Featured post

KURANG DARI 50 TAHUN

Aku terbangun di pagi hari Memasuki lentera baru, lensa baru, harapan baru Pelupuk mataku yang lemah begitu berat untuk disingsingkan Te...

Tuesday, 29 December 2015

BUKAN DIRIKU

Untuk apa aku berkata
Bila langit tak bersua tuk mendengarkan
Lebih baik membisu, tak cakap aku untuk berbicara


Untuk apa aku berjuang
Jika mentari tak mau menerimaku untuk bersamanya
Lebih baik aku menyendiri, tak pantas aku disandingkan dengannya
Duniaku tak sesurga duniamu
Titianku tak sekilau titianmu
Bintangmu jauh lebih mempesona
Cahayamu terpancar dengan terangnya
Lelah bercucur keringat, pabila aku hanya berlari menujumu
Melelehkan doa menjadi badai penghantam hati
Aku bukan permata yang mampu menjadi pengias dirimu
Aku bukan pula bidadari permadani yang mampu berjanji tuk menunggumu di pintu keabadian
Biarkan aku pergi
aku bukanlah daun untuk kau embuni
aku bukan pula karang untuk kau tempati
Karena surgamu akan datang kepada engkau, bukanlah diriku
Juni 2015

Saturday, 26 December 2015

UNTUKMU DUHAI WAJAH PERADABANKU


Aku bukanlah seorang pemanah
Yang mampu menghunuskan mata panah tepat pada hatimu

Aku bukanlah seorang peramal
Yang mampu membaca dimana keberadaan dirimu

Bahkan aku bukanlah pula seorang angkatan bersenjata
Yang mampu menempa dunia untuk mencari harkat jiwamu

Tak tahu kemana hati ini akan berlabuh
Hingga aku berikan satu satunya kunci p
ada wajah peradaban itu

Tak tahu kepada siapa puisi lukisan hati ini aku bingkiskan
Hingga hanya aku persembahkan k
epada ia yang datang dari sisiMu 

11:36 PM
16 Agustus 2015

Friday, 25 December 2015

KURANG DARI 50 TAHUN

Aku terbangun di pagi hari
Memasuki lentera baru, lensa baru, harapan baru
Pelupuk mataku yang lemah begitu berat untuk disingsingkan
Telingku yang layu tak kuasa untuk menangkap gemuruh azan di surau
Tepat pukul lima lewat sepuluh, raga ini baru mengecup fajar dan menghirup ion baru


Perhalan aku mendengar bongkahan permata yang sedang ditumbuk
dari layar televisi
Perhalan aku menyeruakkan telinga tuk memperhatikan lebih dalam
Perlahan aku dekatkan badan yang berat ini ke sumber permata itu
Suaranya tak keras
Suaranya tak menyakitkan
Ia mengalun begitu sederhana
Iramanya lembut penuh estetika
Terpanalah telinga ini, tuk menghadirkan hati bersamanya
mengajak mata tuk ikut serta padanya
Seorang laki berkoko dan peci sedang memainkan musik surgawi
Ia juga mengenakan kaca mata, penuh arif terpapas diwajah
Dikelilingi bidadara dan bidadari permadani dunia
Suananya terlihat khidmat bagai malaikat sedang memeluk penuh jiwa dan hati mereka
“Mungkinkah kita hidup 70 tahun lamanya ?
Tak banyak nyawa nyawa yang bertahan hingga ke titik persimpangan 70
Tak banyak yang lagi berkesempatan tuk menghadirkan segala keindahan dunia di pelupuk mata
Setiap yang memiliki benaman nyawa di raga, pasti hilang nantinya”
Syair syair yang patah dari sayap langit kini menghidupkan telingaku lebih dalam
Membangunkan setiap sel dalam tubuh yang masih tertidur pulas
Menggumpulkan jutaan ATP
Tuk siap melahap singsingan mentari hari ini, dua delapan agustus dua nol satu lima
Aku bukan bayi yang baru saja menghembuskan nafas pertamanya
Aku bukan pula anak kecil yang sedang bergembira ria berlari bersama teman teman mengejar layang layang
Aku bukan pula remaja yang sedang asyik menikmati panorama dunia yang baru

Lanskap Menakjubkan, dan singasana dunia yang mempesona
Nyawaku telah bersatu dengan dunia 20 tahun lamanya
Ragaku telah bersuarak lebih dari 240 bulan lamanya
Wajahku telah menua 960 minggu lamanya
Berarti kesempatan yang masih aku genggam
Kurang dari 50 tahun lagi
Wajah indah dunia, tak lebih dari 50 tahun lagi aku dapat menikmatinya

Merasakan sejuknya hawa dingin dari udara di pagi hari
Senyum
dan tawa keluarga, rumah mungil yang membuatku nyaman, laptop yang selalu bersama
K
ita tak akan berjalan lebih lama lagi, tak lebih dari 50 tahun lagi
Aku disini tak lebih dari 50 tahun lagi
Status sebagai pengembara kan berakhir kurang dari 50 tahun lagi
B
umi kan siap mencium ragaku dengan panorama tanah coklat kemerahan
Dan kuharap langit siap menyambut nyawaku dengan garis keindahan yang tak pernah bertepi

6:32 AM
28 Agustus 2015
di ruang tamu rumah kemanggisan yang tak bersofa
aku duduk lesehan menyender ke tembok, didepanku ada motor
 yang dijaga di dalam rumah semalam suntuk, pintu depan yang 2/3 terbuka, dan televisi yang sedang menanyangkan net tv. Mama lagi masak, menyiapkan sarapan pagi dan siap mengajar, kakak siap siap untuk berangkat ke kantor. Aku, yah bersma pacarku, tercinta, laptop vaio berwarna hitam , hiks

Adzan

Tertata indah barisan kata yang bersenandung
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Lantunan syahdu yang menyentuh relung hati
Panggilan penuh cinta dari sang maha kuasa
Tuk bertemu, tuk mengigat merasakan kehadiranmu


Ialah alunan romantisa paling menawan di dunia
Segala perhelatan akan terhenti untuk datang ke tempat suci
Membentang kain di atas papah lantai
Menyatukan sanubari dengan zat sang maha pencipta

Minggu, 26 juli 2015

7:39 pm
lagi bikin puisi tentang cemburu, tba tiba adzan
yaudah deh dapat inspirasi buat bikin puisi

Mawar yang Bergemuruh

Dijadikan apa lagi bunga mawar selain untuk simbolik ?
Tahta memandang ia tak bergerak, bisu, dan tuli
Bertemankan tanah, bertuankan air
Hanya butuh rumah, hanya butuh makanan untuk bertahan hidup

Selama ini tak ada bincangan ia memanjat tebing
Dan mengarungi lautan
Terperosok pada bebatuan dan hampir terbawa ombak
Bermandikan keringat, berpakaian kelelahan
Beralaskan  luka, bertapakkan keperihan

Wahai tahta,
Ini tanda juang sedang kibarkan benderanya
Lebih dari air dan tanah yang kau anggap cukup
Tapi butuh ruang untuk bergerak
Bersuara dan bertindak

Wahai tahta,
Pemangku jas hitam, dasi, dan ikat pinggang
Buka pendengaran, penglihatan, dan hatimu
Bahwa rasa telah menyeruak untuk angkat bicara
Bahwa lidah tak lagi mejadi batu dalam sangkar
Kini ia berjalan
Kini ia benar benar hidup

Dan kau tahta
Berubahlah atau mati !

8:29  AM
23 DESEMBER 2015

Lagi di meja belajar kamar asrama sama teh erisa
ceritanya adalah rakyat hanya menjadi simbolik dari negara. negara dengan bebasnya melakukan hal yang dzalim kepada rakyat, yang penting mereka bisa makan dan bertahan hidup tanpa melihat aspek untuk menjadi bebas. mereka kira, yah merekahlah tahta yang berharga, yang paling penting. Padahal tak lebih dari sekedar jabatan yang sesungguhnya untuk rakyat, untuk memberikan ruang bagi mereka untuk merasakan hidup yang sesungguhnya. Rakyat ingin tahta berubah atau kematian peradaban akan terjadi per lahan-lahan.
Hal ini terinspirasi dari jarkoman rakab yang baru diberitahu h-1

Thursday, 24 December 2015

Saat Sajak Terjawab


Sebait dua bait pertanyaan terkadang menghunus dalam telaga dadaku
Mengapa dunia bisa berjalan, padahal tak punya kaki
Lalu bagaimana langit bisa dijunjung, padahal tak ada tiang yang menyanggahnya
Dengungan demi dengungan menjadi asap yang termenung
Hingga sajak pun tercipta ketika pertanyaanku tak mampu terbendung
Tintaku terlalu banyak, untuk bertanya dan bertanya
Mengukirkan setiap fatamorgana untuk dikritisi
Tapi aku tak menemukan pena lain, untuk membalas sajak sajakku
Hingga aku baca tumpukkan buku yang berdebu diujung sana
Jawabannya tepat
Sembilan belas dua puluh kali, sajakku terhunus tepat pada buku itu
Buku kumal kusam, yang ternyata punya warna sama dengan apa yang telah aku gubah
Sajakku pun meleleh seketika
Tinta-tinta pertanyaanku menyeruak tanda genderang telah menemukan kedamaian


22 Desember 2015
5:55 AM
Sebelum siap siap kuliah Hukum Bisnis Syariah I