Featured post

KURANG DARI 50 TAHUN

Aku terbangun di pagi hari Memasuki lentera baru, lensa baru, harapan baru Pelupuk mataku yang lemah begitu berat untuk disingsingkan Te...

Friday, 24 March 2017

Menertawai Diri Sendiri

Aku adalah kumpulan huruf huruf lama yang berdebu. Dilewati arus waktu dan pergantian ruang. Lebih dari sekedar "lewat", aku hampiri beberapa tempat bahkan menjadi bagian darinya. Aku bernafas, berfikir, dan hidup di sana, sekali kali bermain membuat istana dari pasir, tapi setelah itu ombak pun menyapu bersih. Sekali kali aku mendaki meraih puncak tertinggi, tapi ternyata selalu ada yang jauh lebih tinggi.

Aku ini pengelana, sedikit ilmu, dan masih bolong bolong akhlaknya. Aku ini pejalan kaki, memperhatikan sekitar, berinteraksi dengan alam. Kadang aku bertanya pada batu yang diam, kadang pula pada rembulan, terik matahari, angin, dan pelohonan. Mereka tak bergerak, tapi mereka hidup. Mereka bisa merasakan aku, dan aku merasakan kehadiran mereka. Bukan aku ini tidak waras, bukan, sama sekali. Tapi alam sekitar adalah kawan yang suka memberikanku nasihat, mengajarkan dan menegurku dengan lembut.

Sekarang kamu jadi sejarah mel. Kamu tidak akan pernah lagi bertemu dengan perilakumu, pemikiranmu, perasaanmu, amalmu di detik ini. Tidak, sudah tidak bisa. Tapi masih dapat kau datangi, kau tengok lagi untuk jadi cermin, jadi kitab referensi seperti apa kamu dulu.

Aku, sering menertawai diri sendiri. Bukan karena merendahkan. Bukan pula menggangap remeh yang telah lalu. Hanya saja aku bersyukur, bahwa aku sudah melewati proses untuk belajar. Terkadang berbuat salah adalah pintu untuk memperoleh hal yang benar.

Aku baru tahu kurang dari 48 jam yang lalu, definisi dari pendidikan. Bahwa pendidikan adalah membentuk sesuatu sedikit demi sedikit hingga mencapai tingkatan sempurna. Dan aku suka dapat mengetahui itu.

8:37 AM
Mushola Al-Fath Fem Fateta
22 Maret 2017
Singgah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan (padahal sih ke bara wkwk)

Tentang Duri

Duri itu menyakitkan, betul sekali. Tidak salah bila ada yang mengatakannya. Tapi, tergantung pada kita bagaimana menyikapinya. Ada yang hanya diam, tak berpelik sedikit pun. Tak ada angin yang dihembuskan, tak ada aksi yang bergerak.

Ada pula yang mengatakan duri itu bisa melukai kita, hati hati jangan diinjak. Lebih ada peningkatan. Ada kata kata yang digubah, ada aksi yang terwujud. Lebih baik. Tapi, bukankah kelak orang orang setelahnya, bisa saja terinjak dan merasakan sakitnya si duri tersebut.

Tapi di sisi lain, ada yang berkata dengan caci maki lisannya, "duri ada di jalan, engga tahu apa ini jalan, engga seharusnya ada orang yang membuang di sini !" dan ia pun berlalu dengan angin panas pada benaknya. Rumput pun terkesima heran bukan kepalang menatap pada yang baru saja berucap. Seolah rumput pun menggeleng gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.

Tapi, ada satu yang cerdas menurutku, ia tidak hanya mengambil dan membuangnya ke tempat sampah. Lebih dari itu. Ia memprosesnya terlebih dahulu. Ia memotong motong bagian duri menjadi beberapa bagian. Ia sama sekali tidak akan membahayakan orang lain.

Begitu juga setiap ucapan dan perkataan serta perilaku yang orang lain perbuat kepada kita. Berapa pun level tingkat menyakitkan apa-apa yang terbit dari mereka, kita akan selalu punya pilihan. Membiarkan ia terus menjadi duri bagi perasaan dan fikiran kita ataukah menjadi cerdas dengan mengolahnya dengan baik..

24 Maret 2017
22:29
APD IPB