Berdirinya terlamun
Terbayang jauh luapan khahayalku
Terhenti seolah benar-benar mati
Hati terdiam
Seolah tak percaya
Awan yang kupandangi
Menggiringku
ke masa yang redup
Sedikit hilang cahayanya
Membuatku ragu untuk terus
melangkah
Berharap dan menyimpan gumpalan
rasa pada dirinya
Bola mata mengahakimi
Sesuatu yang tak berselera
Bagai ulat ada di mutiara
Jauh
terpaku
Hanya
rona senyuman
Kupaparkan
diwajah ini
Begitu
indah
Tetapi
tak kuat
Mudah
roboh
Hanya dengan tiupan angin sendu
Kukira hanya kaulah satu-satunya
Ketika semua redup
Hanya cahyamu
Dapat meluluhkan lenteraku
Dari semua cahaya yang berkilauan
Kesederahanaanmu
dalam melangkahkan kaki
Mempesonakan
relung hatiku
Tak ada
kata tidak untukmu
Dalam
lembaran – lembaran mimpiku bersamamu
Bila bintang jatuh
Jika rembulan menghilang
Seandainya cahaya matahari redup
Tak mungkin air akan terus berada disini
Mengalir dengan derasnya
Pasti ia akan surut
Pasti ia akan menguap
Dahulu,
kau
Bagai
kupu-kupu indah
Tapi
tak tahu betapa indahnya
Tapi semua
orang tahu akan keindahannya
Kini
Es pun mencair
Awan pun gelap
Kayu mendai lapuk
Selamat
tinggal kawan..
Kulepas
rasa ini
Menjauh
dari angan tak pasti
Meninggalkan
harapan cahaya yang kudambakan
Kuharap bumi terus berputar
Hingga kutemukan cahaya lain
Yang lebih terang
Yang lebih indah
Untuk ku hiasi dunia
Penuh dengan kumparan cahaya
1 comment:
Puisinya menyentuh banget
Post a Comment