Featured post

KURANG DARI 50 TAHUN

Aku terbangun di pagi hari Memasuki lentera baru, lensa baru, harapan baru Pelupuk mataku yang lemah begitu berat untuk disingsingkan Te...

Monday, 11 September 2017

Mengerti Arti

Suara tangis itu hendak membuka sebuah cakrawala baru. Sembilan bulan tanpa warna, kini terbuka penuh karya sang Rabbi. Tangis haru, syukur tak terkira adanya. Decak wajah penuh cinta saling menatap beriringan dengan pujian kepada sang illahi. Ibu, ayah, kedua nenek, kedua kakek, bibi, paman, kakak, dan adik. Semua berseru "Alhamdulillahirrabil'alamin".

Tangan yang tak terasa lelah saling bergantian untuk mengerat sang bayi. Wajah wajah umpama bulan yang bersinar. Kebahagian yang dalam melekat erat dalam sanubari, terekspresikan dengan senyum indah yang tiada dua. Bait bait sang ilahi segera dilantunkan agar -yang baru saja datang- kembali pada fitrahnya.

Tak ada pengetahuan yang melekat padanya. Tanpa kain yang dibawa. Tanpa harta dan tahta yang membaui dirinya. Ia hadir tanpa bulir bulir dunia. Begitu murni, belum ada titik titik hitam bercak kekeliruan.

Kejadian ini. Mengingatkan bahwa -yang baru saja datang- bukan berasal dari dunia ini. We came, and someday we will gone. But somehow, there's true love that gave us warm attention and biggest affection, they're mom, dad, grandma, grandfa, uncle, aunt, sist, brother, and all big family. 

"God, who create you" and "fams, who become -God hand- to grow you up, educate you, teach you, and help you fully" are two things that you should give the best thanks for them.

Best thanks for them.
Be solih, be solihah.

11 September 2017
02:41 AM

No comments: