Featured post

KURANG DARI 50 TAHUN

Aku terbangun di pagi hari Memasuki lentera baru, lensa baru, harapan baru Pelupuk mataku yang lemah begitu berat untuk disingsingkan Te...

Sunday, 13 August 2023

Bisnis untuk Pemula ala Aang Permana

Artikel 06

Kenapa dulu Aang Permana tidak pakai digital marketing atau bangun-pabrik saat awal awal merintis bisnisnya?. Yang dilakukan saat itu pertama kalinya adalah action sebisanya. Kalau ada input, masukan langsung dilakukan. Jika belum bisa, maka akan ditulis jadi referensi, Someday akan digunakan di waktu yang tepat. Saat membuka awal bisnis, maka modal pun seadanya, goreng pakai penggorengan yang ada di dapur, tidak pelu harus bagus dan baru. Dalam menjualpun customer seketemunya. Semua itu dilakukan secara konsisten dan terus berkembang.

Bisnis itu sederhana ketika kita coba sederhanakan. Justru masalah adalah produk yang kita buat ternyata tidak diinginkan konsumen. Apakah bisnis yang kita bangun itu dibutuhkan oleh customer? Inilah yg disebut market fit. Kita punya produk dan kita tahu mau dijual ke siapa. Dan disanalah ketemu kecocokan. Misalkan, 1 inovasi yang membuat beras itu pulen. Dengan cara itu beras yang pera bisa jadi pulen. Ketika itu diaplikasikan di dalam bisnis cocok atau tidak, ini yg kita perlu uji dengan market fit. Ternyata, biaya tinggi sehingga harganya jadi lebih tinggi. Inovatif memang, tapi ini tidak fit. Ini akan membuat harga jual lebih mahal. Dan akhirnya tidak dibutuhkan oleh pasar (masyarakat).

Cara menetukan market fit : banyak dari kita yang fokusnya ke produk. Sehebat apapun produk yang kita buat, kalau konsumennya tidak perlu, tidak mau beli, akan percuma. Cara menetukan market fit: 1. Tentukan mau buat produknya apa, 2. Tentukan target marketnya dengan spesifik, jangan semua orang ya. Missal anak muda, sma, kuliahan, orang kota.. 3. Mereka maunya apa? Range spesifik harga, pelayannnya seperti apa, bisa ngumpul, harga <20k. 4. Kemudian buatlah konsep dan produk sesuai dengan keinginan market. 5. Lakukan survey/ tanya masukan, di awal awal, jangan terbuai dengan testimony untuk menguatkan produk kita. Dari pola fikir kita, pasti pingin dinilai yang bagus bagusnya. Namun justru ini akan membuat insight kita itu buruk. Testimoni biasanya kan yg bagus bagus, maka kita akan merasa sudah bagus. Nah kita harus sadar diri, kurang pas, jauh dari kualitas competitor, kita akan menganggap produk kiita sudah oke. Yg harus kita tanyakan, apa kekurangannya. 6. Evaluasi masukan market. Yg penting jangan merasa paling benar. Biasanya ego pengusaha itu tinggi. Enak itu menurut konsumen, bukan menurut kita. Caranya, kalau online bisa pakai google form. Kalau offline bisa langsung tanya. Hal yang paling dasar adalah pelayanan, ada masukan untuk produk kita kak?, jangan sungkan untuk bertanya. Tidak perlu yg ribet ribet. Tanya sesedehana mungkin, yang utamanya kita dapat informasi apa yang diinginkan konsumen.

Masa bisnis tidak sama dengan masa pertumbuhan bisnis kita. Bisa jadi tumbuhnya cuma sebentar, sisanya hanya mengulang saja.

Bisnis itun ada tangganya. Setelah paham market kita siapa, maka kita naik ke operasional : desain, laporan keuangan. Kemudian, Managerial; delegasi tugas, mengatur orang. Setelah itu baru Scale up.
Tidak harus semua orang jadi pebisnis. Bisnis itu ribet, perlu tantangan. Setiap tangga dalam bisnis ada tangganya. Semakin besar bisnis kita, banyak sekali godaannya, pusing. Orang orang baru bisa menghargai pengusaha kalau gunung esnya kelihatan. Hati-hati jangan terlena, jangan terbuai.

Gimana cara bisnis di Desa? Usahanya di desa, jualannya di kota. “GO DIGITAL” Ketika kita punya niat yang baik, kita akan ketemu sama orang orang yang baik.
Punya value, goals, memakmurkan banyak orang. Secapek apapun teman teman akan terus berjuang.

Jadi bisnis itu gampang atau sulit? Bisnis itu sulit, perlu tantangan, kiia harus belajar, komunitas, kalau ada masalah, kita akan siap. Inilah jalan terjal penuh tantangan.
Berkembang itu bukan melulu harus nambah cabang, tapi dilihat dari apakah jumlah customer kita bertambah. Jangkau sebanyak banyaknya orang.

Pembagian profit:
30% reinvest
30% bisnis lainnya
30% bagi hasil
10% sosial

Dalam berbisnis kang Aang Permana punya doa “Ya allah berilah rizki sebanyak banyaknya, tapi jangan tingkatkan gaya hidup saya. Selama masih cukup pakai motor, motor saja.

Diambil dari Kelas Enterpreneur Masjid Nurul Ashri 12 Agustus

No comments: