Featured post

KURANG DARI 50 TAHUN

Aku terbangun di pagi hari Memasuki lentera baru, lensa baru, harapan baru Pelupuk mataku yang lemah begitu berat untuk disingsingkan Te...

Saturday, 23 September 2017

Kita adalah Rambu

Jika dalam sebuah laju, seorang pengendara yang tak tahu jalan, maka ia akan mengikuti rambu. Lurus, belok kanan, belok kiri, dilarang berhenti, dilarang parkir, jalan terus, dan lain sebagainya. Rambu-rambu lah yang akan memberikan arahan untuk pengendara sampai ke tujuan dengan tepat dan selamat, tanpa tersesat jalan.

Pengendara ibarat seorang anak, yang dilahirkan ke dunia tanpa punya pengetahuan apapun. Ia tidak mengetahui bagaimana caranya untuk sampai ke titik akhir dengan selamat. Agar ia tidak tertipu dengan jalan jalan yang dapat membuatnya "tersesat" dan menyesal kemudian. Sedangkan kita, orang tua, keluarga, dan orang orang yang ada di sekitar anak adalah rambu. Kita yang akan menunjukinya jalan jalan yang diridhai Allah. Membentuknya untuk menjadi manusia yang merindu dan dirindukan Allah. Mendidiknya agar kelak tumbuh menjadi pribadi tangguh yang tahu jati diri, kemana titik akhir yang hendak ia tuju. Tidak akan tersesat dan menyesal kemudian.

Sabtu, 23 September 2017
13:10
Otw stasiun bogor (sedikit lagi insyaAllah sampai)

Wednesday, 20 September 2017

Any Perfection?

Ruang mana yang terasa kurang?
Ini ataukah itu? 
Pemuda itu bertanya pada kekasihnya

Lebih baik untuk mawar merah daripada putih
Lebih indah gorden bermotif daripada polos
Lebih menarik bangku bila diletakkan di sisi kiri
Lebih bagus bila lampunya ditambahkan menjadi dua
Jawab sang tambatan hati kepada pemuda

Pemuda pun terdiam
Memilih hening di dalam ruang kepalanya

Tidak, adinda
Jawabnya sepatah dua kata

Semuanya sudah cukup baik
Terasa indah
Begitu menarik terlihat
Telah kupilihkan yang terbaik untukmu
Bait bijaknya mulai tersyairkan

Pemuda pun melanjutkan
Tiada hendak dunia perlu diperindah
Agar lebih indah dimata
Menarik pikatan hati
Dan memiliki segala yang diingini hasrat

Cukuplah satu yang kita butuhkan

Menggunakan kacamata yang sama
Membersihkan lensanya
Mengenakan dengan tepat
Dan menjaga dengan sebaik baiknya

20 September 2017
Kemanggisan, Jakarta.

Monday, 11 September 2017

Mengerti Arti

Suara tangis itu hendak membuka sebuah cakrawala baru. Sembilan bulan tanpa warna, kini terbuka penuh karya sang Rabbi. Tangis haru, syukur tak terkira adanya. Decak wajah penuh cinta saling menatap beriringan dengan pujian kepada sang illahi. Ibu, ayah, kedua nenek, kedua kakek, bibi, paman, kakak, dan adik. Semua berseru "Alhamdulillahirrabil'alamin".

Tangan yang tak terasa lelah saling bergantian untuk mengerat sang bayi. Wajah wajah umpama bulan yang bersinar. Kebahagian yang dalam melekat erat dalam sanubari, terekspresikan dengan senyum indah yang tiada dua. Bait bait sang ilahi segera dilantunkan agar -yang baru saja datang- kembali pada fitrahnya.

Tak ada pengetahuan yang melekat padanya. Tanpa kain yang dibawa. Tanpa harta dan tahta yang membaui dirinya. Ia hadir tanpa bulir bulir dunia. Begitu murni, belum ada titik titik hitam bercak kekeliruan.

Kejadian ini. Mengingatkan bahwa -yang baru saja datang- bukan berasal dari dunia ini. We came, and someday we will gone. But somehow, there's true love that gave us warm attention and biggest affection, they're mom, dad, grandma, grandfa, uncle, aunt, sist, brother, and all big family. 

"God, who create you" and "fams, who become -God hand- to grow you up, educate you, teach you, and help you fully" are two things that you should give the best thanks for them.

Best thanks for them.
Be solih, be solihah.

11 September 2017
02:41 AM