Featured post

KURANG DARI 50 TAHUN

Aku terbangun di pagi hari Memasuki lentera baru, lensa baru, harapan baru Pelupuk mataku yang lemah begitu berat untuk disingsingkan Te...

Saturday, 1 February 2014

Hembusan Nafas Sang Pengibar Panji

Gerai rumput di padang tandus
Berkibar panji dalam gelegak jiwa
Sekuntum kata bermekaran
Bak pasir putih dalam naungan pantai permadani

Jikalau ranting menusuk kaki
Tak risaukan darah yang menetes
Tak hilangkan tekad dalam jiwa yang bersemi
Menuju satu matahari
Di ujung Arssy

Bukan permainan lakon dalam dunia surgawi
Hentakkan kaki terdengar hingga langit tertingggi
Awan menatap bumi
Memancarkan kilauan nan hakiki
Meniti jalan menuju ilahi

Pacuan kuda di lahan gahar
Memandukannya dengan kobaran dakwah
Penebar seribu rahmat
Menjadi halilintar pembawa keselamatan

Jurang – jurang kotor
Memaki ribuan kali
Mempertanyakan haluan hijau di setiap lembah yang terhampar
Menjadikan mutiara menjadi untaian yang tak berarti

Pelupuk mata hempaskan air mata
Meneteskan setiap harapan yang tertanam dalam lapangnya hati
Mengkisahkan ribuan emas yang lebur dengan waktu

Tetaplah tegak wahai pengobar panji
Tetaplah berdiri meluruskan barisan
Membirukan langit dengan keesaan Allah
Tancapkan kuat dengan penuh rahmat
Hingga menjulang tinggi bendera illahi rabbi


01:32 AM
11/6/13
Puisi ini saya kirimkan ke IKMT IPB dalam perlombaan puisi, tetapi belum berhasil 

No comments: