Featured post

KURANG DARI 50 TAHUN

Aku terbangun di pagi hari Memasuki lentera baru, lensa baru, harapan baru Pelupuk mataku yang lemah begitu berat untuk disingsingkan Te...

Wednesday, 2 January 2013

Dia



Berdirinya terlamun
Terbayang jauh luapan khahayalku
Terhenti seolah benar-benar mati
Hati terdiam
Seolah tak percaya
           Awan yang kupandangi
           Menggiringku ke masa yang redup
Sedikit hilang cahayanya
Membuatku ragu untuk terus melangkah
Berharap dan menyimpan gumpalan rasa pada dirinya
Bola mata mengahakimi
Sesuatu yang tak berselera
Bagai ulat ada di mutiara
                Jauh terpaku
                Hanya rona senyuman
                Kupaparkan diwajah ini
                Begitu indah
                Tetapi tak kuat
                Mudah roboh
                Hanya dengan tiupan angin sendu
Kukira hanya kaulah satu-satunya
Ketika semua redup
Hanya cahyamu
Dapat meluluhkan lenteraku
Dari semua cahaya yang berkilauan
                Kesederahanaanmu dalam melangkahkan kaki
                Mempesonakan relung hatiku
                Tak ada kata tidak untukmu
                Dalam lembaran – lembaran mimpiku bersamamu
Bila bintang jatuh
Jika rembulan menghilang
Seandainya cahaya matahari redup
Tak mungkin air akan terus berada disini
Mengalir dengan derasnya
Pasti ia akan surut
Pasti ia akan menguap
                Dahulu,
                kau
                Bagai kupu-kupu indah
                Tapi tak tahu betapa indahnya
                Tapi semua orang tahu akan keindahannya
Kini
Es pun mencair
Awan pun gelap
Kayu mendai lapuk
                Selamat tinggal kawan..
                Kulepas rasa ini
                Menjauh dari angan tak pasti
                Meninggalkan harapan cahaya yang kudambakan
Kuharap bumi terus berputar
Hingga kutemukan cahaya lain
Yang lebih terang
Yang lebih indah
Untuk ku hiasi dunia
Penuh dengan kumparan cahaya

Panggung Dunia



Sepoi – sepoi angin gemericik
Balutan melodi melambai indah
Genangan hitam menutupi lubang – lubang
Aluanan awan syahdu dimainkan
                Bertopeng hijau
                Gemerlap berkilaulan
                Salju permata
                Mengharmonikan seribu pancaran pesona
Gumpalan bumi jatuh berlutut
Semenanjung pun terpukau padanya
                Hanya gundukan tanah
                Bercerai berai padanya
                Memuntahkan gemerlap tak berarti
                Memusnahkan warna-warni dunia
                Membisukan dentaman permata
Hanya alunan putih
Secerah sang surya
Kan menyinari
Sejadah panjang
Kekal nan abadi

December 26th 2012
On the bus, go to Taman Mini Indonesia Indah with aisyiyah islamic organization

Ayah



Tak jua ratapan hati menatap wajahmu
Seribu luka menepis kehilangan dirimu
                Ayah…..
                Takkan surut tumpukkan rasa rinduku untukmu
                Selaraskan hatiku untuk membendung rasa harapku
Bejana hati yang terkulai
Menembus perasa yang terdalam
                Rasanya lebih baik terhenti aku disini
                Tak kuat menahan ombak yang menghantam
                Letih tubuh ini menanti
                Cucuran kasih sayang dalam dekapanmu ayah
Takkan berhenti setiap langkahan kaki
Selama perjalanan hidup terus menyusuri
Kosong merontang rongga hati
Tanpa ada bahtera kasih sayangmu menyelimutiku
Ku ingin menembus
Surga kebahagian hati
Bersamamu
Selamanya

Kotaku



Suara Gemuruh
Asam hitam menghempas dalam lautan udara
Haluan hawa sejuk terkadang padam
Hiruk pikuk deretan kehidupan ada disini
Putaran kolong jembatan
Menjadi saksi bisu selimut ribuan orang
Hutan rimbun telah berganti era
Himpitan hutan bangunan pun berkibar dengan leluasa
                Bantingan tata karma
                Hentaman pilihan hidup
                Layaknya hambatan pentup jalan
Jembatan ini
Adalah tempat menimba uang
Mencari kumpulan uang logam
Untuk keluarga kecil dirumah
Diatas kayu lapuk yang terbentang
Dalam lautan sampan yang tergenang
            Jeritan bocah
Menyahut menghampiri
Dalam jalan sempit
Kakiku melangkah
Pengap hempasan penuh kerumunan
Asri
Indah
Nyaman
Hanya logokah?
Hanya semboyankah
Seandainya biru hijau
Hidup di Kota bumi pertiwi

Jakarta, December 17th 2010
At 10:35 am
On the way back to home from school ( APB – Public Transport )

QDM~



Lautan cercaan
Larut tak berarti
Hilang tertelan racun
Terhempas dalam simpangan angan jauh
Ketentramannya melambung setitik harapan
Adakalanya dunia ini
Memiliki perasaan

Dia.....
Terasing dari mereka
Tak teracuh sedikit pun
Ratapan tawa
Terbelah bengis
Tak berarti

Hai kawan
Tahukan anda akan hatinya
Mengertikah anda kan perasaannya
Yang selalu melebur setiap waktu
Saat kau mengabaikannya
Meluapkannya sebagai bahan cercaan
Membelahnya hingga rembulan hilang
Matahari surut
Bumi hancur dengan marahnya

Seandainya bulan kucuri
Ku ingin letakkan pada dirinya
Seandainya matahari kudapati
Ku ingin pasang pada pelupuk matanya
Andaikan sinar keindahan
Telah terukir pada rona wajahnya
Pada genggam raganya

Kuyakin
Pasti dunia
Akan membelai wajahnya
Hingga langkah
Tertuju padanya

35 Senior High School, Jakarta, Indonesia
December 17th 2010; Geography class
Wish you be a great man someday
And people will regret all their mistakes to you….