Featured post

KURANG DARI 50 TAHUN

Aku terbangun di pagi hari Memasuki lentera baru, lensa baru, harapan baru Pelupuk mataku yang lemah begitu berat untuk disingsingkan Te...

Monday, 9 October 2017

Es Batu

Ilmu itu ibarat bongkahan es batu. Tidak bisa kita menelannya langsung. Melainkan harus dipecah menjadi beberapa bagian kecil terlebih dahulu.

Sebuah ilmu kita ibaratkan satu bongkah es batu. Setiap kali seorang guru mengajarkan untuk memahamkan muridnya, saat itu pula berarti sang guru sedang memotong bongkahan es batu tersebut menjadi lebih kecil. Semakin guru itu kreatif, sabar, dan ikhlas dalam mengajar, berarti semakin besar usahanya untuk membuat bongkahan es menjadi bagian yang kecil. Semakin kecil bongkahan es, semakin mudah pula untuk dikonsumsi. Berarti semakin mudah pula ilmu tersebut diserap oleh murid-muridnya.

Begitu pula dengan usaha seorang murid dalam belajar. Semakin ia berusaha, mencoba untuk memahami, mengerjakan latihan soal, membaca buku, dan mengulang ulanginya lagi, maka saat itu pula ia sedang berusaha untuk memotong bongkahan es batu menjadi bagian yang semakin kecil. Semakin ia melakukannya, semakin kecil es batu yang dihasilkan, semakin mudah pula untuk dikonsumsi. Maka, semakin mudah pula ilmu bisa ia terima.

Guru dan Murid sama sama berusaha untuk memecahkan bongkahan es batu. Sama sama berusaha agar guru tak sekedar mengajar dan murid tak sekedar belajar. Agar bongkahan es batu dapat dinikmati dengan nikmat. Agar ilmu dapat diserap dengan baik.

9 agustus 2017
15:55
Di kereta, sedang di stasiun citayam, otw jakarta, pulang dari kampus sehabis cetak skripsi.

Ruang Pendidikan

Dua kata tersebut sarat akan makna sebuah institusi sekolah. Dua kata tersebut erat kaitannya dengan bapak guru, ibu guru, ruang kelas, mengajar, buku, dan pekerjaan rumah (PR). Memberikan pendidikan berarti menyekolahkan anak dengan sebaik-baiknya. Katanya seperti itu.

Pendidikan kini, aku pun tidak tahu bagaimana harus mendiskripsikannya. Bila aku harus melihat seorang ibu mengerjakan PR yang dimiliki anaknya. Anak pun senang dengan hal demikian. Hasilnya, aku tidak yakin ada perubahan dari tidak bisa menjadi bisa. Aku pun tidak yakin terjadi proses untuk terbentuk karakter anak yang kuat, mampu mengatasi permasalahannya, sabar menghadapi apa yang belum ia dapatkan, berjuang untuk memperoleh yang ia inginkan, ulet mengerjakan pekerjaan, rajin, seorang yang gemar untuk berfikir, dan mempertanyakan hal hal yang belum ia ketahui.

Pendidikan kini, aku pun tidak tahu bagaimana harus mendefiniskannya. Bila aku harus melihat ayah dan ibu yang membiarkan anaknya tidak melaksanakan shalat 5 waktu, padahal umur sudah tak lagi terkatagorikan anak kecil. Aku tidak yakin, kebiasaannya mengabaikan shalat akan membawanya menjadi orang yang gemar beribadah kelak, dekat dengan Al-Qur’an, berkarakter islami, sungguh aku sangat khawatir.

Pendidikan kini, aku tidak tahu bagaimana harus menuliskannya. Bila aku melihat bentakkan ayah dan ibu, saat anak ingin bercengkrama dengan mereka. Jalinan satu arah yang terlihat. Padahal perhatian adalah kebutuhan anak yang sangat harus dipenuhi oleh orang tua, agar mereka tumbuh dalam kepercayaan diri, rasa penerimaan oleh keluarganya, dan merasa menjadi diri yang beharga. Bukankah para ibu dan ayah juga pernah kecil. Saat punya banyak cerita tentang bermain, sekolah, dan perasaannya ingin untuk diceritakan kepada ayah dan ibu.

Ruang pendidikan yang sesungguhnya memanglah sekolah. Tapi sekolah yang dibangun dalam keluarga. Ayah, ibu, nenek, kakek, kakak, adik, paman, dan bibi yang menjadi aktor dan aktris penting dalam masa pendidikan anak, masa pembentukan mereka, untuk kelak mereka dapat tumbuh menjalani kehidupannya dengan sebaik mungkin. Menebarkan aroma aklak islami yang mulia, menguatkan kalimat kalimat Allah dengan hati yang mantap, dan meringankan tangan untuk dapat bermanfaat bagi sebanyak banyaknya manusia.

Gedung perpustakaan baru LSI lantai 2
15 September 2017

17:44 PM