Duri itu menyakitkan, betul sekali. Tidak salah bila ada yang mengatakannya. Tapi, tergantung pada kita bagaimana menyikapinya. Ada yang hanya diam, tak berpelik sedikit pun. Tak ada angin yang dihembuskan, tak ada aksi yang bergerak.
Ada pula yang mengatakan duri itu bisa melukai kita, hati hati jangan diinjak. Lebih ada peningkatan. Ada kata kata yang digubah, ada aksi yang terwujud. Lebih baik. Tapi, bukankah kelak orang orang setelahnya, bisa saja terinjak dan merasakan sakitnya si duri tersebut.
Tapi di sisi lain, ada yang berkata dengan caci maki lisannya, "duri ada di jalan, engga tahu apa ini jalan, engga seharusnya ada orang yang membuang di sini !" dan ia pun berlalu dengan angin panas pada benaknya. Rumput pun terkesima heran bukan kepalang menatap pada yang baru saja berucap. Seolah rumput pun menggeleng gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
Tapi, ada satu yang cerdas menurutku, ia tidak hanya mengambil dan membuangnya ke tempat sampah. Lebih dari itu. Ia memprosesnya terlebih dahulu. Ia memotong motong bagian duri menjadi beberapa bagian. Ia sama sekali tidak akan membahayakan orang lain.
Begitu juga setiap ucapan dan perkataan serta perilaku yang orang lain perbuat kepada kita. Berapa pun level tingkat menyakitkan apa-apa yang terbit dari mereka, kita akan selalu punya pilihan. Membiarkan ia terus menjadi duri bagi perasaan dan fikiran kita ataukah menjadi cerdas dengan mengolahnya dengan baik..
24 Maret 2017
22:29
APD IPB
No comments:
Post a Comment