Siang ini tanah abang bercerita tentang dua orang pemuda. Pemuda satu bekerja pagi siang sore tuk pulang dengan merogoh rezeki. Lahan parkiran jadi sumber uangnya di dompet. Pemuda kedua bukan pekerja di tanah abang. Ia hanya sedang mampir untuk membeli kebutuhan ibunya. Motor merah jadi kendaraannya tuk penuhi hajat sang ibu.
Motor yang terpakir pun hendak diambil kembali oleh pemuda kedua. Melihat jam di tangan kanannya, terhitung 2 jam 23 menit sudah ia titipkan motornya di tempat itu. "Satu jam pertama dua ribu, satu jam selanjutnya seribu" bacanya dalam hati pada papan yabg tergantung di depan parkiran. Empat ribu ia siapkan di kantong jaket kanannya. Tak lupa karcis masuk sebagai bukti waktu masuknya 143 menit yang lalu.
Matahari yang terik pun hendak mencondongkan matanya pada kedua pemuda ini. Sesampainya di pos parkiran, segera ia keluarkan uang empat ribunya. Siapa sangka, lisan tak terduga pun bicara..
"Enam ribu mas" pemuda satu mulai bicara. Terkejut rasanya si pemuda kedua, ia pun berujar
"Yang bener aja mas, mosok 6 ribu?!"
Pemuda pertama pun mulai salah tingkah. "Ehhh.. 5 ribu mas."
"Tadi saya ke sini jam 10 lewat 48, sekarang jam 13 lewat 11. Jam pertama dua ribu, jam berikutnya seribu. Berarti 4 ribu mas!"
"Tapi ini di komputernya 5 ribu!!" tak mau kalah pemuda pertama memberikan alasan.
Pemuda kedua pun turun dari roda duanya dan mendekati meja komputer.
Belum sampai mata pemuda kedua melihat ke komputer, pemuda satu pun berujar "Empat ribu mas!!"
Akhirnya tak jadi lima ribu, apalagi enam ribu. Tepat empat ribu yang diserahkan.
Bukan tetang uang seribu atu dua ribu yang seharusnya direlakan saja oleh pemuda kedua. Bukanlah ia termasuk orang yang pelit dengan tak mau mengeluarkan tambahan uang sesuai yang diminta oleh pemuda satu.
Itu adalah tentang seorang muslim yang menjaga muslim lainnya agar neraka tak menghalalkan saudaranya untuk menjadi penghuninya. Itu adalah tentang pemuda kedua yang tak ingin ada harta haram masuk ke dompet pemuda satu dan akhirnya menjadi daging di tubuh, sehingga api neraka dengan lezat kobaran api membakarnya. Sungguh ia tidak mau. Sungguh ia tidak rela.
Sepulang dari tanah abang,
Di rumah nenek, tomang

No comments:
Post a Comment