Featured post

KURANG DARI 50 TAHUN

Aku terbangun di pagi hari Memasuki lentera baru, lensa baru, harapan baru Pelupuk mataku yang lemah begitu berat untuk disingsingkan Te...

Thursday, 26 January 2017

From Biologist to Sharia Economist

4 Tahun lalu, semangat berapi api tersulut besar untuk mengisi 1 dari ribuan kursi sebuah universitas di Bandung yang menjadi mimpi bagi belasan ribu pasang mata anak negeri. Sudah biasa pulang sehabis isya, sampai pintu tempat les harus dikunci. Di sela-sela usaha, doa pun menjadi syarat wajib yang harus dibaitkan. Tapi, inginnya dari yang spesial. Seorang yang dengan tulus memberikan kasih sayangnya sejak aku dalam kandungan. Ibu.

ma, doakan mela biar masuk ITB,” kataku 4 tahun lalu
Mama doakan, biar mela bisa masuk kampus yang terbaik menurut pandangan Allah.” Jawab seorang wanita indah dan soleha pilihan ayah mela.
-

Pengumuman SNMPTN pun tiba, ternyata jadi biologist di SITH ITB maupun FMIPA UNJ masih menjadi bayang-bayang, ia belum mampu menyatu dengan bumi, sehingga belum berwujud takdir bagiku.

Tekad adalah tekad. Kembali aku cantumkan SITH ITB, sebagai pilihan pertama dari yang utama (wkwk, apaan sih mel). Betapa aku menyukai biologi. Betapa aku ingin menjadi biologist dari kampus nomor 2 di Indonesia (saat itu).

Semua daya dan upaya diarahkan untuk mampu menembus mimpi ini. Hingga akhirnya, tanpa sengaja ada yang memperkenalkan Ekonomi Syariah IPB ke ruang konsultasi belajar Nurul Fikri.

Tanya bersambung tanya, penasaran merajut rasa penasaran lainnya. Akhirnya, mata ini tertengok ke kampus rakyat yang terkenal dengan pertaniannya. Runcing pertanyaan pada, lebih baik Ekonomi Studi Pembangunan ataukah Ekonomi Syariah. Nasihat pun menyapa Ekonomi Studi Pembangunan jadi bagian dalam hidupku. Begitulah pesan yang disampaikan oleh salah satu kakak pengajar di NF. Diskusi dengan mama pun terjadi. Apa yang aku inginkan, apa yang ingin aku ketahui, dan apa yang ingin aku lakukan kelak. Beruntung mama menyerahkan pilihan padaku tanpa lepas dari bimbingan dan pengarahannya. Niat pun bulat atas dasar pemikiran.. untuk mengeksplorasi apa yang sesungguhnya dibalik larangan Allah terhadap aktivitas riba. Sungguhkah riba benar benar haram ? Jika iya, mengapa masih banyak orang yang belum menyadarinya ? 

Akhirnya, aku mencantumkan prodi ekonomi yang berbasis Islam ini pada urutan ke 3. Urutan kedua diisi berdasarkan jejak kakak sebelumnya. Menjadi sarjana teknik dari kampus beralmet kuning.

Hari tes SBMPTN pun tiba. Selepas ujian, air mata pun mendera dan membanjiri wajah. Betapa sulit aku rasa untuk mengerjakannya. Serasa tingkat kesulitannya lebih dari 7 try out yang setiap minggu dijalani. Menunggu pengumuman, tak berarti aku diam. Azzamku untuk berkuliah di univeristas negeri telah bulat. Setelah ujian bersama seleksi masuk universitas dijalani, aku mendaftar 3 ujian mandiri PTN. Sebut saja UI, UGM, dan Undip.

Hari berganti hari, waktu yang ditunggu pun tiba. Aku pun berseru alhamdulillahirrabil’alamin dengan kebahagian memeluk mama, nenek, dan tante yang saat itu berada di dekatku. Namun ternyata, hal tersebut masih belum cukup untuk bisa bertemu teman-teman Eksyar 50 yang kini jadi bagian lembaran hidup mela selama 3,5 tahun. Ujian dari Allah pun masih mode on.

Pengumuman ujian mandiri pun satu persatu tiba. Almamater dari Jawa Tengah dan Yogyakarta ternyata tidak mengiyakan aku untuk masuk menjadi 1 dari ribuan mahasiswa yang beruntung. Akan tetapi, almamater kuning dengan tangan terbuka menyambutku dengan hangat. Geografi UI menjadi jalan yang terbuka untuk beridentitas “We are Yellow Jackets.”

Eksyar IPB, Geografi UI. Tanya selalu menjadi penghuni dalam fikiranku. Hingga akhirnya keputusanku bulat untuk melepas UI dan menerima IPB. Didasarkan pada satu fikiran yang Allah karuniakan saat itu. “Kamu akan hidup dengan jurusannya bukan kampusnya. Yang kamu jalani adalah program studinya.” Berhubung saat itu, fanatisme kampus dalam diri saya cendung pada ITB dan UI. Syukur Alhamdulillah pilihan 3.5 tahun lalu, akhirnya jatuh pada Ekonomi Syariah IPB.

Kemudian, 1 semester menjalani dunia kampus, hati saya pun tidak lantas menyerah. Terbesit keinginan untuk berjuang lagi di SBMPTN untuk bisa masuk ke SITH ITB. Tapi, dengan berbagai pertimbangan, Allah memantapkan hati Mela untuk menjadi bagian dari Ekonomi Syariah 50 sepenuhnya: my wonderful family in IPB.

Dan 3,5 tahun menjadi mahasiswa di sini, doa mamaku pun terasa benar. Syukur Alhamdulillah, Engkau ijabah doa mama mela, Ya Allah. Terima kasih engkau telah memberiku Ekonomi Syariah dan IPB. It’s two of the important things in my life.


Dalam perjalanan belajar di kampus ini, banyak cerita yang membuat aku belajar, yang membuat mata, hati, telinga, dan pikiran menjadi lebih terbuka. Sungguh banyak peningkatan yang terjadi selama 3,5 tahun. It such as golden time to be student of IPB.

Dan aku pun ingin mengatakan padamu bunda, 
Inilah jawaban doamu, doa yang besar dari yang terspesial.
Terima kasih mama telah mendoakan mela, bukan untuk masuk ke kampus yang terbaik menurut pandangan kita-manusia, tapi menurut Ia yang Maha Tinggi, yang Maha Indah, yang mengetahui segala apa yang akan terjadi.
Terima kasih ma :).
Aku cukupkan dengan Alhamdulillahirrabil'alamin.
Semoga jalan kedepan penuh dengan kebermanfaatan dan keberkahan dariMu.

Pertama kali dibuat tanggal 21 Januari 2017 11:12 PM di kamar 17 Asrama Putri Dramaga. Lagi liburan, jadi enumerator disertasinya Ibu Qorry (adik Pak Irfan Syauqi Beik).
Kemudian, aku sempurnakan pada 26 Januari 2017 10:38 AM di our sweet home, Kemanggisan, Jakarta.

Sebuah Nama

Candu rindu menguak ke permukaan
Membesitkan genderang rasa ingin bertemu
Sebaris demi sebaris, hingga tumpukan buku menjadi jalanku untuk mengenalmu
Seakan ingin menjadi jari telunjuk yang selalu menyertai jari tengah

Dua-tiga akhlakmu jadi kacamata penuh estetika saat kubayangkan dirimu
Barisan kata menjadi hidup untuk menggambarkan anggunnya budimu dalam bertindak
Menjelma rembulan yang indah, menandangi sinarnya sang mentari
Engkau yang dirindu oleh milyaran hati
Engkau yang dibaitkan dalam syahadat kami kepada Sang Maha Tinggi

Sebuah nama,
Nama pemimpin kami
Sebuah nama,
Muhammad saw

10:19 PM
21/10/2016
Lagi kepengen nulis

Di kamar asrama