Featured post

KURANG DARI 50 TAHUN

Aku terbangun di pagi hari Memasuki lentera baru, lensa baru, harapan baru Pelupuk mataku yang lemah begitu berat untuk disingsingkan Te...

Friday, 26 May 2017

Menguatkan Iman di Negeri Matahari

Pernah saya mendengar bahwa Islam adalah agama yang menyeluruh. Pernah juga saya mendengar bahwa islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah penyempurna dari apa yang telah ada sebelumnya. Dua pernyataan tersebut menunjukkan "jati dirinya" di negeri matahari, Jepang. Agustus-September 2016 lalu menjadi tanggal yang bersejarah untuk mendapat kesempatan “belajar ” disana. Lebih dari sekedar menjadi negara tujuan kegiatan pertukaran mahasiswa, ternyata Jepang memberikan banyak arti dalam memperteguh keimanan kepada agama Islam.

Berbeda situasi, berbeda lingkungan, dan berbeda orang orang yang dihadapi. Tiga karakater yang menggambarkan keadaan di kota Seiyo, Jepang. Tidak terdengar alunan adzan di sana. Tidak pula mudah untuk menemukan masjid. Shinto dan Budha menjadi mayoritas kepercayaan. Alam ditempatkan sebagai sentra kehidupan. Layaknya mahkluk hidup, alam pun bisa merasakan apa yang kita perbuat terhadapnya. Kehidupan seseorang akan baik, bila ia berbuat baik kepada alam. Begitu pun sebaliknya, mereka percaya bahwa orang-orang yang merusak alam, hidup mereka tidak akan baik.

Setitik demi setitik, sedikit demi sedikit, ajaran Shinto mulai membuka bukunya. Dialog kecil kecilan dan pertanyaan spontanitas kepada teman mahasiswa Jepang, jadi referensi untuk mengetahuinya lebih dalam. Tidak ada kesalahan bukan untuk mengetahui dan memahami bagaimana orang non muslim memilih agamanya. Menganalisa bagaimana cara mereka menempatkan tuhan dalam kehidupannya. Serta membandingkannya dengan apa yang selama ini ada dalam kepercayaan saya, Islam.

Dalam kepercayaan Shinto, setiap tempat memiliki Tuhan. Batu ada Tuhannya tersendiri. Begitu pula pada gunung, jalan, sungai, sawah, laut, hutan, dan lainnya. Tidak diperbolehkan untuk melakukan perbuatan yang merusak disana. Bila kita berbuat demikian, maka Tuhan akan marah dan alam pun akan bereaksi yang buruk pula pada pelakunya. Inilah yang menurut saya menjadi satu landasan utama mengapa Jepang sangat memelihara alamnya. Sampah yang berserakan tidak ada, hampir sempurna tertata rapih. Mungkin dua tiga sampah ada, tapi sangat minim dan agak jarang ditemui. Sungai yang masih terlihat asri, walaupun aroma kota sudah menjadi gaya hidup penduduknya. Kejernihan airnya membuat para pejalan kaki dapat melihat tetumbuhan didalamnya. Pun tidak sungkan bila ingin membasahi telapak tangan dengan airnya. Manusia dan alam begitu hidup seimbang. Masyarakat Jepang menjaga alam dan alam pun menjadi sangat bersahabat dengan mereka.

Selain itu, tempat beribadah kepercayaan shinto menjadi salah satu kunjungan di Jepang. Sebenarnya tidak ada dalam list kegiatan. Kunjungan ini memanfaatkan waktu pagi sebelum beraktivitas. Melihat tata cara mereka berdoa dan melihat bagaimana menempatkan Tuhan ketika mereka beribadah. Dimulai dengan membersihkan tangan dan membasuh wajah, ibadah mereka pun dilanjutkan dengan pemberiaan salam saat memasuki tempat ibadah. Menggerak-gerakan lonceng wujud penghormatan kepada Tuhan di dalam tempat ibadah. Konon yang mereka sembah di dalam tempat ibadah tersebut adalah orang-orang zaman dahulu yang sangat berkiprah bagi masyarakat. Pada akhirnya, mereka meninggal dunia dan menjadi pemujaan bagi mereka, orang-orang yang datang kemudian.

Perbedaan adalah pembelajaran. Perbedaan adalah motif motif unik yang ada pada pakaian masyarakat.  Perbedaan adalah sisi untuk mengerti arti yang tersirat. Dari sinilah Islam lebih kuat dalam mengakar di sanubari. Dari sinilah saya menyadari, bahwa Islam adalah "bila sempurnanya" kepercayaan Shinto. Apa yang ada dalam kepercayaan Shinto, sungguh itu pun ada di dalam Islam, bahkan lebih sempurna. Pola dalam kepercayaan Shinto dan Islam tidak jauh berbeda. Mengapa demikian?
I
slam meyakini bahwa Allah adalah satu satunya Tuhan. Dimana, Dia memiliki banyak malaikat yang bertugas untuk menjaga bumi ini. Bukankah pada setiap air hujan yang turun, disertai oleh malaikat. Bukankah pada setiap tempat ada yang menjaga dan mengawasi kita. Bahkan lebih dari itu, penjaganya ada di sisi kanan dan kiri setiap manusia. Segala kebaikan dan keburukan akan jadi penghuni kitab perbuatan kita. Baik buruknya perbuatan kita, dunia dan akhirat akan menjadi saksinya. Allah akan menampakkan sebagian atau seluruh perbuatan kita saat ini dan nanti. Begitu pun dalam kepercayaan Shinto seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun, dalam Islam, itu jauh lebih sempurna.

Kemudian, kita mengenal adanya wudhu, taharah, membersihkan. Saya pun kaget mengetahui bahwa mereka pun berwudhu sebelum mereka "bertemu" dengan Tuhannya dalam ibadah mereka. Tangan dan wajah menjadi "bersih" untuk mengahadapkan wajah kepada Yang Maha Tinggi. Shinto mengajarkan untuk membersihkan diri sebelum beribadah. Bagaimana dengan Islam yang dibawa sebagai penyempurna ini. Minimal 5 kali dalam sehari, air dibasuhkan pada telapak tangan, mulut dan lubang hidung, wajah, tangan hingga ke siku, kepala, dan terakhir kaki.

Agama Islam sesungguhnya mengajarkan kebersihan yang lebih sempurna daripada kepercayaan Shinto. Betapa hebatnya Islam. Ini yang membuat saya yakin, bahwa kemampuan manusia itu terbatas, seperti halnya kepercayaan shinto yang berasal dari pemikiran manusia. Tidak ada yang mampu menembus batas pemikiran langit, kecuali pemilik langit itu sendiri. Tidak ada yang mampu untuk mengadakan taharah sesempurna itu, kecuali pengadaan oleh pemilik alam semesta ini, Allah SWT.

Mulai ditulis bulan November dan selesai ditulis 26 Desember 2016 11:53 PM
Sebenarnya tulisan ini adalah tulisan kedua yang mela kirimkan ke harian cetak, tapi masih gagal wkwk, engga apa apa, nanti akan ada waktunya InsyaAllah.
Dan baru kepikiran buat diposting di blog akhir akhir ini

Kalau ada kata kata yang kurang tepat, boleh kiranya diberikan masukan, karena sedikitnya pengetahuan yang mela punya. Terima kasih :)

The Main Objective

Perjalanan hidup ini sejatinya akan bermuara pada satu tujuan yang hakiki. Tujuan yang menjadi dasar atas keberadaan kita di semesta ini dan tujuan yang menjadi arah kemana kita setelah menjelah di alam raya ini. Sayangnya jagat dunia ini memang unik. Ia membiaskan banyak jalan dari satu jalan yang seharusnya dipilih dan dilalui untuk kemudian menyelesaikan fase hidup ini dengan baik.

Seperti halnya dalam surat Al-Mulk, sang pencipta diri diri kita menghendaki adanya mati dan hidup untuk menguji siapa diantara manusia yang lebih baik amalnya. “untuk menguji”. Analoginya sederhana, yaitu ujian yang biasa kita dapatkan dari sejak memakai rok atau celana merah hingga jas almamater, ujian pilihan berganda. Dari 3, 4, atau 5 yang ditawarkan hanya ada 1 jawaban terbaik, jawaban yang benar, jawaban yang tepat, dan itulah yang sesungguhnya cari.

Menjadi, cerdas, kaya, popular, penguasa, cantik/ganteng dan servant to Allah adalah beberapa dari banyak opsion  jalan yang dipilih mengenai pencarian arti sesunguhnya dalam hidup ini. Satu yang menjadi titik utama, “The Main Objective”. Apakah sungguh kesempatan besar dan berharga menjadi seorang manusia di bumi, yang dahulunya tiada sama sekali ada, hanya untuk menjadi yang terbaik secara subjektif dihadapan para manusia lainnya yang juga sama sekali tak berarti. Tak bisa dijadikan sandaran. Ada saatnya semua akan redup, semua akan diam, berganti, hilang, dan mati.

Layaknya melakukan sebuah riset, hidup ini pun harus memiliki main objective yang akan mengarahkan kita hingga menuju titik akhir, menyelesaikan fase hidup ini.

Jadi apa main objective untuk hidupmu ?

Jogjakarta, 11 May 2017

7:46 PM 

Wednesday, 17 May 2017

Ekonomi Islam Bicara

Faedah apa yang hendak diwujudkan dengan adanya ekonomi islam ? Membumi hanguskan riba ? Memurnikan jual beli dari ketidakjelasan (gharar) ? Mencegah praktik judi (maysir) dalam transaksi ekonomi masyarakat ? Semuanya betul, tiada yang keliru. Hanya saja butuh sesuatu yang menyempurnakan untuk menjawab   pertanyaan pertama di awal.

Pembubuhan kata "menyempurnakan" akan membuka jendela ekonomi islam yang lebih luas. Bentangan cakrawalanya akan melampaui riba-gharar-maysir. Ia adalah penerang untuk dapat memecahkan masalah transaksi dan segala aktivitas ekonomi umat islam. Memuat terang benderang yang dahulunya gelap tak bercahaya.

Suara ekonomi islam dapat menyentuh berbagai sudut ekonomi umat ini. Mulai dari hal hal yang kecil hingga mencakup makro dan kebijakan ekonomi. Kasus ojek online, aktivitas penjualan rokok, pungutan liar di lembaga pemerintahan dan pemasyarakatan, reklamasi pantai utara jakarta, pembagunan kota dan desa, serta banyak hal lainnya. Kehadiran ekonomi islam idealnya dapat menjadi pintu yang dicari oleh banyak masyarakat. Dengan kunci adil berlandaskan maslahah, diharapkan ekonomi masyarakat akan menjadi lebih menawan.

0:23 AM
16 Mei 2017
Di atas tempat tidur asrama, Asrama putri dramaga.

Kadang

Kadang mata ini diliputi pasir pasir besar
Hingga tak mampu untuk menembus cahaya kebenaran ilahi
Terbius dengan fana yang memeluk diri
Tiada sadar bahwa pundak sedang dicocok oleh panah api
Untuk menuju tempat hina yang terlaknati

Kadang telinga ini tersumbat lelehan besi panas
Tak nyaman mendengar siraman air surga
Tak sampai azan mengetuk ruang hati melalui saluran pendengaran
Bagai cantelan yang tak lebih bernilai dari tanah tak subur

Apa mungkin lagi dibilang "kadang" ?
Saat nanti Sang penebar syafaat memanggil, ummati.. Ummati...
Yakinkah mata dapat melihat dan telinga dapat mendengar seruan itu ?

Yogyakarta, 11 Mei 2017
13:00
Dalam perjalanan ke UGM dari tempat penginapan (Asrama Haji Yogyakarta)

Usaha Terbaik (?)

Aku duduk di bangku baris ke 7 pinggir kiri, berseblahan dengan jendela. Rumah, gedung, jalanan, trotoar, mobil, dan motor menyapa dalam diam di jalan abdul rahman saleh, senen, jakarta pusat. Bus P 106 menceritakan tentang arti sebuah usaha. Usaha yang lebih baik, usaha yanh lebih diridhai, usaha yang membuat Allah tersenyum.

10 menit lalu, seorang lelaki paruh baya menjajahkan dagangannya. Ia menawarkan lampu hemat energi dengan berbagai keunggulannya: lampu lebih terang, harga lebih hemat, terbuat dari plastik sehingga tidak mudah pecah, dan umur yang lebih tahan lama. Sepuluh ribu rupiah berhasil ia genggam dari seorang penumpang yang membeli lampu tersebut.

Keberpulangan penjual lampu disambut dengan pengamen yang menjadi perhatian penumpang. Dari bagian depan bus, ia menyajikan lagu untuk menarik hati orang-orang di dalam bus. Beberapa orang merogoh tas dan sakunya, mengambil beberapa receh rupiah untuk diulurkan ke bungkus permen mentos yang disodorkan oleh pengamen.

Senyum pun terkikis indah melihat keduanya. Aku ingat tadi siang, saat aku mendatangi sebuah kantor bank syariah. Hampir 2 jam aku menunggu, dan akhirnya pertemuan yang dinanti pun tiba. Berselang 5 menit, seorang bapak berkacamata menjelaskan bahwa proposal dan kuisioner yang telah aku serahkan 2 minggu lalu ditolak. Ini kali ketiga aku datang ke sana. Ternyata Allah ingin tahu apakah aku masih sempat mengernyitkan senyum dan melapangkan hati.

Bukan hakikat apa yang kita peroleh dari usaha usaha kita. Setiap orang punya tingkatan usahanya. Sungguh Allah tersenyum saat hamba hambanya melakukan usaha yang terbaik. Pilihlah jalan yang lebih baik seperti halnya satu dari dua orang tokoh di atas bus ini. Bukan aku tak percaya bahwa hasil tidak akan menghianati usaha. Tapi aku lebih percaya bahwa titik mata Allah ada pada juang kita melakukan usaha dalam kehidupan kita.

16:24
17 Mei 2017
Selesai ditulis saat bus melintas di daerah sekitar monas, depan kementerian pertahanan.

Sunday, 7 May 2017

Kata Rembulan

Aku, rembulan
Tersiul kabar aku jadi bunga
Keindahnnya dipuji banyak insan
Terkagum merekahkah lisan dengan mutiara
Dipandangi aku setiap malam
Dengan sungingan senyum yang mencuatkan lesung pipi
"Betapa menawan", ukiran kata mereka terpahat tentang diriku

Aku, rembulan
Berbentuk lingkaran tak sempurna
Sisi kanan ke kiri, sisi kiri ke kanan
Tak mulus permukaannku
Banyak batu dan kerikil
Lubang kecil dan besar menjadi tubuhku
Saat gersang melanda, bagai kebakaran hutan wajahku
Panas, memerah
Saat badai salju menyeruak, aku bagai alat pendingin yang mematikan
Begitu dingin, membeku

Aku, rembulan
Rembulan yang orang orang mengakui keindahannya
Dan aku juga rembulan
Rembulan yang tak seindah diakui orang-orang

16:14
Jumat, 5 Mei 2017
Di KRL menuju bogor, habis ke bni syariah, jakarta untuk ambil data untuk skripsi.
Puisi ini adalah tentang dua sisi. Dua sisi yang dimiliki oleh setiap manusia. Baik dan buruk. Tidak ada yang hanya punya baik dan baik.


