Artikel 03
Ada dua faktor utama yang akan mempengaruhi akhlak atau kepribadian anak, yakni 1). Keluarga sebagai pembawa genetik jasmaniyah dan rohaniyah melalui pewarisan gen dari orangtua langsung kepada anak anaknya. 2) Pembentukan melalui proses pendidikan dan kesabaran. Anak berapa pun usianya mempunyai kepribadian dan karakter yang mungkin berbeda dengan orangtuanya. Orangtua sebaiknya membuat rumah menjadi pusat ketenangan anak. Bila anak punya segudang masalah, namun ia mendapati ketenangan di dalam rumahnya, rumah akan selalu menjadi tempat kembalinya. Namun, jika tidak ia akan mencari ketenangan di luar. Inilah yang membahayakan dan banyak memberikan ancaman luar biasa terhadap ketahanan banyak keluarga.
Ibu sebagai sosok pertama yang membangun perguruan pendidikan untuk anak anaknya. Corak ibulah yang mewarnai pertama kali 'kertas putih' anak anaknya. Contohnya, nabi Musa AS yang menjadi sosok manusia besar, berhasil, sukses karena didikan ibunya. Selain itu, lingkungan yang agamis dan kondusif akan membentuk pribadi anak yang baik rohaninya.
Telah ada suri tauladan yang baik dalam diri Ibrahim dan orang orang yang bersamanya. Dari kisah hidup keluarga beliau, kita bisa mengambil ibroh besar bahwasanya akidah menjadi hal penting yang perlu kita tanamkan dan ajarkan terus kepada anak anak kita. Sebab akidah yang benar dan lurus akan menjadi akar kebaikan yang kuat yang terus tumbuh bersama anak dalam berbagai fase kehidupannya.
Di sisi lain, di negara kita maupun dunia, sering sekali terjadi bencana alam. Banyak peneliti yang mengungkapkan hal ini terjadi karena perubahan iklim global secara ekstrem. Sejumlah kepala negara dari berbagai benua hadir untuk melakukan pertemuan dan mengambil solusi banyak musibah/bencana alam yang terjadi.
Musibah (bencana, kemalangan) artinya adalah sesuatu yang menimpa/mengenai. Hujan bisa menimpa kita tapi itu baik. Tapi, tidak dengan bencana. Itu merupakan hal yang mengenai kita, tapi tidak baik karena menyebabkan banyak kecelakaan, kerugian, dan kerusakan di banyak bidang. Namun kita tahu, bahwasanya, dalam Al-Qur'an segala kerusakan yang terjadi di muka bumi, mulai dari bencana banjir, gempa bumi besar, gunung meletus, tanah longsong, erosi, tsunami, dll terjadi tak lain dan tak bukan karena ulah tangan manusia yang telah berbuat kerusakan di bumi maupun laut.
Padahal semua manusia tahu bahwa penebangan hutan akan menjadi banjir, erosi, yang menyebabkan tanah tak mampu mengikat air hujan. Inilah titik kritis masalahnya; Mereka tahu, tapi tidak mau mengamalkan ilmunya. Pengamalkan ilmu menjadi sesuatu hal yang sangat mengkhawatirkan. Banyak yang tidak takut tidak khawatir perbuatannya akan membuat kerusakan dan membuat orang lain menjadi rugi. Ilmu hanya sekedar formalitas telah mengikuti pembelajaran, namun ilmu tersebut tak kunjung ranum berbuah dan menghasilkan banyak kebermanfaatan.
Jika kita telaah lebih jauh, hal ini disebabkan jauhnya kita terhadap Al-Qur'an. Kini kebanyakan umat Islam tidak merasa memiliki Al Qur'an, jarang berinteraksi dengannya, tidak mengerti, tidak memahami, dan tidak pula mengamalkan. Maka dari semua akar permasalahan, berawal dari masyarakat kita yang tidak mau membaca, mempelajari, dan mengamalkan Al Qur'an.
Seorang pedagang akan jujur terhadap timbangannya, membuat kebaikan dalam perdagangannya, hal itu terjadi hanya jika mereka membaca, mempelajari, dan sungguh-sungguh mengamalkan Al Qur'an.
Dan seseorang tidak mudah marah, jika benar benar mempelajari dan mengamalkan Al Qur'an. Hatinya begitu tenang, lapang, dan mudah untuk menjalani segala ujian dalam hidup. Dan juga meyakini bahwasanya Allah senantiasa menjaga dan mengawasi setiap gerak gerik kita, paha hambanya.
No comments:
Post a Comment