4 Tahun lalu, semangat berapi api tersulut besar untuk
mengisi 1 dari ribuan kursi sebuah universitas di Bandung yang menjadi mimpi
bagi belasan ribu pasang mata anak negeri. Sudah biasa pulang sehabis isya,
sampai pintu tempat les harus dikunci. Di sela-sela usaha, doa pun menjadi
syarat wajib yang harus dibaitkan. Tapi, inginnya dari yang spesial. Seorang
yang dengan tulus memberikan kasih sayangnya sejak aku dalam kandungan. Ibu.
“ma, doakan mela biar masuk ITB,” kataku 4 tahun lalu
“Mama doakan, biar mela bisa masuk kampus yang terbaik
menurut pandangan Allah.” Jawab seorang wanita indah dan soleha pilihan ayah
mela.
-
Pengumuman SNMPTN pun tiba, ternyata jadi biologist di SITH
ITB maupun FMIPA UNJ masih menjadi bayang-bayang, ia belum mampu menyatu dengan
bumi, sehingga belum berwujud takdir bagiku.
Tekad adalah tekad. Kembali aku cantumkan SITH ITB, sebagai
pilihan pertama dari yang utama (wkwk, apaan sih mel). Betapa aku menyukai biologi. Betapa aku ingin
menjadi biologist dari kampus nomor 2 di Indonesia (saat itu).
Semua daya dan upaya diarahkan untuk mampu menembus mimpi
ini. Hingga akhirnya, tanpa sengaja ada yang memperkenalkan Ekonomi Syariah IPB
ke ruang konsultasi belajar Nurul Fikri.
Tanya bersambung tanya, penasaran merajut rasa penasaran
lainnya. Akhirnya, mata ini tertengok ke kampus rakyat yang terkenal dengan
pertaniannya. Runcing pertanyaan pada, lebih baik Ekonomi Studi Pembangunan
ataukah Ekonomi Syariah. Nasihat pun menyapa Ekonomi Studi Pembangunan jadi
bagian dalam hidupku. Begitulah pesan yang disampaikan oleh salah satu kakak
pengajar di NF. Diskusi dengan mama pun terjadi. Apa yang aku inginkan, apa
yang ingin aku ketahui, dan apa yang ingin aku lakukan kelak. Beruntung mama
menyerahkan pilihan padaku tanpa lepas dari bimbingan dan pengarahannya. Niat
pun bulat atas dasar pemikiran.. untuk mengeksplorasi apa yang sesungguhnya dibalik
larangan Allah terhadap aktivitas riba. Sungguhkah riba benar benar haram ? Jika iya, mengapa masih banyak orang yang belum menyadarinya ?
Akhirnya, aku mencantumkan prodi ekonomi yang
berbasis Islam ini pada urutan ke 3. Urutan kedua diisi berdasarkan jejak kakak
sebelumnya. Menjadi sarjana teknik dari kampus beralmet kuning.
Hari tes SBMPTN pun tiba. Selepas ujian, air mata pun
mendera dan membanjiri wajah. Betapa sulit aku rasa untuk mengerjakannya.
Serasa tingkat kesulitannya lebih dari 7 try out yang setiap minggu dijalani.
Menunggu pengumuman, tak berarti aku diam. Azzamku untuk berkuliah di
univeristas negeri telah bulat. Setelah ujian bersama seleksi masuk universitas
dijalani, aku mendaftar 3 ujian mandiri PTN. Sebut saja UI, UGM, dan Undip.
Hari berganti hari, waktu yang ditunggu pun tiba. Aku pun
berseru alhamdulillahirrabil’alamin dengan kebahagian memeluk mama, nenek, dan
tante yang saat itu berada di dekatku. Namun ternyata, hal tersebut masih belum cukup untuk
bisa bertemu teman-teman Eksyar 50 yang kini jadi bagian lembaran hidup mela
selama 3,5 tahun. Ujian dari Allah pun masih
mode on.
Pengumuman ujian mandiri pun satu persatu tiba. Almamater dari
Jawa Tengah dan Yogyakarta ternyata tidak mengiyakan aku untuk masuk menjadi 1
dari ribuan mahasiswa yang beruntung. Akan tetapi, almamater kuning dengan
tangan terbuka menyambutku dengan hangat. Geografi UI menjadi jalan yang
terbuka untuk beridentitas “We are Yellow Jackets.”
Eksyar IPB, Geografi UI. Tanya selalu menjadi penghuni dalam
fikiranku. Hingga akhirnya keputusanku bulat untuk melepas UI dan menerima IPB.
Didasarkan pada satu fikiran yang Allah karuniakan saat itu. “Kamu akan hidup
dengan jurusannya bukan kampusnya. Yang kamu jalani adalah program studinya.”
Berhubung saat itu, fanatisme kampus dalam diri saya cendung pada ITB dan UI.
Syukur Alhamdulillah pilihan 3.5 tahun lalu, akhirnya jatuh pada Ekonomi
Syariah IPB.
Kemudian, 1 semester menjalani dunia kampus, hati saya pun
tidak lantas menyerah. Terbesit keinginan untuk berjuang lagi di SBMPTN untuk
bisa masuk ke SITH ITB. Tapi, dengan berbagai pertimbangan, Allah memantapkan
hati Mela untuk menjadi bagian dari Ekonomi Syariah 50 sepenuhnya: my wonderful
family in IPB.
Dan 3,5 tahun menjadi mahasiswa di sini, doa mamaku pun
terasa benar. Syukur Alhamdulillah, Engkau ijabah doa mama mela, Ya Allah.
Terima kasih engkau telah memberiku Ekonomi Syariah dan IPB. It’s two of the
important things in my life.
Dalam perjalanan belajar di kampus ini, banyak cerita yang
membuat aku belajar, yang membuat mata, hati, telinga, dan pikiran menjadi
lebih terbuka. Sungguh banyak peningkatan yang terjadi selama 3,5 tahun. It such as golden
time to be student of IPB.
Dan aku pun ingin mengatakan padamu bunda,
Inilah jawaban doamu, doa yang besar dari yang terspesial.
Terima kasih mama telah mendoakan mela, bukan untuk masuk ke kampus yang terbaik menurut pandangan kita-manusia, tapi menurut Ia yang Maha Tinggi, yang Maha Indah, yang mengetahui segala apa yang akan terjadi.
Terima kasih ma :).
Aku cukupkan dengan Alhamdulillahirrabil'alamin.
Semoga jalan kedepan penuh dengan kebermanfaatan dan keberkahan dariMu.
Pertama kali dibuat tanggal 21 Januari 2017 11:12 PM di kamar 17 Asrama Putri Dramaga. Lagi liburan, jadi enumerator disertasinya Ibu Qorry (adik Pak Irfan Syauqi Beik).
Kemudian, aku sempurnakan pada 26 Januari 2017 10:38 AM di our sweet home, Kemanggisan, Jakarta.
No comments:
Post a Comment