Featured post

KURANG DARI 50 TAHUN

Aku terbangun di pagi hari Memasuki lentera baru, lensa baru, harapan baru Pelupuk mataku yang lemah begitu berat untuk disingsingkan Te...

Thursday, 6 February 2014

BUNDA

Janganlah basah kedua pipimu
Janganlah lembam kedua kelopak matamu
Janganlah terisak desah nafasmu
Janganlah setetes air pun menitik dari wajahmu
                Aku memanglah tak lagi bocah kecil yang suka berlari
                Aku pun tak lagi anak manja yang selalu mendayu
                Hingga aku tak tagi anak remaja yang sering bercanda ria
Walau dimensi zaman yang terus berganti
Tak berisyarat hatiku untuk membelakagimu
Untuk menjauh dari hangatnya pelukanmu
Atau menghilang dari setiap mutiara yang kau siram ke dalam jiwaku
                 Setiap jalan yang kutempuh
                Takkan pernah hilang rasa hormatku padamu
                Takkan pernah lekang nafas baktiku kepadamu
                Hingga takkan cair setiap petuah yang kau bentuk di dalam diriku
Aku kini bernafas dengan bebas
Aku kini melangkah dengan sempurna
Aku kini hidup dengan bentukkan tanganmu
                Jangan pernah lepas harapanmu dalam titah hidupku
                Jangan pernah lepas setiap untaian doamu untukku
                Jangan pernah lepas dalam penjagaanmu terhadap diriku
00 :21 AM
Februari, 6 2014

Sehabis diceritakan kisah sahabat nabi yang penuh hikmah
membuat saya teringat kehangatan ketika masih kecil dan tetap terjaga hingga sekarang
I love you mom

Lepas

Tak sejengkal cinta yang tersisa
Tak setapak rindu yang terbayang
Tak sederas kasih yang mengalir
Tak semurni kelembutan yang menyentuh


11:45 PM
February, 5 2014

All For You

Saat matahari terbit
Ku acukan kedua kaki untuk berlari
Menangkap sinarnya
Dan kuberikan hanya untukmu

Saat rembulan bersinar
Ku tapakkan kaki menuju gunung
Ingin ku meloncat
Dan menggiring keindahannya
Kedalam dirimu

Saat lautan memancarkan biru kedamaian
Ku ingin menyelam hingga batas terdalam
Ku akan hirup segala harmoni
Dan akan ku baitkan ke dalam hatimu

special for my beloved sister
we are 'bunga-melati'

February, 5 2013
11:37 pm

Live in The World

Setingggi asa merajut mimpi
Bertemankan rembulan hingga fajar menanti
Taburan cahaya selimutkan tubuh yang lelah
Hingga terlelap dalam rangkulan fatamorgana

11:24 pm

Februari, 5 2014

Saturday, 1 February 2014

The Struggle

Satu tapak jalan kurintis dengan harapan
Jejak bertebaran tanda juang di medan perang
Goncangan meriam tak kandaskan jiwa yang membara
Lupakan luka yang membekas di dalam dada

Hijau lapang bertemankan panas nan tandus
Biarkan sang mentari mengoyak kulit hingga terbakar
Acuhkan daging putih yang merintih kesakitan

Desah nafas mulai terengah-engah
Dunia mulai terasa jauh untuk tersentuh
Berat langkah kaki bagai menarik bumi serta isinya
Keringat pun bercucuran terhempas ke tanah
 
28 Januari 2014
1:43 PM

Hanya Untukmu

Saat fajar menyingsing
Kuingin persembahkkan
Sekuntum bunga melati untuknya

Di balik hamparan
Kilau warna pelangi
Kuingin persembahkan
Sekotak coklat untuknya

Di tengah malam gelap
Ku ingin kecup keningnya
Mempersembahkan kasih yang tulus
Dalam lautan ketenangan
Untukmu ibuku


Special for my wonder woman:my mom
tambahan edit : February 1st 2014 10:12 PM

Permata

Kenapa engkau harus menangis
Menteskan air mata di kedua pipimu
Melembabkan kedua kelopak matamu
Hingga terpancar kesedihan pada rona wajahmu

Lihatlah bumi yang megah
Pelangi berkilau indah
Mentari dengan sinar kehangatan
Dan rembulan dengan pesonanya

Tataplah jalanmu
Hingga melewati garis batas
Menjadikan nyata setiap fatamorgana
Menyentuh setiap angan-angan yang telah terukir

Gali potensimu
Temukan kilauan di dalam harta karun
Harta yang berserakan di setiap sudut ruang
Yang menyebar luas di setiap titik semesta

Menjadikan jiwa lebih hidup
Menjadi nafas lebih bermakna
Penuh arti
Kaulah yang selalu kucari
Ilmu pengetahuan yang bermanfaat J

5:00 PM

5/12/13

More Than Whole of My Life

Lebih dari jaringan dalam tubuhku
Labih dari mata yang terbuka ke segala arah
Lebih dari sungai yang mengalirkan air dengan deras
Lebih dari gunung yang menjadi tiang bumi
Labih dari hutan sebagai paru  - paru dunia
Lebih dari cakrawala yang terbentang dari ufuk timur hingga barat
Lebih dari sawah hijau penuh embun di awal fajar menyingsing
Itulah derap langkah kau ibuku
Begitu berarti dalam setiap bait waktu
Yang terbalut dengan penuh kasih sayang
Pelukkanmu selalu terniang dalam batinku
Terlukis dalam setiap memori
Mengkutubkan setiap aliran darahku
Untuk menujumu selalu
Ibuku

********
Untuk mamaku tersayang
Yang selalu merangkai ku dan kakakku
Menjadi sebatang bunga melati yang bermekaran
Dalam terang-redup warna-warni dunia
8:14 PM
11/1/2013

Di atas kasur tingkat asrama A5 TPB IPB kamar 114
putri dan Rosita sedang menonton film ibu sebagai hiburan selesai UTS minggu ini, yang akan disusul Mata kuliah Pegantar Ilmu Pertanian dan Pendidikan Agama Islam di hari Senin
Metta sedang pulang ke rumahnya di Bogor, tidak terlalu jauh dari IPB
Saya yang sedang mengeksplorasi berbagai kata sebgai hiburan bagi diri saya sendiri, disamping rindu mama di rumah. Yah, lebih baik saya jadikan satu saja ^^
I’m longing for my mom
love you <3

Hembusan Nafas Sang Pengibar Panji

Gerai rumput di padang tandus
Berkibar panji dalam gelegak jiwa
Sekuntum kata bermekaran
Bak pasir putih dalam naungan pantai permadani

Jikalau ranting menusuk kaki
Tak risaukan darah yang menetes
Tak hilangkan tekad dalam jiwa yang bersemi
Menuju satu matahari
Di ujung Arssy

Bukan permainan lakon dalam dunia surgawi
Hentakkan kaki terdengar hingga langit tertingggi
Awan menatap bumi
Memancarkan kilauan nan hakiki
Meniti jalan menuju ilahi

Pacuan kuda di lahan gahar
Memandukannya dengan kobaran dakwah
Penebar seribu rahmat
Menjadi halilintar pembawa keselamatan

Jurang – jurang kotor
Memaki ribuan kali
Mempertanyakan haluan hijau di setiap lembah yang terhampar
Menjadikan mutiara menjadi untaian yang tak berarti

Pelupuk mata hempaskan air mata
Meneteskan setiap harapan yang tertanam dalam lapangnya hati
Mengkisahkan ribuan emas yang lebur dengan waktu

Tetaplah tegak wahai pengobar panji
Tetaplah berdiri meluruskan barisan
Membirukan langit dengan keesaan Allah
Tancapkan kuat dengan penuh rahmat
Hingga menjulang tinggi bendera illahi rabbi


01:32 AM
11/6/13
Puisi ini saya kirimkan ke IKMT IPB dalam perlombaan puisi, tetapi belum berhasil 

Cinta

Tak dapat kuperjelas dengan suara lantang
Berisi seluruh makna yang sulit didefinisikan
Mengisi setiap saluran dalam aliran tubuh
Menghangatkan setiap sendi saat bersamamu

Sulit untuk mengeluarkan embun-embun kasih sayang
Yang terkubur direlung hatiku
Sulit untuk terus memegang erat kedua tanganmu
Agar selalu dekat denganku

Bumi yang terus berputar
Waktu yang terus bergulir
Angin yang terus berhembus
Dan air yang terus mengalir

Mereka adalah mata tajam
Yang mencatat setiap tapakan langkahku
Dalam membaitkan rasa untukmu

Bukan aku merasa kau hina
Bukan aku merasa lebih baik darimu
Tetapi lisanku tak selembut yang kau harapkan
Hatiku tak semurni yang kau dambakan

Mungkin,
Diam
Adalah bahasaku yang terakhir
Diam
Adalah pilihanku untuk mengubur kembali
Gumpalan perasaan
Yang tak akan kau mengerti

9:12 am
January, 29th 2014

In my room, alone