Mereka pun berlari dari awan satu ke awan lainnya,
naik hingga langit ke lima, tapi mereka tetap kebingungan. Rasa khawatir
terpapar dari wajah-wajah mereka.
Di hari itu, ternyata seorang anak manusia harus menelan pil
terpahit dalam sejarah hidupnya. Pil yang berukuran lebih bsar dari pada
dirinya sendiri. Badan terasa terluluh lantahkan saat dihadapkan dengan tinta
takdir yang telah tertulis. Air mata seolah tak malu malu lagi untuk berderai membanjiri
liang pipi. Bukan karena tak sanggup. Bukan karena tak kuat. Ini alamiah
manusia dengan sifatnya yang lemah. Sekejap pil ini mampu mengubah mimpi
menjadi hutan belantara yang terbakar api. Masa depan ? pertanyaan rumit.
Entah apa namanya hidup, ia datang kadang dengan angin
segar. Kadang pula dengan tebasan pedang yang tak tak kenal lawan. Semua dibabat
habis. Katanya hidup ini adalah perhiasan yang tidak akan dibawa mati kecuali
amal, ilmu, dan doa. Tertegun mata menatap kosong jalan yang sepi di malam
hari, kosong. Katanya hidup ini adil, namun mengapa pil besar itu yang harus
diterimanya. Mengapa harus dia. Mengapa. Mengapa bukan yang lain saja. Mengapa
harus air matanya yang mengalir.
Menempa hidup adlah seni bagaimana mengubah air mata menjadi
rasa syukur. Rasa bahagia bukan ada karena semut semut kecil mengajakmu untuk
tersenyum. Bukan pula karena ada kelapa yang bisa kau minum untuk meredakan
rasa haus. Bukan. Bahagia ada karena kita memilihnya.
Kata orang bijak, hidup ini hanya drama uji coba. Sebuah
seleksi untuk masuk ke tempat yang diberkahi. Menjadi penghuni di tempat
berkumpulnya para orang-orang yang diridhai Allah. Alur dan skenario sudah
ditetapkan saat kita pertama kali disebut sebagai manusia. 4 bulan dalam ruangan
hangat dijaga oleh manusia yang berkaki surga. Sedih, senang, adalah
titik-titik ekstrem, waktu ujian memeluk dirinya.
Pil besar itu selalu ingin manusia itu menelannya. Dan
memberikan ucapan selamat datang dengan hati yang terbuka.Menerima segala luka
yang akan mengiris asa menjadi lembar-lembar penuh nestapa. Mengubah langit
biru menadi gulita malam yang mencengkram
“Aku ini manusia biasa,” rintihnya dalam hati.
To be continue….
00:08 AM
16/02/2017
Di kamar, kemnggisan, Jakarta. Kepengen nulis.
No comments:
Post a Comment