Featured post

KURANG DARI 50 TAHUN

Aku terbangun di pagi hari Memasuki lentera baru, lensa baru, harapan baru Pelupuk mataku yang lemah begitu berat untuk disingsingkan Te...

Sunday, 25 June 2023

Seni Bergaul di Tengah Masyarakat

Artikel 01

Bergaul berarti memaksimalkan potensi dalam diri kita. Seni bergaul adalah bagian dari kemanusiaan. Adalah sebuah keniscayaan, kita sebagai makhluk sosial pasti butuh dan mesti bergaul dengan sesama. Sebab Allah menjadikan kita laki laki dan perempuan, berbangsa dan bersuku suku, di antaranya untuk saling mengenal. Dan yang terbaik dari kita adalah orang yang mengajak pada kebaikan, jalan taqwa. Pahamilah bahwa setiap diri kita mempunya potensi yang besar untuk mengajak orang lain kepada dakwah.

Allah menciptakan kita untuk saling mengenal, bukan untuk saling berhadap-hadapan. Konsep manusia adalah mad'u. Kalau tidak begitu, kita bawaannya akan kesal terus dengan orang lain. Sebutlah semuanya adalah mad'u.

Suatu metika Rasulullah SAW hendak menemani Aisyah pergi menghadiri undangan pernikahan salah satu kawannya, Rasulullah SAW melihat acara pernikahan ini sepi dari hiburan. Lalu beliau berkata, "Aisyah, bukankah kawanmu yg menikah ini adalah orang anshor yang terbiasa suka dengan syair, lagu, nyanyian dan hiburan lainnya?" Tak lama kemudian, Rasulullah membacakan syair untuk mengisi/menghidupkan acara tersebut. Dari potongan kisah bagian keseharian beliau tersebut, Rasulullah memberikan gambaran bahwa harus dekat dan tahu di mana kita berada. Bukan justru mengekslusifkan diri dari kebiasaan masyarakat kita berada, dengan catatan kebiasaan tersebut sejalan dengan koridor dan nafas Islam.

Rasulullah saat mendapatkan gelar Al-'amin; gelar masyhur yang diberikan oleh kafir Quraisy, bukan para umat mukmin. Dapat dibayangkan, berapa kaum kafir Quraisy pun yang menentang risalah Rasulullah kelak bersaksi bahwa Muhammad sungguh orang yang sangat terpercaya. Predikat tersebut beliau dapatkan dari cara pergaulan yang sangat baik dengan masyarakat Mekkah kala beliau muda, belum menikah, dan belum pula diangkat menjadi rasul. Itu adalah harga mahal dari hasil pergaulan yang sangat baik dengan orang orang di Mekkah, tanpa pandang suku dan kabilah.

Seseorang yang manfaatnya terasa di masyarakat, eksistensinya akan diakui. Jangan sampai secara je facto ada, tapi secara de jure kita tidak ada. Kita tidak hadir menjadi ruh, bagian yang benar benar hidup di tengah masyarakat.

Sekarang Islam dianggap asing oleh sesamanya sendiri. Bahkan bukan oleh orang di luar Islam. Namun sayangnya, banyak yang keliru mengartikan "Kaum Ghuroba".

Ghuroba adalah orang-orang yg senantiasa memperbaiki diri, maju ditengah tengah masyarakat untuk peduli dan berani memperbaikinya. Dokter kalau ada pasien sakit, maka dia maju, bukan mundur. Bertarung lah, berinteraksilah, dengan lawan-lawan kita yang terlihat ataupun tak kasat mata dengan berbagai niatan dan agenda-agenda tidak baik di belakangnya. Ghuroba juga berarti mereka yang senantiasa berusaha menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW dan mengajarinya ke orang lain.

Namun, perlu diwaspadai ketika kita berjuang untuk memperbaiki sebuah masyarakat, jangan melupakan tujuan utama agenda kita. Sebab semuanya mungkin akan terlupa bahkan berbelok, kecuali orang yang Allah rahmati.