Tuesday, 2 May 2017

[Sedikit] Mengenal Ekonomi Islam

Ada sistem yang sempurna, yang membaitkan aturan aturan sang khalik secara komprehensif. Sebagian orang mengenal ibadah sebagai rutinitas di dalam rumah ibadah, sehingga pandangan seperti mempersempit ruang agama dalam kehidupan manusia yang sangat luas.
Tapi, mari kita menyulutkan lilin di tengah kegelapan, memberikan sinar bahwasanya ruang agama itu luas, tidak sebatas pada aktivitas pribadi kepada yang berhubungan langsung dengan Zat yang Maha Kuasa.

Adalah Islam, yang mengatur tata hubungan vertikal dan horizontal dengan begitu elegannya di tengah tengah kehidupan manusia. Karena pada dasarnya agama Islam memiliki dimensi yang sangat lapang. Tidak hanya tentang mengingat sang pencipta kita, tapi juga menjelmakan apa yang Dia terangkan dalam kitab mengenai hubungan antara satu manusia dengan yang lainnya. Peraturan pada hakikatnya bukanlah untuk mengekang, sama sekali tidak. Ia adalah bentuk kasih sayang Allah kepada para hambanya agar dapat terarah dalam menyelami pelayaran kehidupan dunia ini.

Mengislamisasi ekonomi. Bukan berarti its only for muslim. Bukan berarti hanya untuk yang punya iman tebal. Ekonomi adalah kegiatan dasar yang pasti dilakukan oleh semua orang. Setiap yang ingin bertahan hidup, pastilah melakukan aktivitas ekonomi. Karena aktivitas ini yang memiliki sifat mendasar pada kehidupan manusia, sangat disayangkan bila ada suatu sistem terbaik, tapi melewatkan dimensi ini untum diberi pengaturan di dalamnya.

Sempurna, berarti menyeluruh. Sempurna berarti tidak melewatkan satu bagian pun. Sempurna berarti detail detail telah terisi penuh dengan nilai. Itulah nafas Islam. Hebat bukan ?

Ekonomi hakikatnya bukan semata untuk memperoleh keuntungan. Ekonomi adalah jalan untuk mendistribusikan karunia Allah dengan seadil adilnya, agar kesejahteraan dapat menjadi hembusan nafas bagi banyak orang. Persis seperti sila terakhir dari pancasila yaa.

19:39
2 May 2017
Di KRL, sedang di st. Cawang
Bogor - jakarta


You and Me

Aku dan kamu
Kita saling bertanya tentang pertemuan itu
Tentang akhir dari jalan kesendirian kita

Aku dan kamu
Kita saling bertanya tentang rembulan yang kelak hadir di langit hati kita
Tentang mentari yang selalu mendekap walaupun gurita gelap menyapa

Aku dan kamu
Kita saling bertanya tentang nama yang tertulis dalam kitab lauh mahfudz
Tentang siapa yanh Allah takdirkan ketika masih 4 bulan dalam ruang yang begitu hangat penuh kedamaian

Aku dan kamu
Mungkin tak pernah saling kenal
Tak pernah tahu satu sama lain
Tapi bila Allah berkendak bertemu,
Bahkan samudra bukanlah penghalang
Bahkan mawar merah pun tahu kemana ia akan diberi

Aku dan kamu
Aku yang benar benar aku, tanpa kamu tahu ukiran nama di belakang "aku"
Kamu yang benar benar kamu, tanpa aku tahu ukiran nama di belakang "kamu"

Tak perlu berusaha untuk mengira
Tak perlu jua menunjuk semesta untuk memberikan isyarat
Waktu akan datang dengan tepat
Waktu akan berkumandang bila memang harinya datang
Biarlah menuju sang maha cinta saja seharusnya hati hati kita bermuara

2 May 2017
20:10
KRL
Mau masuk ke st. Tanah abang