Featured post

KURANG DARI 50 TAHUN

Aku terbangun di pagi hari Memasuki lentera baru, lensa baru, harapan baru Pelupuk mataku yang lemah begitu berat untuk disingsingkan Te...

Monday, 9 October 2017

Es Batu

Ilmu itu ibarat bongkahan es batu. Tidak bisa kita menelannya langsung. Melainkan harus dipecah menjadi beberapa bagian kecil terlebih dahulu.

Sebuah ilmu kita ibaratkan satu bongkah es batu. Setiap kali seorang guru mengajarkan untuk memahamkan muridnya, saat itu pula berarti sang guru sedang memotong bongkahan es batu tersebut menjadi lebih kecil. Semakin guru itu kreatif, sabar, dan ikhlas dalam mengajar, berarti semakin besar usahanya untuk membuat bongkahan es menjadi bagian yang kecil. Semakin kecil bongkahan es, semakin mudah pula untuk dikonsumsi. Berarti semakin mudah pula ilmu tersebut diserap oleh murid-muridnya.

Begitu pula dengan usaha seorang murid dalam belajar. Semakin ia berusaha, mencoba untuk memahami, mengerjakan latihan soal, membaca buku, dan mengulang ulanginya lagi, maka saat itu pula ia sedang berusaha untuk memotong bongkahan es batu menjadi bagian yang semakin kecil. Semakin ia melakukannya, semakin kecil es batu yang dihasilkan, semakin mudah pula untuk dikonsumsi. Maka, semakin mudah pula ilmu bisa ia terima.

Guru dan Murid sama sama berusaha untuk memecahkan bongkahan es batu. Sama sama berusaha agar guru tak sekedar mengajar dan murid tak sekedar belajar. Agar bongkahan es batu dapat dinikmati dengan nikmat. Agar ilmu dapat diserap dengan baik.

9 agustus 2017
15:55
Di kereta, sedang di stasiun citayam, otw jakarta, pulang dari kampus sehabis cetak skripsi.

Ruang Pendidikan

Dua kata tersebut sarat akan makna sebuah institusi sekolah. Dua kata tersebut erat kaitannya dengan bapak guru, ibu guru, ruang kelas, mengajar, buku, dan pekerjaan rumah (PR). Memberikan pendidikan berarti menyekolahkan anak dengan sebaik-baiknya. Katanya seperti itu.

Pendidikan kini, aku pun tidak tahu bagaimana harus mendiskripsikannya. Bila aku harus melihat seorang ibu mengerjakan PR yang dimiliki anaknya. Anak pun senang dengan hal demikian. Hasilnya, aku tidak yakin ada perubahan dari tidak bisa menjadi bisa. Aku pun tidak yakin terjadi proses untuk terbentuk karakter anak yang kuat, mampu mengatasi permasalahannya, sabar menghadapi apa yang belum ia dapatkan, berjuang untuk memperoleh yang ia inginkan, ulet mengerjakan pekerjaan, rajin, seorang yang gemar untuk berfikir, dan mempertanyakan hal hal yang belum ia ketahui.

Pendidikan kini, aku pun tidak tahu bagaimana harus mendefiniskannya. Bila aku harus melihat ayah dan ibu yang membiarkan anaknya tidak melaksanakan shalat 5 waktu, padahal umur sudah tak lagi terkatagorikan anak kecil. Aku tidak yakin, kebiasaannya mengabaikan shalat akan membawanya menjadi orang yang gemar beribadah kelak, dekat dengan Al-Qur’an, berkarakter islami, sungguh aku sangat khawatir.

Pendidikan kini, aku tidak tahu bagaimana harus menuliskannya. Bila aku melihat bentakkan ayah dan ibu, saat anak ingin bercengkrama dengan mereka. Jalinan satu arah yang terlihat. Padahal perhatian adalah kebutuhan anak yang sangat harus dipenuhi oleh orang tua, agar mereka tumbuh dalam kepercayaan diri, rasa penerimaan oleh keluarganya, dan merasa menjadi diri yang beharga. Bukankah para ibu dan ayah juga pernah kecil. Saat punya banyak cerita tentang bermain, sekolah, dan perasaannya ingin untuk diceritakan kepada ayah dan ibu.

Ruang pendidikan yang sesungguhnya memanglah sekolah. Tapi sekolah yang dibangun dalam keluarga. Ayah, ibu, nenek, kakek, kakak, adik, paman, dan bibi yang menjadi aktor dan aktris penting dalam masa pendidikan anak, masa pembentukan mereka, untuk kelak mereka dapat tumbuh menjalani kehidupannya dengan sebaik mungkin. Menebarkan aroma aklak islami yang mulia, menguatkan kalimat kalimat Allah dengan hati yang mantap, dan meringankan tangan untuk dapat bermanfaat bagi sebanyak banyaknya manusia.

Gedung perpustakaan baru LSI lantai 2
15 September 2017

17:44 PM

Saturday, 23 September 2017

Kita adalah Rambu

Jika dalam sebuah laju, seorang pengendara yang tak tahu jalan, maka ia akan mengikuti rambu. Lurus, belok kanan, belok kiri, dilarang berhenti, dilarang parkir, jalan terus, dan lain sebagainya. Rambu-rambu lah yang akan memberikan arahan untuk pengendara sampai ke tujuan dengan tepat dan selamat, tanpa tersesat jalan.

Pengendara ibarat seorang anak, yang dilahirkan ke dunia tanpa punya pengetahuan apapun. Ia tidak mengetahui bagaimana caranya untuk sampai ke titik akhir dengan selamat. Agar ia tidak tertipu dengan jalan jalan yang dapat membuatnya "tersesat" dan menyesal kemudian. Sedangkan kita, orang tua, keluarga, dan orang orang yang ada di sekitar anak adalah rambu. Kita yang akan menunjukinya jalan jalan yang diridhai Allah. Membentuknya untuk menjadi manusia yang merindu dan dirindukan Allah. Mendidiknya agar kelak tumbuh menjadi pribadi tangguh yang tahu jati diri, kemana titik akhir yang hendak ia tuju. Tidak akan tersesat dan menyesal kemudian.

Sabtu, 23 September 2017
13:10
Otw stasiun bogor (sedikit lagi insyaAllah sampai)

Wednesday, 20 September 2017

Any Perfection?

Ruang mana yang terasa kurang?
Ini ataukah itu? 
Pemuda itu bertanya pada kekasihnya

Lebih baik untuk mawar merah daripada putih
Lebih indah gorden bermotif daripada polos
Lebih menarik bangku bila diletakkan di sisi kiri
Lebih bagus bila lampunya ditambahkan menjadi dua
Jawab sang tambatan hati kepada pemuda

Pemuda pun terdiam
Memilih hening di dalam ruang kepalanya

Tidak, adinda
Jawabnya sepatah dua kata

Semuanya sudah cukup baik
Terasa indah
Begitu menarik terlihat
Telah kupilihkan yang terbaik untukmu
Bait bijaknya mulai tersyairkan

Pemuda pun melanjutkan
Tiada hendak dunia perlu diperindah
Agar lebih indah dimata
Menarik pikatan hati
Dan memiliki segala yang diingini hasrat

Cukuplah satu yang kita butuhkan

Menggunakan kacamata yang sama
Membersihkan lensanya
Mengenakan dengan tepat
Dan menjaga dengan sebaik baiknya

20 September 2017
Kemanggisan, Jakarta.

Monday, 11 September 2017

Mengerti Arti

Suara tangis itu hendak membuka sebuah cakrawala baru. Sembilan bulan tanpa warna, kini terbuka penuh karya sang Rabbi. Tangis haru, syukur tak terkira adanya. Decak wajah penuh cinta saling menatap beriringan dengan pujian kepada sang illahi. Ibu, ayah, kedua nenek, kedua kakek, bibi, paman, kakak, dan adik. Semua berseru "Alhamdulillahirrabil'alamin".

Tangan yang tak terasa lelah saling bergantian untuk mengerat sang bayi. Wajah wajah umpama bulan yang bersinar. Kebahagian yang dalam melekat erat dalam sanubari, terekspresikan dengan senyum indah yang tiada dua. Bait bait sang ilahi segera dilantunkan agar -yang baru saja datang- kembali pada fitrahnya.

Tak ada pengetahuan yang melekat padanya. Tanpa kain yang dibawa. Tanpa harta dan tahta yang membaui dirinya. Ia hadir tanpa bulir bulir dunia. Begitu murni, belum ada titik titik hitam bercak kekeliruan.

Kejadian ini. Mengingatkan bahwa -yang baru saja datang- bukan berasal dari dunia ini. We came, and someday we will gone. But somehow, there's true love that gave us warm attention and biggest affection, they're mom, dad, grandma, grandfa, uncle, aunt, sist, brother, and all big family. 

"God, who create you" and "fams, who become -God hand- to grow you up, educate you, teach you, and help you fully" are two things that you should give the best thanks for them.

Best thanks for them.
Be solih, be solihah.

11 September 2017
02:41 AM

Wednesday, 30 August 2017

Pemuda dan Bunga Mawar

Pagi ini seorang pemuda hendak melajukan sepeda motornya ke pasar kembang. Ia berniat untuk membawa pulang serangkai bunga mawar. Dijajakinya pasar kembang rawa belong. Satu demi satu pedagang didatanginya, hingga akhirnya bertemu dengan bapak bertopi penjual bunga mawar.

Banyak warna bunga mawar yang tersedia di ember ember kecil. Setiap bunga mawar dikelompokkan berdasarkan warnanya. Merah, putih, merah jambu, kuning, biru, dan krem. Ada juga ember lain yang dalam satu ikatan terdapat banyak bunga mawar dengan beraneka warna.

Pilih memilih pun dimulai..
Pemuda : Harganya berapa pak?
Bapak bertopi : 30 ribu isinya 20 bunga mawar mas.
Pemuda : Berapa pasnya pak?
Bapak bertopi : 25 ribu
Pemuda : Bagusan yang putih atau yang campuran ya pak? 
Bapak bertopi : Buat siapa mas? Pacar ya? 
Pemuda : Bukan pak, buat ibu.
Bapak bertopi : Kalau buat ibu ibu, bagusnya yang campuran. Ibunya ulang tahun mas? 
Pemuda : Engga pak.
Bapak bertopi : Ohhh, hari ibu ya sekarang? 
Pemuda : Engga juga pak.
Bapak bertopi : Jadinya untuk apa?
Pemuda : Kepengen nyenengin ibu saya aja pak.
Bapak bertopi : (tersenyum)

Banyak cara untuk menyenangkan seorang ibu. Salah satunya dengan membelikan bunga dan meletakkannya di kamar ibu. Tidak perlu menunggu hari ulang tahunnya ataupun hari ibu. Hal kecil memang. Namun sulit untuk dikatakan bahwa ibu akan mengganggapnya hal yang remeh. Justru akan sebaliknya. Mau bukti? Coba aja dipraktikkan ke ibu masing masing ya. Selamat mencoba.

Kemanggisan, Jakarta.
30 Agustus 2017
22:35

Bukan Tentang Uang Seribu

Siang ini tanah abang bercerita tentang dua orang pemuda. Pemuda satu bekerja pagi siang sore tuk pulang dengan merogoh rezeki. Lahan parkiran jadi sumber uangnya di dompet. Pemuda kedua bukan pekerja di tanah abang. Ia hanya sedang mampir untuk membeli kebutuhan ibunya. Motor merah jadi kendaraannya tuk penuhi hajat sang ibu.

Motor yang terpakir pun hendak diambil kembali oleh pemuda kedua. Melihat jam di tangan kanannya, terhitung 2 jam 23 menit sudah ia titipkan motornya di tempat itu. "Satu jam pertama dua ribu, satu jam selanjutnya seribu" bacanya dalam hati pada papan yabg tergantung di depan parkiran. Empat ribu ia siapkan di kantong jaket kanannya. Tak lupa karcis masuk sebagai bukti waktu masuknya 143 menit yang lalu.

Matahari yang terik pun hendak mencondongkan matanya pada kedua pemuda ini. Sesampainya di pos parkiran, segera ia keluarkan uang empat ribunya. Siapa sangka, lisan tak terduga pun bicara.. 
"Enam ribu mas" pemuda satu mulai bicara. Terkejut rasanya si pemuda kedua, ia pun berujar
"Yang bener aja mas, mosok 6 ribu?!"
Pemuda pertama pun mulai salah tingkah. "Ehhh.. 5 ribu mas." 

"Tadi saya ke sini jam 10 lewat 48, sekarang jam 13 lewat 11. Jam pertama dua ribu, jam berikutnya seribu. Berarti 4 ribu mas!" 
"Tapi ini di komputernya 5 ribu!!" tak mau kalah pemuda pertama memberikan alasan.
Pemuda kedua pun turun dari roda duanya dan mendekati meja komputer.
Belum sampai mata pemuda kedua melihat ke komputer, pemuda satu pun berujar "Empat ribu mas!!"
Akhirnya tak jadi lima ribu, apalagi enam ribu. Tepat empat ribu yang diserahkan.

Bukan tetang uang seribu atu dua ribu yang seharusnya direlakan saja oleh pemuda kedua. Bukanlah ia termasuk orang yang pelit dengan tak mau mengeluarkan tambahan uang sesuai yang diminta oleh pemuda satu.

Itu adalah tentang seorang muslim yang menjaga muslim lainnya agar neraka tak menghalalkan saudaranya untuk menjadi penghuninya. Itu adalah tentang pemuda kedua yang tak ingin ada harta haram masuk ke dompet pemuda satu dan akhirnya menjadi daging di tubuh, sehingga api neraka dengan lezat kobaran api membakarnya. Sungguh ia tidak mau. Sungguh ia tidak rela.

Sepulang dari tanah abang,
Di rumah nenek, tomang
30 Agustus 2017 (15:03)

Friday, 18 August 2017

Sosok Guru

Guru

Ialah sosok pengabdi yang terus membangun umat manusia. Mencerdaskan dan menyalahkan lampu peradaban. Tidak perlu waktu untuk berlari, dunia akan selalu berada dalam jemarinya. Tintanya selalu basah dalam untaian nasihat penuh krama. Matanya selalu terpancar cahaya optimis bagi yang memandangnya. Ia adalah engkau, wahai guru.

Guru, menderma penghidupan bagi yang didiknya. Menjadi lampu penerang bagi gelapnya akal pikiran yang tak terhuni pengetahuan. Menjelma 'tangan Allah untuk menunjukkan ke jalan yang lebiih mulia, lebih bermartabat. Ia bagai sumber air bagi setiap jiwa yang haus untuk menjadi tahu. Ia bagai bumi bagi setiap didikan, yang akhirnya menemukan diri mereka sendiri.

Tanpa pengetahuan kita terlahir di dunia ini. Jangankan huruf dan angka, sumber makanan pun tidak tahu berada dimana. Jauh sekali tentang perkalian, teori, model, analisis, dan lainnya. We were borned without any knowladge. Its's the simple thing that always be remembered to anyone.

Guru, tempat yang paling menyenangkan untuk dapat menggali ilmu pengetahuan. Tempat yang paling berkesan untuk bertukar fikiran dan segala ide yang cemerlang untuk masa depan.
Guru, tempat yang paling membuat nyaman bagi indera pemikiran, sebab ia adalah taman penuh bunga dengan pesona yang mengagumkan. Dan guru adalah tonggak peradaban. Dari ialah peradaban hidup yang terang benderang akan bersinar.

Kita, tiada arti tanpa harkat guru yang telah melekat pada sejarah hari hari kita di belakang. Allah, RasulNya, Sahabat nabi, mama, ayah, kakak, keluarga besar, seluruh guru sekolah, dan teman teman baik di sekitar adalah guru. Tak semua menjabat sebagai guru, tapi didikan mereka telah banyak membentuk diri diri kita yang dahulunya -borned without any knowladge- .
23:57
17 agustus 2017

Saturday, 8 July 2017

Lidah

Serumpun kata terbait
Menyetuh pintu langit
Ataupun membenam di dalam bumi
Menerbitkan hangatnya senyum
Ataupun mengeratkan benci dan maki

Lebih kecil dari 1% bobot tubuh
Tapi ia menjadi kunci
Tapi ia menjadi lebel
Untuk para penduduk langit cemburu padamu
Ataupun para penduduk negeri api mempersiahkanmu
Menjadi penghuninya

8 Juli 2017
23:38
Kemanggisan, jakarta

Semangat

Ia bagaikan embun dalam ruangan tertutup, tetapi orang orang yang berada di luar rumah bisa merasakan keberadaannya. Kadang ia tidak memiliki harga, hanya sundulan senyum dan buket rangkaian kata terima kasih. Namun, harga pembayaran akanlah tetap ada. Saat kebaikan sekecil zarrah pun akan ditampakkan di depan ruh dan jasad kita. Bahkan saat senyum kecilmu ketika melihat kebaikan saudaramu akan menjadi salah satu sebab ridhaNya Allah kepada kita.

Setiap orang bisa melakukan ini dan itu. Tapi, tidak setiap orang yang dapat menyatukan ruh perbuatannya dengan semangat. Ada satu nasihat yang pernah saya dapatkan, tetapi lupa dari mana sumbernya. "Tidak ada pencapaian besar yang dilakukan sesesorang, kecuali dilakukannya dengan semangat."

Semangat ialah api besar yang ada di dalam setiap insan. Tapi, tidaklah semua orang mau menyalahkannya. Semangat adalah puluhan kilo multivitamin untuk dapat menetaskan tantangan di depan lebih dari batas yang kita mungkinkan.

So, light up your spiritful!!!

8 Juli 2017
23:21
At room, kemanggisan

Thursday, 15 June 2017

Baik

Baik, 4 huruf yang ingin menjadi tahta akhlak setiap insan. Baik, 4 huruf ingin melekat pada setiap keadaan. Baik, 4 huruf yang menyuarakkan senyum untuk selalu hadir. Baik, 4 huruf yang terbaitkan untuk menjadi akhir dari keberadaan kita di dunia ini.

"Saya rindu," gunggam hati yang membesitkan wajah-wajah mereka. Tak sampai dua detik, terucap syukur alhamdulillah alhamdulillah. Rindu yang bukan bermaksud pada cinta cinta yang rapuh, fatamorgana, dan mungkin hanya dibilas ombak, kemudian hilang. Rindu yang ada adalah ketika bisa berada dalam lingkaran bersama orang orang yang ada di dalam hatinya sebuah lukisan. Lukisan kehidupan sebenarnya. Kehidupan setelah dunia ini. Kehidupan dimana 99 kasih sayangnya Allah akan ditampakkan. Kehidupan dimana 99 cintaNya Allah akan terasa menyentuh seluruh sudut hati.

Baik, "saya bukanlah orang baik, kecuali Allah telah memberikan orang-orang baik di sekitar saya". Baik, "saya bukan orang baik, kecuali keberkahan dan doa orang tua". Baik, "saya bukan orang baik, kecuali Allah mempernankan saya untuk masuk dalam pintu kebaikan"

Semoga Allah menjadikan diri diri kita, lingkungan yang baik untuk orang lainnya.

After saw so many stories in IG story
6:50 AM
20 Ramadhan 1438/ 15 Juni 2017
Kemanggisan, Jakarta.

Friday, 26 May 2017

Menguatkan Iman di Negeri Matahari

Pernah saya mendengar bahwa Islam adalah agama yang menyeluruh. Pernah juga saya mendengar bahwa islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah penyempurna dari apa yang telah ada sebelumnya. Dua pernyataan tersebut menunjukkan "jati dirinya" di negeri matahari, Jepang. Agustus-September 2016 lalu menjadi tanggal yang bersejarah untuk mendapat kesempatan “belajar ” disana. Lebih dari sekedar menjadi negara tujuan kegiatan pertukaran mahasiswa, ternyata Jepang memberikan banyak arti dalam memperteguh keimanan kepada agama Islam.

Berbeda situasi, berbeda lingkungan, dan berbeda orang orang yang dihadapi. Tiga karakater yang menggambarkan keadaan di kota Seiyo, Jepang. Tidak terdengar alunan adzan di sana. Tidak pula mudah untuk menemukan masjid. Shinto dan Budha menjadi mayoritas kepercayaan. Alam ditempatkan sebagai sentra kehidupan. Layaknya mahkluk hidup, alam pun bisa merasakan apa yang kita perbuat terhadapnya. Kehidupan seseorang akan baik, bila ia berbuat baik kepada alam. Begitu pun sebaliknya, mereka percaya bahwa orang-orang yang merusak alam, hidup mereka tidak akan baik.

Setitik demi setitik, sedikit demi sedikit, ajaran Shinto mulai membuka bukunya. Dialog kecil kecilan dan pertanyaan spontanitas kepada teman mahasiswa Jepang, jadi referensi untuk mengetahuinya lebih dalam. Tidak ada kesalahan bukan untuk mengetahui dan memahami bagaimana orang non muslim memilih agamanya. Menganalisa bagaimana cara mereka menempatkan tuhan dalam kehidupannya. Serta membandingkannya dengan apa yang selama ini ada dalam kepercayaan saya, Islam.

Dalam kepercayaan Shinto, setiap tempat memiliki Tuhan. Batu ada Tuhannya tersendiri. Begitu pula pada gunung, jalan, sungai, sawah, laut, hutan, dan lainnya. Tidak diperbolehkan untuk melakukan perbuatan yang merusak disana. Bila kita berbuat demikian, maka Tuhan akan marah dan alam pun akan bereaksi yang buruk pula pada pelakunya. Inilah yang menurut saya menjadi satu landasan utama mengapa Jepang sangat memelihara alamnya. Sampah yang berserakan tidak ada, hampir sempurna tertata rapih. Mungkin dua tiga sampah ada, tapi sangat minim dan agak jarang ditemui. Sungai yang masih terlihat asri, walaupun aroma kota sudah menjadi gaya hidup penduduknya. Kejernihan airnya membuat para pejalan kaki dapat melihat tetumbuhan didalamnya. Pun tidak sungkan bila ingin membasahi telapak tangan dengan airnya. Manusia dan alam begitu hidup seimbang. Masyarakat Jepang menjaga alam dan alam pun menjadi sangat bersahabat dengan mereka.

Selain itu, tempat beribadah kepercayaan shinto menjadi salah satu kunjungan di Jepang. Sebenarnya tidak ada dalam list kegiatan. Kunjungan ini memanfaatkan waktu pagi sebelum beraktivitas. Melihat tata cara mereka berdoa dan melihat bagaimana menempatkan Tuhan ketika mereka beribadah. Dimulai dengan membersihkan tangan dan membasuh wajah, ibadah mereka pun dilanjutkan dengan pemberiaan salam saat memasuki tempat ibadah. Menggerak-gerakan lonceng wujud penghormatan kepada Tuhan di dalam tempat ibadah. Konon yang mereka sembah di dalam tempat ibadah tersebut adalah orang-orang zaman dahulu yang sangat berkiprah bagi masyarakat. Pada akhirnya, mereka meninggal dunia dan menjadi pemujaan bagi mereka, orang-orang yang datang kemudian.

Perbedaan adalah pembelajaran. Perbedaan adalah motif motif unik yang ada pada pakaian masyarakat.  Perbedaan adalah sisi untuk mengerti arti yang tersirat. Dari sinilah Islam lebih kuat dalam mengakar di sanubari. Dari sinilah saya menyadari, bahwa Islam adalah "bila sempurnanya" kepercayaan Shinto. Apa yang ada dalam kepercayaan Shinto, sungguh itu pun ada di dalam Islam, bahkan lebih sempurna. Pola dalam kepercayaan Shinto dan Islam tidak jauh berbeda. Mengapa demikian?
I
slam meyakini bahwa Allah adalah satu satunya Tuhan. Dimana, Dia memiliki banyak malaikat yang bertugas untuk menjaga bumi ini. Bukankah pada setiap air hujan yang turun, disertai oleh malaikat. Bukankah pada setiap tempat ada yang menjaga dan mengawasi kita. Bahkan lebih dari itu, penjaganya ada di sisi kanan dan kiri setiap manusia. Segala kebaikan dan keburukan akan jadi penghuni kitab perbuatan kita. Baik buruknya perbuatan kita, dunia dan akhirat akan menjadi saksinya. Allah akan menampakkan sebagian atau seluruh perbuatan kita saat ini dan nanti. Begitu pun dalam kepercayaan Shinto seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun, dalam Islam, itu jauh lebih sempurna.

Kemudian, kita mengenal adanya wudhu, taharah, membersihkan. Saya pun kaget mengetahui bahwa mereka pun berwudhu sebelum mereka "bertemu" dengan Tuhannya dalam ibadah mereka. Tangan dan wajah menjadi "bersih" untuk mengahadapkan wajah kepada Yang Maha Tinggi. Shinto mengajarkan untuk membersihkan diri sebelum beribadah. Bagaimana dengan Islam yang dibawa sebagai penyempurna ini. Minimal 5 kali dalam sehari, air dibasuhkan pada telapak tangan, mulut dan lubang hidung, wajah, tangan hingga ke siku, kepala, dan terakhir kaki.

Agama Islam sesungguhnya mengajarkan kebersihan yang lebih sempurna daripada kepercayaan Shinto. Betapa hebatnya Islam. Ini yang membuat saya yakin, bahwa kemampuan manusia itu terbatas, seperti halnya kepercayaan shinto yang berasal dari pemikiran manusia. Tidak ada yang mampu menembus batas pemikiran langit, kecuali pemilik langit itu sendiri. Tidak ada yang mampu untuk mengadakan taharah sesempurna itu, kecuali pengadaan oleh pemilik alam semesta ini, Allah SWT.

Mulai ditulis bulan November dan selesai ditulis 26 Desember 2016 11:53 PM
Sebenarnya tulisan ini adalah tulisan kedua yang mela kirimkan ke harian cetak, tapi masih gagal wkwk, engga apa apa, nanti akan ada waktunya InsyaAllah.
Dan baru kepikiran buat diposting di blog akhir akhir ini

Kalau ada kata kata yang kurang tepat, boleh kiranya diberikan masukan, karena sedikitnya pengetahuan yang mela punya. Terima kasih :)

The Main Objective

Perjalanan hidup ini sejatinya akan bermuara pada satu tujuan yang hakiki. Tujuan yang menjadi dasar atas keberadaan kita di semesta ini dan tujuan yang menjadi arah kemana kita setelah menjelah di alam raya ini. Sayangnya jagat dunia ini memang unik. Ia membiaskan banyak jalan dari satu jalan yang seharusnya dipilih dan dilalui untuk kemudian menyelesaikan fase hidup ini dengan baik.

Seperti halnya dalam surat Al-Mulk, sang pencipta diri diri kita menghendaki adanya mati dan hidup untuk menguji siapa diantara manusia yang lebih baik amalnya. “untuk menguji”. Analoginya sederhana, yaitu ujian yang biasa kita dapatkan dari sejak memakai rok atau celana merah hingga jas almamater, ujian pilihan berganda. Dari 3, 4, atau 5 yang ditawarkan hanya ada 1 jawaban terbaik, jawaban yang benar, jawaban yang tepat, dan itulah yang sesungguhnya cari.

Menjadi, cerdas, kaya, popular, penguasa, cantik/ganteng dan servant to Allah adalah beberapa dari banyak opsion  jalan yang dipilih mengenai pencarian arti sesunguhnya dalam hidup ini. Satu yang menjadi titik utama, “The Main Objective”. Apakah sungguh kesempatan besar dan berharga menjadi seorang manusia di bumi, yang dahulunya tiada sama sekali ada, hanya untuk menjadi yang terbaik secara subjektif dihadapan para manusia lainnya yang juga sama sekali tak berarti. Tak bisa dijadikan sandaran. Ada saatnya semua akan redup, semua akan diam, berganti, hilang, dan mati.

Layaknya melakukan sebuah riset, hidup ini pun harus memiliki main objective yang akan mengarahkan kita hingga menuju titik akhir, menyelesaikan fase hidup ini.

Jadi apa main objective untuk hidupmu ?

Jogjakarta, 11 May 2017

7:46 PM 

Wednesday, 17 May 2017

Ekonomi Islam Bicara

Faedah apa yang hendak diwujudkan dengan adanya ekonomi islam ? Membumi hanguskan riba ? Memurnikan jual beli dari ketidakjelasan (gharar) ? Mencegah praktik judi (maysir) dalam transaksi ekonomi masyarakat ? Semuanya betul, tiada yang keliru. Hanya saja butuh sesuatu yang menyempurnakan untuk menjawab   pertanyaan pertama di awal.

Pembubuhan kata "menyempurnakan" akan membuka jendela ekonomi islam yang lebih luas. Bentangan cakrawalanya akan melampaui riba-gharar-maysir. Ia adalah penerang untuk dapat memecahkan masalah transaksi dan segala aktivitas ekonomi umat islam. Memuat terang benderang yang dahulunya gelap tak bercahaya.

Suara ekonomi islam dapat menyentuh berbagai sudut ekonomi umat ini. Mulai dari hal hal yang kecil hingga mencakup makro dan kebijakan ekonomi. Kasus ojek online, aktivitas penjualan rokok, pungutan liar di lembaga pemerintahan dan pemasyarakatan, reklamasi pantai utara jakarta, pembagunan kota dan desa, serta banyak hal lainnya. Kehadiran ekonomi islam idealnya dapat menjadi pintu yang dicari oleh banyak masyarakat. Dengan kunci adil berlandaskan maslahah, diharapkan ekonomi masyarakat akan menjadi lebih menawan.

0:23 AM
16 Mei 2017
Di atas tempat tidur asrama, Asrama putri dramaga.

Kadang

Kadang mata ini diliputi pasir pasir besar
Hingga tak mampu untuk menembus cahaya kebenaran ilahi
Terbius dengan fana yang memeluk diri
Tiada sadar bahwa pundak sedang dicocok oleh panah api
Untuk menuju tempat hina yang terlaknati

Kadang telinga ini tersumbat lelehan besi panas
Tak nyaman mendengar siraman air surga
Tak sampai azan mengetuk ruang hati melalui saluran pendengaran
Bagai cantelan yang tak lebih bernilai dari tanah tak subur

Apa mungkin lagi dibilang "kadang" ?
Saat nanti Sang penebar syafaat memanggil, ummati.. Ummati...
Yakinkah mata dapat melihat dan telinga dapat mendengar seruan itu ?

Yogyakarta, 11 Mei 2017
13:00
Dalam perjalanan ke UGM dari tempat penginapan (Asrama Haji Yogyakarta)

Usaha Terbaik (?)

Aku duduk di bangku baris ke 7 pinggir kiri, berseblahan dengan jendela. Rumah, gedung, jalanan, trotoar, mobil, dan motor menyapa dalam diam di jalan abdul rahman saleh, senen, jakarta pusat. Bus P 106 menceritakan tentang arti sebuah usaha. Usaha yang lebih baik, usaha yanh lebih diridhai, usaha yang membuat Allah tersenyum.

10 menit lalu, seorang lelaki paruh baya menjajahkan dagangannya. Ia menawarkan lampu hemat energi dengan berbagai keunggulannya: lampu lebih terang, harga lebih hemat, terbuat dari plastik sehingga tidak mudah pecah, dan umur yang lebih tahan lama. Sepuluh ribu rupiah berhasil ia genggam dari seorang penumpang yang membeli lampu tersebut.

Keberpulangan penjual lampu disambut dengan pengamen yang menjadi perhatian penumpang. Dari bagian depan bus, ia menyajikan lagu untuk menarik hati orang-orang di dalam bus. Beberapa orang merogoh tas dan sakunya, mengambil beberapa receh rupiah untuk diulurkan ke bungkus permen mentos yang disodorkan oleh pengamen.

Senyum pun terkikis indah melihat keduanya. Aku ingat tadi siang, saat aku mendatangi sebuah kantor bank syariah. Hampir 2 jam aku menunggu, dan akhirnya pertemuan yang dinanti pun tiba. Berselang 5 menit, seorang bapak berkacamata menjelaskan bahwa proposal dan kuisioner yang telah aku serahkan 2 minggu lalu ditolak. Ini kali ketiga aku datang ke sana. Ternyata Allah ingin tahu apakah aku masih sempat mengernyitkan senyum dan melapangkan hati.

Bukan hakikat apa yang kita peroleh dari usaha usaha kita. Setiap orang punya tingkatan usahanya. Sungguh Allah tersenyum saat hamba hambanya melakukan usaha yang terbaik. Pilihlah jalan yang lebih baik seperti halnya satu dari dua orang tokoh di atas bus ini. Bukan aku tak percaya bahwa hasil tidak akan menghianati usaha. Tapi aku lebih percaya bahwa titik mata Allah ada pada juang kita melakukan usaha dalam kehidupan kita.

16:24
17 Mei 2017
Selesai ditulis saat bus melintas di daerah sekitar monas, depan kementerian pertahanan.

Sunday, 7 May 2017

Kata Rembulan

Aku, rembulan
Tersiul kabar aku jadi bunga
Keindahnnya dipuji banyak insan
Terkagum merekahkah lisan dengan mutiara
Dipandangi aku setiap malam
Dengan sungingan senyum yang mencuatkan lesung pipi
"Betapa menawan", ukiran kata mereka terpahat tentang diriku

Aku, rembulan
Berbentuk lingkaran tak sempurna
Sisi kanan ke kiri, sisi kiri ke kanan
Tak mulus permukaannku
Banyak batu dan kerikil
Lubang kecil dan besar menjadi tubuhku
Saat gersang melanda, bagai kebakaran hutan wajahku
Panas, memerah
Saat badai salju menyeruak, aku bagai alat pendingin yang mematikan
Begitu dingin, membeku

Aku, rembulan
Rembulan yang orang orang mengakui keindahannya
Dan aku juga rembulan
Rembulan yang tak seindah diakui orang-orang

16:14
Jumat, 5 Mei 2017
Di KRL menuju bogor, habis ke bni syariah, jakarta untuk ambil data untuk skripsi.
Puisi ini adalah tentang dua sisi. Dua sisi yang dimiliki oleh setiap manusia. Baik dan buruk. Tidak ada yang hanya punya baik dan baik.


Tuesday, 2 May 2017

[Sedikit] Mengenal Ekonomi Islam

Ada sistem yang sempurna, yang membaitkan aturan aturan sang khalik secara komprehensif. Sebagian orang mengenal ibadah sebagai rutinitas di dalam rumah ibadah, sehingga pandangan seperti mempersempit ruang agama dalam kehidupan manusia yang sangat luas.
Tapi, mari kita menyulutkan lilin di tengah kegelapan, memberikan sinar bahwasanya ruang agama itu luas, tidak sebatas pada aktivitas pribadi kepada yang berhubungan langsung dengan Zat yang Maha Kuasa.

Adalah Islam, yang mengatur tata hubungan vertikal dan horizontal dengan begitu elegannya di tengah tengah kehidupan manusia. Karena pada dasarnya agama Islam memiliki dimensi yang sangat lapang. Tidak hanya tentang mengingat sang pencipta kita, tapi juga menjelmakan apa yang Dia terangkan dalam kitab mengenai hubungan antara satu manusia dengan yang lainnya. Peraturan pada hakikatnya bukanlah untuk mengekang, sama sekali tidak. Ia adalah bentuk kasih sayang Allah kepada para hambanya agar dapat terarah dalam menyelami pelayaran kehidupan dunia ini.

Mengislamisasi ekonomi. Bukan berarti its only for muslim. Bukan berarti hanya untuk yang punya iman tebal. Ekonomi adalah kegiatan dasar yang pasti dilakukan oleh semua orang. Setiap yang ingin bertahan hidup, pastilah melakukan aktivitas ekonomi. Karena aktivitas ini yang memiliki sifat mendasar pada kehidupan manusia, sangat disayangkan bila ada suatu sistem terbaik, tapi melewatkan dimensi ini untum diberi pengaturan di dalamnya.

Sempurna, berarti menyeluruh. Sempurna berarti tidak melewatkan satu bagian pun. Sempurna berarti detail detail telah terisi penuh dengan nilai. Itulah nafas Islam. Hebat bukan ?

Ekonomi hakikatnya bukan semata untuk memperoleh keuntungan. Ekonomi adalah jalan untuk mendistribusikan karunia Allah dengan seadil adilnya, agar kesejahteraan dapat menjadi hembusan nafas bagi banyak orang. Persis seperti sila terakhir dari pancasila yaa.

19:39
2 May 2017
Di KRL, sedang di st. Cawang
Bogor - jakarta


You and Me

Aku dan kamu
Kita saling bertanya tentang pertemuan itu
Tentang akhir dari jalan kesendirian kita

Aku dan kamu
Kita saling bertanya tentang rembulan yang kelak hadir di langit hati kita
Tentang mentari yang selalu mendekap walaupun gurita gelap menyapa

Aku dan kamu
Kita saling bertanya tentang nama yang tertulis dalam kitab lauh mahfudz
Tentang siapa yanh Allah takdirkan ketika masih 4 bulan dalam ruang yang begitu hangat penuh kedamaian

Aku dan kamu
Mungkin tak pernah saling kenal
Tak pernah tahu satu sama lain
Tapi bila Allah berkendak bertemu,
Bahkan samudra bukanlah penghalang
Bahkan mawar merah pun tahu kemana ia akan diberi

Aku dan kamu
Aku yang benar benar aku, tanpa kamu tahu ukiran nama di belakang "aku"
Kamu yang benar benar kamu, tanpa aku tahu ukiran nama di belakang "kamu"

Tak perlu berusaha untuk mengira
Tak perlu jua menunjuk semesta untuk memberikan isyarat
Waktu akan datang dengan tepat
Waktu akan berkumandang bila memang harinya datang
Biarlah menuju sang maha cinta saja seharusnya hati hati kita bermuara

2 May 2017
20:10
KRL
Mau masuk ke st. Tanah abang


Sunday, 30 April 2017

Manusia

Hendakkah kita hanya menjadi pengelana di sini
Tak lama, hanya sebentar
Tak lebih dari sekedar mampir di sore hari
Mengapa seperti final dari segala penghelatan diri diri kita
Berjuang pontang panting, meregah emosi dan komat kamit lisan yang tak guna untuk di dengar
Hanya untuk apa ?
Hanya untuk mengikrarkan,
"kamu salah, saya benar"

Apalah artinya kita
Dari tetesan ayah yang diberi kesempatan oleh Allah untuk mengabdi
Merasakan indahnya satu akar dari ciptaan Allah yang maha kaya
Untuk bersyukur dan bersabar kita di sini
Menyatukan banyak hati
Untuk bersama tersenyum menuju keridhaan illahi

30 April 2017
16:18
Di APTB perjalanan pulang ke Jakarta dari Sentul, habis ke pernikahan sarah di andalusia bersama kru korpus 10 (sekalian jalan jalan ke ah poong, korpus day out wkwk)
Tulisan ini didasari tiba tiba di tol ada yang menimpuk aptb dari sisi kiri, babang sopir dan kenek langsung keluar mengejar si pelaku.


Saturday, 29 April 2017

Mengakhiri


Pernah mendengar bahwa akhir kita seperti apa kita hidup. Hidup baik, akhir baik. Hidup buruk, akhir buruk. Hidup suka beribadah, akhirnya ditutup dengan ibadah. Hidup suka hura hura, akhirnya ditutup dengan hal yang mengarah pada keinginan untuk hura hura.

Aku memang belum pernah merasakan hal itu sendiri. Karena kesempatan tersebut hanya memang sekali saja bukan. Sekali berada di akhir, tak bisa lagi masuk dalam ruang kehidupan. Tapi aku belajar dari hal yang terjadj akhir akhir ini. "Akhir". Kini aku berada di episode episode akhir masa kampus. Karena tidak lama lagi aku akan mengakhirinya (red. Lulus).

Ada desakan dalam kalbu untuk melakukan sesuatu. Sesuatu yang selama dalam dunia kampus sangat sering aku lakukan. Sepulang kuliah, selain berorganisasi aku habiskan untuk melakukan hal ini. Pulang ke asrama pun demikian. Tak sedikit malam yang terlewati dengan tetap terjaga untuk melakukannya, bahkan tidak memberi jatah kepada raga untuk terlelap di balik selimut pun pernah. Hal sederhana. Menulis karya tulis atau esai ekonomi syariah.

Diri ini pun tersadar, mungkin kelak saat waktu akhir kehidupan juga demikian. Ada dorongan besar asa untuk melakukan hal yang biasa kita lakukan di fase fase kehidupan sebelum memasuki episode akhir.

Seperti halnya saat ini yang berada di fase akhir kampus. Setelah satu semester (semester 7) sama sekali aku tidak menyentuh kegiatan ini karena aku memilih kegiatan yang lain. Ternyata kini hal tersebut pun muncul kembali. keinginan untuk menulis. Walaupun sedang skripsian dan ibu menyarankan untuk tidak melanjutkan esai yang telah aku tulis, tapi rasanya ada dorongan hati dan tarikan gravitasi untuk ke kota sebrang.

Begitu pula mungkin kita di akhir kehidupan yah, rasanya segala keinginan hati ingin di penuhi. "Akhir" bergantung dari kebiasan sebelum menuju akhir, episode-episode sebelum bertemu malaikat maut. Akhir yang baik ternyata tidak diciptakan instan yaaah. Dorongan hati akan memunculkan seperti apa ia dahulu membawa hatinya.

18 April 2017
21:03 PM
di krl baru lewat stasiun depok baru menuju jakarta.
Besok pilkada dki putaran ke 2, jadi harus pulang malam ini mintanya mama. Khawatir seorang ibu akan kisruh besok pagi. Siap mama :))

Di sempurnakan pada
29 April 2017
22:26 PM
Di kamar, kemanggisan, jakarta.


Zat Sempurna

Allah, lebih dari kumpulan huruf yang tersusun sempurna. Lebih sempurna dari jutaan ikatan kata sempurna yang dirajut dengan kesempurnaan. Maha sempurna dari segala maha karya yang bernilai sempurna.

Ialah bait bait rindu saat kita ingin sekali rasanya berbicara denganNya. Ialah titik titik embun yang terasa sejuk dalam hati ketika kau ingin merasa dekat denganNya. Ialah butiran butiran permata yang terasa berkilau ketika kau sebut namaNya Allah, Allah, Allah.

Ia yang tak sanggup oleh mata lemah ini menerjemahkan zatNya yang maha tinggi.
Ia yang tak pernah punya sifat sama seperti mahkluknya yang lelah, mengantuk, dan tertidur.
Ia yang punya mahligai kerajaan dunia dengan kuasanya yang tak terkira nilai kesempurnaannya.

Ialah alasan pepohonan yang bergerak oleh tiupan angin. Dimana tak satu pun manusia terhebat yang mampu mengadakan pepohonan dan pergerakkannya yang mengagumkan.
Ialah alasan langit yang dengan megah berdiri dengan biru yang membahana. Dimana tak satu pun manusia tercerdas yang mampu menandingi penciptaan pada langit dan segala perhiasannya yang menakjubkan.
Ialah alasan pelangi yang terbit dari titik air dengan kolaborasi sinar mentari. Dimana tak seorang peraih nobel pun yang mampu mengombinasikan berbagai warna dari matahari yang panas dan air yang sejuk.
Ialah alasan penataan yang rapih alam semesta ini. Dimana tak satu pun manusia terbaik dari segala versi di buku manapun yang mampu mengadakan penciptaan segala pernak pernik di alam semesta ini.
Hanyalah Ia yang mampu menjadikan semua ini ada, sang pengukir cinta di alam semesta, zat paling sempurna, Allah subhanahu wa ta'ala.

29 April 2016
Di kamar, kemanggisan, jakarta.
Mama sedang ketiduran depan tv.


Monday, 17 April 2017

Heaven



Namanya jannah. Tempat segala berkah bermuara. Tempat segala akhir dari peraduan kebaikan di dunia. Tempat perkumpulan para hamba Allah yang berharap pada rahmatNya

Namanya 'Adn. Pusat dari segala mahligai cintaNya Allah. Semesta dari segala bentuk kasih sayang Allah pada hamba hambaNya yang berhati surga. Peraduan dari perjuangan panjang kebaikan tiada henti.

Namanya Firdaus. Tingkat yang ingin digapai oleh setiap insan penduduk bumi. Menjadi dambaan bagi setiap ukhuwah yang melingkar di tanah Allah kini. Rupa dan wujudnya tak sanggup untuk akal menggambarkannya.

Namanya surga. Ia yang menjadi bait bait doa kita dalam sholat. Ia yang menjadi janji manis dari zat maha pemilik semesta dunia akhirat. Ia yang menjadi titik embun penggetar hati dan jiwa. Ia yang menjadi map perjalanan bagi para pencari keridhaan ilahi.

Kemanggisan
17 April 2017 (2:32 AM)
Tadi sudah tidur dari jam 22 - 00:20 kurang lebih
Sedang tidak berminat untuk tidur lagi wkwk


Sunday, 9 April 2017

Pada Suatu Ketika

Pada suatu ketika
Aku melihat pena yabg terbuka
Tintanya licin menggoreskan kertas putih
Satu dua menit, dua tiga ide terbaitkan

Pada suatu ketika
Aku melihat kepala yang terbuka
Lincah mengolah gagasan
Tiga empat esai pun tergubahkan

Pada suatu ketika
Aku melihat solusi yang berkolaborasi
Empat lima optional dipadukan
Bagai banyak gerbong kereta disambungkan
Makin banyak yang terfasilitasi

Pada suatu ketika nanti
Aku harap pena kita terbuka bersama
Menggoreskan benih benih pembangunan
Memperbaiki apa yang harus diperbaiki
Menjulang tinggi apa yang harus digapai

Agar kelak kita dapat tersenyum bersama dari kejauhan
Melihat bumi indonesia yang tak lagi bersarang kan bijih bijih ribawi

Untuk kalian, kawan kawan yang suka menulis. Aku senang, aku bersyukur bahwa ternyata ada kok yang punya semangat yang sama dengan mela, yang ingin membumikan, memperbaiki, dan menyempurnakan ekonomi syariah, minimal melalui dari apa yang kita sukai, menulis.

KRL
Berdiri di dekat pintu, bersender pada bangku pinggir
Mendekati stasiun bogor
8:13 AM
9/04/2017


Thursday, 6 April 2017

Kamu

Setiap dari kita punya kehidupan. Kehidupan yang luar biasa dengan jadwal dan dinamika yang mungkin sama sekali tidak bisa dianggap remeh. Berbagai perjuangan, keringat, dan doa kadang mampu membawa langkah pada puncak yang ingin digapai banyak orang. Menjadi luar biasa adalah kamu. Menjadi sosok yang diingini oleh banyak orang adalah kamu. Apalagi menjadi manusia yang selalu disenyumi oleh penduduk langit, itu pun kamu juga. Kamu yang tidak diam saat angin dunia menyergap. Kamu yang berfikir keras untuk menemukan jalan bagi banyak orang. Kamu yang punya hati untuk menembus banyak hati nurani. Kamu yang mau terjaga walupun banyak yang sudah kelelahan, menyerah, dan berhenti. Kamu lah yang akan ditunggu Allah dengan senyuman yang lebih terang daripada 1000 bintang. Kamu adalah siapapun yang mau menjadi "sesuatu" di mata Allah.

6 April 2017
13:53 PM
Kemanggisan, Jakarta.
Lagi break editing kuisioner skripsi


Friday, 24 March 2017

Menertawai Diri Sendiri

Aku adalah kumpulan huruf huruf lama yang berdebu. Dilewati arus waktu dan pergantian ruang. Lebih dari sekedar "lewat", aku hampiri beberapa tempat bahkan menjadi bagian darinya. Aku bernafas, berfikir, dan hidup di sana, sekali kali bermain membuat istana dari pasir, tapi setelah itu ombak pun menyapu bersih. Sekali kali aku mendaki meraih puncak tertinggi, tapi ternyata selalu ada yang jauh lebih tinggi.

Aku ini pengelana, sedikit ilmu, dan masih bolong bolong akhlaknya. Aku ini pejalan kaki, memperhatikan sekitar, berinteraksi dengan alam. Kadang aku bertanya pada batu yang diam, kadang pula pada rembulan, terik matahari, angin, dan pelohonan. Mereka tak bergerak, tapi mereka hidup. Mereka bisa merasakan aku, dan aku merasakan kehadiran mereka. Bukan aku ini tidak waras, bukan, sama sekali. Tapi alam sekitar adalah kawan yang suka memberikanku nasihat, mengajarkan dan menegurku dengan lembut.

Sekarang kamu jadi sejarah mel. Kamu tidak akan pernah lagi bertemu dengan perilakumu, pemikiranmu, perasaanmu, amalmu di detik ini. Tidak, sudah tidak bisa. Tapi masih dapat kau datangi, kau tengok lagi untuk jadi cermin, jadi kitab referensi seperti apa kamu dulu.

Aku, sering menertawai diri sendiri. Bukan karena merendahkan. Bukan pula menggangap remeh yang telah lalu. Hanya saja aku bersyukur, bahwa aku sudah melewati proses untuk belajar. Terkadang berbuat salah adalah pintu untuk memperoleh hal yang benar.

Aku baru tahu kurang dari 48 jam yang lalu, definisi dari pendidikan. Bahwa pendidikan adalah membentuk sesuatu sedikit demi sedikit hingga mencapai tingkatan sempurna. Dan aku suka dapat mengetahui itu.

8:37 AM
Mushola Al-Fath Fem Fateta
22 Maret 2017
Singgah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan (padahal sih ke bara wkwk)

Tentang Duri

Duri itu menyakitkan, betul sekali. Tidak salah bila ada yang mengatakannya. Tapi, tergantung pada kita bagaimana menyikapinya. Ada yang hanya diam, tak berpelik sedikit pun. Tak ada angin yang dihembuskan, tak ada aksi yang bergerak.

Ada pula yang mengatakan duri itu bisa melukai kita, hati hati jangan diinjak. Lebih ada peningkatan. Ada kata kata yang digubah, ada aksi yang terwujud. Lebih baik. Tapi, bukankah kelak orang orang setelahnya, bisa saja terinjak dan merasakan sakitnya si duri tersebut.

Tapi di sisi lain, ada yang berkata dengan caci maki lisannya, "duri ada di jalan, engga tahu apa ini jalan, engga seharusnya ada orang yang membuang di sini !" dan ia pun berlalu dengan angin panas pada benaknya. Rumput pun terkesima heran bukan kepalang menatap pada yang baru saja berucap. Seolah rumput pun menggeleng gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.

Tapi, ada satu yang cerdas menurutku, ia tidak hanya mengambil dan membuangnya ke tempat sampah. Lebih dari itu. Ia memprosesnya terlebih dahulu. Ia memotong motong bagian duri menjadi beberapa bagian. Ia sama sekali tidak akan membahayakan orang lain.

Begitu juga setiap ucapan dan perkataan serta perilaku yang orang lain perbuat kepada kita. Berapa pun level tingkat menyakitkan apa-apa yang terbit dari mereka, kita akan selalu punya pilihan. Membiarkan ia terus menjadi duri bagi perasaan dan fikiran kita ataukah menjadi cerdas dengan mengolahnya dengan baik..

24 Maret 2017
22:29
APD IPB

Sunday, 26 February 2017

Think papayas

Tentang pepaya. Langit sore berbicara padaku melalui pohon pepaya. Tentang mengorganisasi, menstimulasi, dan mengeksplorasi. Alam adalah buku tak berhuruf yang mengajarkan kita banyak hal. Alam adalah puisi tak berbait yang dengan lembut melantunkan pesan pesan Nya untuk kita.

Dalam satu pohon pepaya akan memiliki banyak buah. Tapi buah buah tersebut bervariasi dari segi ukuran dan kematangannya. Ada yang besar dan kecil. Ada yang sudah menguning dan masih hijau. Analoginya seperti orang orang dalam satu organisasi. Ada yang dengan matang bisa "muncul dan terlihat". Dan ada pula yang "masih hijau", terlihat membutuhkan stimulasi untuk bisa "tumbuh dan berkembang".

Bagaimana caranya agar "pepaya pepaya" tersebut bisa menghasilkan buah yang matang dalam jumlah banyak pada satu waktu yang sama ? Atau pada waktu berbeda, tapi tidak terlalu jauh jarak waktu kematangannya antara satu dengan yang lainnya ?

Jawabannya (menurut subjektivitas saya yang tidak tahu apa apa ini) adalah sumbernya. Jika dalam satu organisasi, maka leadernya memiliki peran dan kesempatan untuk bisa membagi sumberdaya yang dimiliki agar semua terstimulasi secara merata. Setiap orang akan tumbuh dan berkembang, asal diberikan stimulasi yang optimal. Ruang untuk bisa mengeksplorasi diri. Dan kesempatan untuk mencoba dan belajar. Diberikan pengertian dan perasaan merasa dipahami. Hal ini akan membuat pohon pepaya akan menghasilkan buah yang berukuran maksimal dengan kematangannya. Persis orang orang dalam organisasi akan tumbuh dan berkembang secara optimal.

------------
Based on experience when visited small garden in Mr. Budjo house, bubulak
During SUIJI SLP program
26/02/2017
18:15

Thursday, 16 February 2017

Pita Merah (1)


Tidak sengaja ta’bir langit terbuka. Penduduk langit hingar bingar lari kebingungan. Mereka ingin mengadu. Tentang kitab yang baru saja terbaca oleh penduduk bumi. Berisi rahasia yang akan mengelupaskan kerak kulit hati manusia yang mengetahuinya. Mereka pun berlari dari awan satu ke awan lainnya, naik hingga langit ke lima, tapi mereka tetap kebingungan. Rasa khawatir terpapar dari wajah-wajah mereka.
   
Di hari itu, ternyata seorang anak manusia harus menelan pil terpahit dalam sejarah hidupnya. Pil yang berukuran lebih bsar dari pada dirinya sendiri. Badan terasa terluluh lantahkan saat dihadapkan dengan tinta takdir yang telah tertulis. Air mata seolah tak malu malu lagi untuk berderai membanjiri liang pipi. Bukan karena tak sanggup. Bukan karena tak kuat. Ini alamiah manusia dengan sifatnya yang lemah. Sekejap pil ini mampu mengubah mimpi menjadi hutan belantara yang terbakar api. Masa depan ? pertanyaan rumit.

Entah apa namanya hidup, ia datang kadang dengan angin segar. Kadang pula dengan tebasan pedang yang tak tak kenal lawan. Semua dibabat habis. Katanya hidup ini adalah perhiasan yang tidak akan dibawa mati kecuali amal, ilmu, dan doa. Tertegun mata menatap kosong jalan yang sepi di malam hari, kosong. Katanya hidup ini adil, namun mengapa pil besar itu yang harus diterimanya. Mengapa harus dia. Mengapa. Mengapa bukan yang lain saja. Mengapa harus air matanya yang mengalir.

Menempa hidup adlah seni bagaimana mengubah air mata menjadi rasa syukur. Rasa bahagia bukan ada karena semut semut kecil mengajakmu untuk tersenyum. Bukan pula karena ada kelapa yang bisa kau minum untuk meredakan rasa haus. Bukan. Bahagia ada karena kita memilihnya.

Kata orang bijak, hidup ini hanya drama uji coba. Sebuah seleksi untuk masuk ke tempat yang diberkahi. Menjadi penghuni di tempat berkumpulnya para orang-orang yang diridhai Allah. Alur dan skenario sudah ditetapkan saat kita pertama kali disebut sebagai manusia. 4 bulan dalam ruangan hangat dijaga oleh manusia yang berkaki surga. Sedih, senang, adalah titik-titik ekstrem, waktu ujian memeluk dirinya.

Pil besar itu selalu ingin manusia itu menelannya. Dan memberikan ucapan selamat datang dengan hati yang terbuka.Menerima segala luka yang akan mengiris asa menjadi lembar-lembar penuh nestapa. Mengubah langit biru menadi gulita malam yang mencengkram

“Aku ini manusia biasa,” rintihnya dalam hati.

To be continue….  

00:08 AM
16/02/2017

Di kamar, kemnggisan, Jakarta. Kepengen nulis.

Thursday, 26 January 2017

From Biologist to Sharia Economist

4 Tahun lalu, semangat berapi api tersulut besar untuk mengisi 1 dari ribuan kursi sebuah universitas di Bandung yang menjadi mimpi bagi belasan ribu pasang mata anak negeri. Sudah biasa pulang sehabis isya, sampai pintu tempat les harus dikunci. Di sela-sela usaha, doa pun menjadi syarat wajib yang harus dibaitkan. Tapi, inginnya dari yang spesial. Seorang yang dengan tulus memberikan kasih sayangnya sejak aku dalam kandungan. Ibu.

ma, doakan mela biar masuk ITB,” kataku 4 tahun lalu
Mama doakan, biar mela bisa masuk kampus yang terbaik menurut pandangan Allah.” Jawab seorang wanita indah dan soleha pilihan ayah mela.
-

Pengumuman SNMPTN pun tiba, ternyata jadi biologist di SITH ITB maupun FMIPA UNJ masih menjadi bayang-bayang, ia belum mampu menyatu dengan bumi, sehingga belum berwujud takdir bagiku.

Tekad adalah tekad. Kembali aku cantumkan SITH ITB, sebagai pilihan pertama dari yang utama (wkwk, apaan sih mel). Betapa aku menyukai biologi. Betapa aku ingin menjadi biologist dari kampus nomor 2 di Indonesia (saat itu).

Semua daya dan upaya diarahkan untuk mampu menembus mimpi ini. Hingga akhirnya, tanpa sengaja ada yang memperkenalkan Ekonomi Syariah IPB ke ruang konsultasi belajar Nurul Fikri.

Tanya bersambung tanya, penasaran merajut rasa penasaran lainnya. Akhirnya, mata ini tertengok ke kampus rakyat yang terkenal dengan pertaniannya. Runcing pertanyaan pada, lebih baik Ekonomi Studi Pembangunan ataukah Ekonomi Syariah. Nasihat pun menyapa Ekonomi Studi Pembangunan jadi bagian dalam hidupku. Begitulah pesan yang disampaikan oleh salah satu kakak pengajar di NF. Diskusi dengan mama pun terjadi. Apa yang aku inginkan, apa yang ingin aku ketahui, dan apa yang ingin aku lakukan kelak. Beruntung mama menyerahkan pilihan padaku tanpa lepas dari bimbingan dan pengarahannya. Niat pun bulat atas dasar pemikiran.. untuk mengeksplorasi apa yang sesungguhnya dibalik larangan Allah terhadap aktivitas riba. Sungguhkah riba benar benar haram ? Jika iya, mengapa masih banyak orang yang belum menyadarinya ? 

Akhirnya, aku mencantumkan prodi ekonomi yang berbasis Islam ini pada urutan ke 3. Urutan kedua diisi berdasarkan jejak kakak sebelumnya. Menjadi sarjana teknik dari kampus beralmet kuning.

Hari tes SBMPTN pun tiba. Selepas ujian, air mata pun mendera dan membanjiri wajah. Betapa sulit aku rasa untuk mengerjakannya. Serasa tingkat kesulitannya lebih dari 7 try out yang setiap minggu dijalani. Menunggu pengumuman, tak berarti aku diam. Azzamku untuk berkuliah di univeristas negeri telah bulat. Setelah ujian bersama seleksi masuk universitas dijalani, aku mendaftar 3 ujian mandiri PTN. Sebut saja UI, UGM, dan Undip.

Hari berganti hari, waktu yang ditunggu pun tiba. Aku pun berseru alhamdulillahirrabil’alamin dengan kebahagian memeluk mama, nenek, dan tante yang saat itu berada di dekatku. Namun ternyata, hal tersebut masih belum cukup untuk bisa bertemu teman-teman Eksyar 50 yang kini jadi bagian lembaran hidup mela selama 3,5 tahun. Ujian dari Allah pun masih mode on.

Pengumuman ujian mandiri pun satu persatu tiba. Almamater dari Jawa Tengah dan Yogyakarta ternyata tidak mengiyakan aku untuk masuk menjadi 1 dari ribuan mahasiswa yang beruntung. Akan tetapi, almamater kuning dengan tangan terbuka menyambutku dengan hangat. Geografi UI menjadi jalan yang terbuka untuk beridentitas “We are Yellow Jackets.”

Eksyar IPB, Geografi UI. Tanya selalu menjadi penghuni dalam fikiranku. Hingga akhirnya keputusanku bulat untuk melepas UI dan menerima IPB. Didasarkan pada satu fikiran yang Allah karuniakan saat itu. “Kamu akan hidup dengan jurusannya bukan kampusnya. Yang kamu jalani adalah program studinya.” Berhubung saat itu, fanatisme kampus dalam diri saya cendung pada ITB dan UI. Syukur Alhamdulillah pilihan 3.5 tahun lalu, akhirnya jatuh pada Ekonomi Syariah IPB.

Kemudian, 1 semester menjalani dunia kampus, hati saya pun tidak lantas menyerah. Terbesit keinginan untuk berjuang lagi di SBMPTN untuk bisa masuk ke SITH ITB. Tapi, dengan berbagai pertimbangan, Allah memantapkan hati Mela untuk menjadi bagian dari Ekonomi Syariah 50 sepenuhnya: my wonderful family in IPB.

Dan 3,5 tahun menjadi mahasiswa di sini, doa mamaku pun terasa benar. Syukur Alhamdulillah, Engkau ijabah doa mama mela, Ya Allah. Terima kasih engkau telah memberiku Ekonomi Syariah dan IPB. It’s two of the important things in my life.


Dalam perjalanan belajar di kampus ini, banyak cerita yang membuat aku belajar, yang membuat mata, hati, telinga, dan pikiran menjadi lebih terbuka. Sungguh banyak peningkatan yang terjadi selama 3,5 tahun. It such as golden time to be student of IPB.

Dan aku pun ingin mengatakan padamu bunda, 
Inilah jawaban doamu, doa yang besar dari yang terspesial.
Terima kasih mama telah mendoakan mela, bukan untuk masuk ke kampus yang terbaik menurut pandangan kita-manusia, tapi menurut Ia yang Maha Tinggi, yang Maha Indah, yang mengetahui segala apa yang akan terjadi.
Terima kasih ma :).
Aku cukupkan dengan Alhamdulillahirrabil'alamin.
Semoga jalan kedepan penuh dengan kebermanfaatan dan keberkahan dariMu.

Pertama kali dibuat tanggal 21 Januari 2017 11:12 PM di kamar 17 Asrama Putri Dramaga. Lagi liburan, jadi enumerator disertasinya Ibu Qorry (adik Pak Irfan Syauqi Beik).
Kemudian, aku sempurnakan pada 26 Januari 2017 10:38 AM di our sweet home, Kemanggisan, Jakarta.

Sebuah Nama

Candu rindu menguak ke permukaan
Membesitkan genderang rasa ingin bertemu
Sebaris demi sebaris, hingga tumpukan buku menjadi jalanku untuk mengenalmu
Seakan ingin menjadi jari telunjuk yang selalu menyertai jari tengah

Dua-tiga akhlakmu jadi kacamata penuh estetika saat kubayangkan dirimu
Barisan kata menjadi hidup untuk menggambarkan anggunnya budimu dalam bertindak
Menjelma rembulan yang indah, menandangi sinarnya sang mentari
Engkau yang dirindu oleh milyaran hati
Engkau yang dibaitkan dalam syahadat kami kepada Sang Maha Tinggi

Sebuah nama,
Nama pemimpin kami
Sebuah nama,
Muhammad saw

10:19 PM
21/10/2016
Lagi kepengen nulis

Di kamar asrama