Kuduga itu hanya masalah sepele yang lumrah terjadi. Seakan aku menjadi penonton senjata senjata israel yang meluluh lantahkan negeri palestina.
Setiap waktu, tangisan menyeruak dari ibu ibu mujahidah yang tidak ingin anaknya dirampas oleh tangan kejam Israel
Sehabis sholat fardu ditegakkan, shalat mayyit pun kerap dilaksanakan
aku ini siapa ?
saudara mati diinjak injak, dibunuh, disakiti, diambil harga diri dan kehormatmannya, diramas haknya, lalu aku hanya diam ?
hatimu dimana, mela ?
ekonomi diblokade, kemiskinan merajalela, sumber pangan ditutup, bantuan dari negeri negeri tetangga dipersulit, listrik hanya 4 jam per hari, itu pun kalau israel sedang berbaik hati, kalau tidak, sesuka mereka.
Tenggorok yang menahan rasa dahaga, perut yang diserigalai rasa lapar, badan yang istirahat tak dinaungi selimut, dan hati yang setiap hari dikerumuni rasa ketakutan bom, senjata, dan serangan tangan tangan dingin israel.
Sementara kamu, begitu nikmat rasanya dalam kemerdekaan di Indonesia, pantaskah mereka sebut kau saudara ?
Kata Rasulullah, umat Islam satu tubuh. Bila anggota tubuh satu merasakan sakit, maka yang lainnya juga akan merasakan sakit. lalu, apakah hati hatimu hendak terketuk dengan sakitnya jiwa dan raga yang saudara saudara kita alami di bumi palestina ?
Perempuan, yang seharusnya dijaga. Dinikmati begitu rendahnya oleh tentara tentara Israel. Bukan hanya satu, sepuluh, atau seratus, ribuan perempuan perempuan shaliha di sana, diambil kehormatan dan harga dirinya secara rampas. Hingga 28 kali seorang perempuan palestina diperlakukan demikian oleh tentara tentara Israel secara bergantian, memilih untuk mengakhiri hidup dengan membenturkan kepala pada kerasnya batu dinding penjara.
Ada apa di dalam lubuk hatimu, apakah ada batu keras hingga derita derita saudaramu tak mampu menyentuh kepekaan hatimu ?
20 Februari 2018
19:34 PM
Di kereta sepulang kerja, St. Tebet - St. Tanah Abang
Sumber informasi tentang keadaan di Palestina : Mba Zahro (Spirit of Aqsa - AQL's Unit)