Ikhtilat : bercampur baur dengan masyarakat. Boleh? Boleh, tapi harus kuat dengan fitnah fitnahnya.

Contoh apabila ada orang sholeh tinggal di Masjidil Haram, yang satu lagi tinggal di lokalisasi yang banyak haramnya. Mana yang lebih hebat di antara keduanya? Kalau di Masjidil Haram, daya godanya kurang. Atmosfernya akan membawa dia semakin Sholeh. Tapi di wilayah lain yg banyak haromnya, ia bisa tetap bertahan menjadi Sholeh, ini yang luar biasa. Begitu kedua orang ini bertukar tempat, ada kemungkinan orang shaleh yang berada di Masjidil Haram tidak dapat bertahan di daerah lokalisasi yang banyak haramnya. Artinya jangan pernah kita merasa aman dulu. Allah telah menginstal dalam diri manusia untuk menjadi taqwa ataupun futur. Keduanya mungkin saja berganti. Allah mudah membolak balikkan. Maka mintalah selalu pada Allah untuk selalu dibimbing menuju jalan taqwa.

Siapa yang mengatakan manusia telah rusak, maka ia lebih rusak dibanding orang yang ia sebut. Jangan pernah merasa lebih baik dari orang lainnya. Biasanya orang menjadi tersekat-sekat, karena kita merasa lebih baik dari masyarakat lainnya. 

Pertama, kita harus paham yang namanya 'urf (tidak ditolak mentah mentah, tidak terima bulat bulat). Masing masing masyarakat punya tradisi keagamaan/sosial.

Dulu masyarakat jahiliyah Mekkah, menggunakan anak panah untuk memberikan nasib dan menentukan apa yang akan merek kerjakan, kebolehan ataupun larangan untuk melakukannya, yaitu  if'a dan la taf'a. Kemudian, ada kebiasaan tradisi mengikuti arah burung terbang ke mana. Inilah dua di antara urf yang tidak disetujui Rasulullah, sehingga beliau tidak melaksanakannya sebab bertentangan dengan keyakinan fitrah Islam bahwa Allah lah yang telah mengatur segalanya. Bahwa Allah-lah tempat semua kita menggantungkan harapan dan nasib, bukan kepada arah panah ataupun makhluk lainnya.

Namun, urf lain seperti Gulat, adu gulat, tidak dihapuskan. Rasulullah pun bergulat. Sebagaimana tidak langsung ditolak, namun tidak diterima mentah mentah juga.

All Urf ada 2, yakni Al urf shalih yang berarti kebiasaan yang sesuai syariat dan tidak tertolak, serta Al urf fasid yang berarti kebiasaan yang merusak.

Sesuatu yang dimunculkan dengan tradisi (tidak bertentangan dengan syariat), akan setara dengan dalil. Apa yg di mata orang Islam buruk, maka di antara Allah itu buruk. Maka ketika ada urf di tengah masyarakat, carilah dalil umumnya. Misal kerja bakti: watawasaubil Haq.  Walaupun tidak ada dalil khusus tapi sejalan dengan ruh syariat. Maka kenalilah tradisi kampung kita. Kalau kita masuk, masuklah dengan baik. Jangan mudah memvonis manusia lainnya apabila ditemukan perbedaan-perbedaan.

Suatu ketika di zaman Rasulullah SAW, ada seorang laki laki yang minta kekhususan zina boleh hanya untuknya. Kemudian Rasullah yang tahu multak itu salah, tidak lantas marah dan memaki lelaki tersebut. Dengan wajah bijak dan penuh hikmah, Rasulullah SAW menanyakan padanya, "Apakah kamu punya ibu? Punya istri? Punya anak perempuan? Bagaimana perasaannya jika ibumu, istrimu, anak anak perempuanmu dizinahi oleh orang lain?" Maka di saat itu pria tersebut bertaubat dan tidak pernah berzina lagi. Dengan bil hikmah inilah, akan membuat orang lain menjadi lebih baik.

Ada juga pencuri di zaman Rasululllah SAW yang minta dispensasi untuk boleh mencuri khusus dirinya. Kemudian Rasullah berpesan, boleh tapi tidak boleh bohong. Itu saja. Jangan Bohong. Suatu ketika pria tersebut dengan melakukan aksinya dengan menggondol barang. Tapi ia ingat janji dengan Rasulullah bahwa tidak boleh bohong. Inilah betapa bijaknya Rasulullah SAW, dimana jika seumpana yang sakit mata, tapi yang disuntik tangan. Bukan matanya, karena nanti bisa pecah. 

Kita tidak boleh menghalalkan segalanya, tapi kita tidak boleh juga terlalu saklek. Rasulullah Saw saat menyampaikan nasihat akan melihat siapa yang didakwahinya. Rasul akan memahami kondisinya. 

Suatu ketika juga datanglah orang Baduy Arab pedalaman yang pipis di pojok masjid. Sahabat melarang dengan bahasa keras, dilabrak. Namun justru, saat itu Rasulullah itu melarang yg melarang orang arab Baduy tersebut. Biarkan sampai selesai dulu pipisnya.

Berikan 70 udzur kepada saudaramu, saat mereka melakukan yang tidak kamu sukai. Berikan udzur syar'i. Agar tidak ada kotor hati kepada saudara kita. Sampai kita tidak mudah menaruh curiga kepada orang lain ataupun vonis, termasuk juga kepada lawan politik di tahun tahun politik ini.

Rasulullah SAW dalam hadist Mursal (Ada 1 riwayat yg kosong) melarang memanggil saudara kita wahai babi, keledai.. kalau zaman sekarang, cebong. sebab nanti Allah akan tanya kepada manusia, apakah kamu melihat saat Aku menciptakan hambaku sebagai babi/keledai.. kampret/cebong. Karena itu masuk ke dalam fasik (mencelanya).

Kalau dalam bermasyarakat, pasti ada ikhtilaf. Sebuah ijtihat tidak bisa mematahkan ijtihat lainnya. Maka banyak banyaklah bertoleransi dan berikan udzur yang banyak agar tak sampai hati menjatuhkan suudzon kepada orang lain 

Hal ini dilaksanakan dalam rangka meyatukan umat Islam. Karena menyebankan perpecahan tidak ada khilafiyah itu pasti haram.

Biasanya, sikap sikap mengingkari muncul karena kurang bacaan saja. Tahanlah sikap mengingkari. Biasanya hanya karena kita kurang jaun bacaannya, pengetahuannya.

Mungkin kita beda di persoalan satu ini, tapi sama di banyak hal lainnya. Jangan lupa Kita ADABUL IKHTILAF.

Siapa yg beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetanggamu.
Sebarkanlah salam. 1 hal yg akan membuat kalian menjadi saling mencintai.
Manusia terbaik adalah yag lebih dahulu memberikan salam

Abu Sofyan dan orang orang Quraisy lainnya tertarik dengan Islam salah satunya karena mereka merasa diorangkan, akhirnya mereka akan merasa terpincut. Maka sangat perlu kita untuk "mengorangkan orang".

Kalau Khalid bin Walid adalah seorang panglima perang sebelum masuk Islam, maka setelah masuk Islam, Rasulullah pun menempatkannya sebagai seorang panglima. Inilah "mengorangkan orang".

Abu Sofyan sebagai orang yg terpandang saat sebelum masuk Islam, maka setelah masuk Islam ia pun ditempatkan sebagai orang yang terpandang. Inilah "mengorangkan orang".

Inilah fiqud dakwah yg mesti kita lakukan agar dakwah dapat diterima dengan sebaik-baiknya.

Ringkasan materi dari Ust. Farid Nu'man

No comments: