Featured post
KURANG DARI 50 TAHUN
Aku terbangun di pagi hari Memasuki lentera baru, lensa baru, harapan baru Pelupuk mataku yang lemah begitu berat untuk disingsingkan Te...
Monday, 9 October 2017
Es Batu
Ruang Pendidikan
Saturday, 23 September 2017
Kita adalah Rambu
Wednesday, 20 September 2017
Any Perfection?
20 September 2017
Monday, 11 September 2017
Mengerti Arti
Wednesday, 30 August 2017
Pemuda dan Bunga Mawar
Bukan Tentang Uang Seribu
Friday, 18 August 2017
Sosok Guru
Ialah sosok pengabdi yang terus membangun umat manusia. Mencerdaskan dan menyalahkan lampu peradaban. Tidak perlu waktu untuk berlari, dunia akan selalu berada dalam jemarinya. Tintanya selalu basah dalam untaian nasihat penuh krama. Matanya selalu terpancar cahaya optimis bagi yang memandangnya. Ia adalah engkau, wahai guru.
Guru, menderma penghidupan bagi yang didiknya. Menjadi lampu penerang bagi gelapnya akal pikiran yang tak terhuni pengetahuan. Menjelma 'tangan Allah untuk menunjukkan ke jalan yang lebiih mulia, lebih bermartabat. Ia bagai sumber air bagi setiap jiwa yang haus untuk menjadi tahu. Ia bagai bumi bagi setiap didikan, yang akhirnya menemukan diri mereka sendiri.
Tanpa pengetahuan kita terlahir di dunia ini. Jangankan huruf dan angka, sumber makanan pun tidak tahu berada dimana. Jauh sekali tentang perkalian, teori, model, analisis, dan lainnya. We were borned without any knowladge. Its's the simple thing that always be remembered to anyone.
Guru, tempat yang paling menyenangkan untuk dapat menggali ilmu pengetahuan. Tempat yang paling berkesan untuk bertukar fikiran dan segala ide yang cemerlang untuk masa depan.
Guru, tempat yang paling membuat nyaman bagi indera pemikiran, sebab ia adalah taman penuh bunga dengan pesona yang mengagumkan. Dan guru adalah tonggak peradaban. Dari ialah peradaban hidup yang terang benderang akan bersinar.
17 agustus 2017
Saturday, 8 July 2017
Lidah
Semangat
Thursday, 15 June 2017
Baik
"Saya rindu," gunggam hati yang membesitkan wajah-wajah mereka. Tak sampai dua detik, terucap syukur alhamdulillah alhamdulillah. Rindu yang bukan bermaksud pada cinta cinta yang rapuh, fatamorgana, dan mungkin hanya dibilas ombak, kemudian hilang. Rindu yang ada adalah ketika bisa berada dalam lingkaran bersama orang orang yang ada di dalam hatinya sebuah lukisan. Lukisan kehidupan sebenarnya. Kehidupan setelah dunia ini. Kehidupan dimana 99 kasih sayangnya Allah akan ditampakkan. Kehidupan dimana 99 cintaNya Allah akan terasa menyentuh seluruh sudut hati.
Baik, "saya bukanlah orang baik, kecuali Allah telah memberikan orang-orang baik di sekitar saya". Baik, "saya bukan orang baik, kecuali keberkahan dan doa orang tua". Baik, "saya bukan orang baik, kecuali Allah mempernankan saya untuk masuk dalam pintu kebaikan"
Semoga Allah menjadikan diri diri kita, lingkungan yang baik untuk orang lainnya.
After saw so many stories in IG story
6:50 AM
20 Ramadhan 1438/ 15 Juni 2017
Kemanggisan, Jakarta.
Friday, 26 May 2017
Menguatkan Iman di Negeri Matahari
The Main Objective
Wednesday, 17 May 2017
Ekonomi Islam Bicara
Pembubuhan kata "menyempurnakan" akan membuka jendela ekonomi islam yang lebih luas. Bentangan cakrawalanya akan melampaui riba-gharar-maysir. Ia adalah penerang untuk dapat memecahkan masalah transaksi dan segala aktivitas ekonomi umat islam. Memuat terang benderang yang dahulunya gelap tak bercahaya.
Suara ekonomi islam dapat menyentuh berbagai sudut ekonomi umat ini. Mulai dari hal hal yang kecil hingga mencakup makro dan kebijakan ekonomi. Kasus ojek online, aktivitas penjualan rokok, pungutan liar di lembaga pemerintahan dan pemasyarakatan, reklamasi pantai utara jakarta, pembagunan kota dan desa, serta banyak hal lainnya. Kehadiran ekonomi islam idealnya dapat menjadi pintu yang dicari oleh banyak masyarakat. Dengan kunci adil berlandaskan maslahah, diharapkan ekonomi masyarakat akan menjadi lebih menawan.
0:23 AM
16 Mei 2017
Di atas tempat tidur asrama, Asrama putri dramaga.
Kadang
Hingga tak mampu untuk menembus cahaya kebenaran ilahi
Terbius dengan fana yang memeluk diri
Tiada sadar bahwa pundak sedang dicocok oleh panah api
Untuk menuju tempat hina yang terlaknati
Kadang telinga ini tersumbat lelehan besi panas
Tak nyaman mendengar siraman air surga
Tak sampai azan mengetuk ruang hati melalui saluran pendengaran
Bagai cantelan yang tak lebih bernilai dari tanah tak subur
Apa mungkin lagi dibilang "kadang" ?
Saat nanti Sang penebar syafaat memanggil, ummati.. Ummati...
Yakinkah mata dapat melihat dan telinga dapat mendengar seruan itu ?
Yogyakarta, 11 Mei 2017
13:00
Dalam perjalanan ke UGM dari tempat penginapan (Asrama Haji Yogyakarta)
Usaha Terbaik (?)
10 menit lalu, seorang lelaki paruh baya menjajahkan dagangannya. Ia menawarkan lampu hemat energi dengan berbagai keunggulannya: lampu lebih terang, harga lebih hemat, terbuat dari plastik sehingga tidak mudah pecah, dan umur yang lebih tahan lama. Sepuluh ribu rupiah berhasil ia genggam dari seorang penumpang yang membeli lampu tersebut.
Keberpulangan penjual lampu disambut dengan pengamen yang menjadi perhatian penumpang. Dari bagian depan bus, ia menyajikan lagu untuk menarik hati orang-orang di dalam bus. Beberapa orang merogoh tas dan sakunya, mengambil beberapa receh rupiah untuk diulurkan ke bungkus permen mentos yang disodorkan oleh pengamen.
Senyum pun terkikis indah melihat keduanya. Aku ingat tadi siang, saat aku mendatangi sebuah kantor bank syariah. Hampir 2 jam aku menunggu, dan akhirnya pertemuan yang dinanti pun tiba. Berselang 5 menit, seorang bapak berkacamata menjelaskan bahwa proposal dan kuisioner yang telah aku serahkan 2 minggu lalu ditolak. Ini kali ketiga aku datang ke sana. Ternyata Allah ingin tahu apakah aku masih sempat mengernyitkan senyum dan melapangkan hati.
Bukan hakikat apa yang kita peroleh dari usaha usaha kita. Setiap orang punya tingkatan usahanya. Sungguh Allah tersenyum saat hamba hambanya melakukan usaha yang terbaik. Pilihlah jalan yang lebih baik seperti halnya satu dari dua orang tokoh di atas bus ini. Bukan aku tak percaya bahwa hasil tidak akan menghianati usaha. Tapi aku lebih percaya bahwa titik mata Allah ada pada juang kita melakukan usaha dalam kehidupan kita.
16:24
17 Mei 2017
Selesai ditulis saat bus melintas di daerah sekitar monas, depan kementerian pertahanan.
Sunday, 7 May 2017
Kata Rembulan
Aku, rembulan
Tersiul kabar aku jadi bunga
Keindahnnya dipuji banyak insan
Terkagum merekahkah lisan dengan mutiara
Dipandangi aku setiap malam
Dengan sungingan senyum yang mencuatkan lesung pipi
"Betapa menawan", ukiran kata mereka terpahat tentang diriku
Aku, rembulan
Berbentuk lingkaran tak sempurna
Sisi kanan ke kiri, sisi kiri ke kanan
Tak mulus permukaannku
Banyak batu dan kerikil
Lubang kecil dan besar menjadi tubuhku
Saat gersang melanda, bagai kebakaran hutan wajahku
Panas, memerah
Saat badai salju menyeruak, aku bagai alat pendingin yang mematikan
Begitu dingin, membeku
Aku, rembulan
Rembulan yang orang orang mengakui keindahannya
Dan aku juga rembulan
Rembulan yang tak seindah diakui orang-orang
16:14
Jumat, 5 Mei 2017
Di KRL menuju bogor, habis ke bni syariah, jakarta untuk ambil data untuk skripsi.
Puisi ini adalah tentang dua sisi. Dua sisi yang dimiliki oleh setiap manusia. Baik dan buruk. Tidak ada yang hanya punya baik dan baik.
Tuesday, 2 May 2017
[Sedikit] Mengenal Ekonomi Islam
Ada sistem yang sempurna, yang membaitkan aturan aturan sang khalik secara komprehensif. Sebagian orang mengenal ibadah sebagai rutinitas di dalam rumah ibadah, sehingga pandangan seperti mempersempit ruang agama dalam kehidupan manusia yang sangat luas.
Tapi, mari kita menyulutkan lilin di tengah kegelapan, memberikan sinar bahwasanya ruang agama itu luas, tidak sebatas pada aktivitas pribadi kepada yang berhubungan langsung dengan Zat yang Maha Kuasa.
Adalah Islam, yang mengatur tata hubungan vertikal dan horizontal dengan begitu elegannya di tengah tengah kehidupan manusia. Karena pada dasarnya agama Islam memiliki dimensi yang sangat lapang. Tidak hanya tentang mengingat sang pencipta kita, tapi juga menjelmakan apa yang Dia terangkan dalam kitab mengenai hubungan antara satu manusia dengan yang lainnya. Peraturan pada hakikatnya bukanlah untuk mengekang, sama sekali tidak. Ia adalah bentuk kasih sayang Allah kepada para hambanya agar dapat terarah dalam menyelami pelayaran kehidupan dunia ini.
Mengislamisasi ekonomi. Bukan berarti its only for muslim. Bukan berarti hanya untuk yang punya iman tebal. Ekonomi adalah kegiatan dasar yang pasti dilakukan oleh semua orang. Setiap yang ingin bertahan hidup, pastilah melakukan aktivitas ekonomi. Karena aktivitas ini yang memiliki sifat mendasar pada kehidupan manusia, sangat disayangkan bila ada suatu sistem terbaik, tapi melewatkan dimensi ini untum diberi pengaturan di dalamnya.
Sempurna, berarti menyeluruh. Sempurna berarti tidak melewatkan satu bagian pun. Sempurna berarti detail detail telah terisi penuh dengan nilai. Itulah nafas Islam. Hebat bukan ?
Ekonomi hakikatnya bukan semata untuk memperoleh keuntungan. Ekonomi adalah jalan untuk mendistribusikan karunia Allah dengan seadil adilnya, agar kesejahteraan dapat menjadi hembusan nafas bagi banyak orang. Persis seperti sila terakhir dari pancasila yaa.
19:39
2 May 2017
Di KRL, sedang di st. Cawang
Bogor - jakarta
You and Me
Aku dan kamu
Kita saling bertanya tentang pertemuan itu
Tentang akhir dari jalan kesendirian kita
Aku dan kamu
Kita saling bertanya tentang rembulan yang kelak hadir di langit hati kita
Tentang mentari yang selalu mendekap walaupun gurita gelap menyapa
Aku dan kamu
Kita saling bertanya tentang nama yang tertulis dalam kitab lauh mahfudz
Tentang siapa yanh Allah takdirkan ketika masih 4 bulan dalam ruang yang begitu hangat penuh kedamaian
Aku dan kamu
Mungkin tak pernah saling kenal
Tak pernah tahu satu sama lain
Tapi bila Allah berkendak bertemu,
Bahkan samudra bukanlah penghalang
Bahkan mawar merah pun tahu kemana ia akan diberi
Aku dan kamu
Aku yang benar benar aku, tanpa kamu tahu ukiran nama di belakang "aku"
Kamu yang benar benar kamu, tanpa aku tahu ukiran nama di belakang "kamu"
Tak perlu berusaha untuk mengira
Tak perlu jua menunjuk semesta untuk memberikan isyarat
Waktu akan datang dengan tepat
Waktu akan berkumandang bila memang harinya datang
Biarlah menuju sang maha cinta saja seharusnya hati hati kita bermuara
2 May 2017
20:10
KRL
Mau masuk ke st. Tanah abang
Sunday, 30 April 2017
Manusia
Hendakkah kita hanya menjadi pengelana di sini
Tak lama, hanya sebentar
Tak lebih dari sekedar mampir di sore hari
Mengapa seperti final dari segala penghelatan diri diri kita
Berjuang pontang panting, meregah emosi dan komat kamit lisan yang tak guna untuk di dengar
Hanya untuk apa ?
Hanya untuk mengikrarkan,
"kamu salah, saya benar"
Apalah artinya kita
Dari tetesan ayah yang diberi kesempatan oleh Allah untuk mengabdi
Merasakan indahnya satu akar dari ciptaan Allah yang maha kaya
Untuk bersyukur dan bersabar kita di sini
Menyatukan banyak hati
Untuk bersama tersenyum menuju keridhaan illahi
30 April 2017
16:18
Di APTB perjalanan pulang ke Jakarta dari Sentul, habis ke pernikahan sarah di andalusia bersama kru korpus 10 (sekalian jalan jalan ke ah poong, korpus day out wkwk)
Tulisan ini didasari tiba tiba di tol ada yang menimpuk aptb dari sisi kiri, babang sopir dan kenek langsung keluar mengejar si pelaku.
Saturday, 29 April 2017
Mengakhiri
Pernah mendengar bahwa akhir kita seperti apa kita hidup. Hidup baik, akhir baik. Hidup buruk, akhir buruk. Hidup suka beribadah, akhirnya ditutup dengan ibadah. Hidup suka hura hura, akhirnya ditutup dengan hal yang mengarah pada keinginan untuk hura hura.
Aku memang belum pernah merasakan hal itu sendiri. Karena kesempatan tersebut hanya memang sekali saja bukan. Sekali berada di akhir, tak bisa lagi masuk dalam ruang kehidupan. Tapi aku belajar dari hal yang terjadj akhir akhir ini. "Akhir". Kini aku berada di episode episode akhir masa kampus. Karena tidak lama lagi aku akan mengakhirinya (red. Lulus).
Ada desakan dalam kalbu untuk melakukan sesuatu. Sesuatu yang selama dalam dunia kampus sangat sering aku lakukan. Sepulang kuliah, selain berorganisasi aku habiskan untuk melakukan hal ini. Pulang ke asrama pun demikian. Tak sedikit malam yang terlewati dengan tetap terjaga untuk melakukannya, bahkan tidak memberi jatah kepada raga untuk terlelap di balik selimut pun pernah. Hal sederhana. Menulis karya tulis atau esai ekonomi syariah.
Diri ini pun tersadar, mungkin kelak saat waktu akhir kehidupan juga demikian. Ada dorongan besar asa untuk melakukan hal yang biasa kita lakukan di fase fase kehidupan sebelum memasuki episode akhir.
Seperti halnya saat ini yang berada di fase akhir kampus. Setelah satu semester (semester 7) sama sekali aku tidak menyentuh kegiatan ini karena aku memilih kegiatan yang lain. Ternyata kini hal tersebut pun muncul kembali. keinginan untuk menulis. Walaupun sedang skripsian dan ibu menyarankan untuk tidak melanjutkan esai yang telah aku tulis, tapi rasanya ada dorongan hati dan tarikan gravitasi untuk ke kota sebrang.
Begitu pula mungkin kita di akhir kehidupan yah, rasanya segala keinginan hati ingin di penuhi. "Akhir" bergantung dari kebiasan sebelum menuju akhir, episode-episode sebelum bertemu malaikat maut. Akhir yang baik ternyata tidak diciptakan instan yaaah. Dorongan hati akan memunculkan seperti apa ia dahulu membawa hatinya.
18 April 2017
21:03 PM
di krl baru lewat stasiun depok baru menuju jakarta.
Besok pilkada dki putaran ke 2, jadi harus pulang malam ini mintanya mama. Khawatir seorang ibu akan kisruh besok pagi. Siap mama :))
Di sempurnakan pada
29 April 2017
22:26 PM
Di kamar, kemanggisan, jakarta.
Zat Sempurna
Allah, lebih dari kumpulan huruf yang tersusun sempurna. Lebih sempurna dari jutaan ikatan kata sempurna yang dirajut dengan kesempurnaan. Maha sempurna dari segala maha karya yang bernilai sempurna.
Ialah bait bait rindu saat kita ingin sekali rasanya berbicara denganNya. Ialah titik titik embun yang terasa sejuk dalam hati ketika kau ingin merasa dekat denganNya. Ialah butiran butiran permata yang terasa berkilau ketika kau sebut namaNya Allah, Allah, Allah.
Ia yang tak sanggup oleh mata lemah ini menerjemahkan zatNya yang maha tinggi.
Ia yang tak pernah punya sifat sama seperti mahkluknya yang lelah, mengantuk, dan tertidur.
Ia yang punya mahligai kerajaan dunia dengan kuasanya yang tak terkira nilai kesempurnaannya.
Ialah alasan pepohonan yang bergerak oleh tiupan angin. Dimana tak satu pun manusia terhebat yang mampu mengadakan pepohonan dan pergerakkannya yang mengagumkan.
Ialah alasan langit yang dengan megah berdiri dengan biru yang membahana. Dimana tak satu pun manusia tercerdas yang mampu menandingi penciptaan pada langit dan segala perhiasannya yang menakjubkan.
Ialah alasan pelangi yang terbit dari titik air dengan kolaborasi sinar mentari. Dimana tak seorang peraih nobel pun yang mampu mengombinasikan berbagai warna dari matahari yang panas dan air yang sejuk.
Ialah alasan penataan yang rapih alam semesta ini. Dimana tak satu pun manusia terbaik dari segala versi di buku manapun yang mampu mengadakan penciptaan segala pernak pernik di alam semesta ini.
Hanyalah Ia yang mampu menjadikan semua ini ada, sang pengukir cinta di alam semesta, zat paling sempurna, Allah subhanahu wa ta'ala.
29 April 2016
Di kamar, kemanggisan, jakarta.
Mama sedang ketiduran depan tv.
Monday, 17 April 2017
Heaven
Namanya jannah. Tempat segala berkah bermuara. Tempat segala akhir dari peraduan kebaikan di dunia. Tempat perkumpulan para hamba Allah yang berharap pada rahmatNya
Namanya 'Adn. Pusat dari segala mahligai cintaNya Allah. Semesta dari segala bentuk kasih sayang Allah pada hamba hambaNya yang berhati surga. Peraduan dari perjuangan panjang kebaikan tiada henti.
Namanya Firdaus. Tingkat yang ingin digapai oleh setiap insan penduduk bumi. Menjadi dambaan bagi setiap ukhuwah yang melingkar di tanah Allah kini. Rupa dan wujudnya tak sanggup untuk akal menggambarkannya.
Namanya surga. Ia yang menjadi bait bait doa kita dalam sholat. Ia yang menjadi janji manis dari zat maha pemilik semesta dunia akhirat. Ia yang menjadi titik embun penggetar hati dan jiwa. Ia yang menjadi map perjalanan bagi para pencari keridhaan ilahi.
Kemanggisan
17 April 2017 (2:32 AM)
Tadi sudah tidur dari jam 22 - 00:20 kurang lebih
Sedang tidak berminat untuk tidur lagi wkwk
Sunday, 9 April 2017
Pada Suatu Ketika
Pada suatu ketika
Aku melihat pena yabg terbuka
Tintanya licin menggoreskan kertas putih
Satu dua menit, dua tiga ide terbaitkan
Pada suatu ketika
Aku melihat kepala yang terbuka
Lincah mengolah gagasan
Tiga empat esai pun tergubahkan
Pada suatu ketika
Aku melihat solusi yang berkolaborasi
Empat lima optional dipadukan
Bagai banyak gerbong kereta disambungkan
Makin banyak yang terfasilitasi
Pada suatu ketika nanti
Aku harap pena kita terbuka bersama
Menggoreskan benih benih pembangunan
Memperbaiki apa yang harus diperbaiki
Menjulang tinggi apa yang harus digapai
Agar kelak kita dapat tersenyum bersama dari kejauhan
Melihat bumi indonesia yang tak lagi bersarang kan bijih bijih ribawi
Untuk kalian, kawan kawan yang suka menulis. Aku senang, aku bersyukur bahwa ternyata ada kok yang punya semangat yang sama dengan mela, yang ingin membumikan, memperbaiki, dan menyempurnakan ekonomi syariah, minimal melalui dari apa yang kita sukai, menulis.
KRL
Berdiri di dekat pintu, bersender pada bangku pinggir
Mendekati stasiun bogor
8:13 AM
9/04/2017
Thursday, 6 April 2017
Kamu
Setiap dari kita punya kehidupan. Kehidupan yang luar biasa dengan jadwal dan dinamika yang mungkin sama sekali tidak bisa dianggap remeh. Berbagai perjuangan, keringat, dan doa kadang mampu membawa langkah pada puncak yang ingin digapai banyak orang. Menjadi luar biasa adalah kamu. Menjadi sosok yang diingini oleh banyak orang adalah kamu. Apalagi menjadi manusia yang selalu disenyumi oleh penduduk langit, itu pun kamu juga. Kamu yang tidak diam saat angin dunia menyergap. Kamu yang berfikir keras untuk menemukan jalan bagi banyak orang. Kamu yang punya hati untuk menembus banyak hati nurani. Kamu yang mau terjaga walupun banyak yang sudah kelelahan, menyerah, dan berhenti. Kamu lah yang akan ditunggu Allah dengan senyuman yang lebih terang daripada 1000 bintang. Kamu adalah siapapun yang mau menjadi "sesuatu" di mata Allah.
6 April 2017
13:53 PM
Kemanggisan, Jakarta.
Lagi break editing kuisioner skripsi
Friday, 24 March 2017
Menertawai Diri Sendiri
Aku adalah kumpulan huruf huruf lama yang berdebu. Dilewati arus waktu dan pergantian ruang. Lebih dari sekedar "lewat", aku hampiri beberapa tempat bahkan menjadi bagian darinya. Aku bernafas, berfikir, dan hidup di sana, sekali kali bermain membuat istana dari pasir, tapi setelah itu ombak pun menyapu bersih. Sekali kali aku mendaki meraih puncak tertinggi, tapi ternyata selalu ada yang jauh lebih tinggi.
Aku ini pengelana, sedikit ilmu, dan masih bolong bolong akhlaknya. Aku ini pejalan kaki, memperhatikan sekitar, berinteraksi dengan alam. Kadang aku bertanya pada batu yang diam, kadang pula pada rembulan, terik matahari, angin, dan pelohonan. Mereka tak bergerak, tapi mereka hidup. Mereka bisa merasakan aku, dan aku merasakan kehadiran mereka. Bukan aku ini tidak waras, bukan, sama sekali. Tapi alam sekitar adalah kawan yang suka memberikanku nasihat, mengajarkan dan menegurku dengan lembut.
Sekarang kamu jadi sejarah mel. Kamu tidak akan pernah lagi bertemu dengan perilakumu, pemikiranmu, perasaanmu, amalmu di detik ini. Tidak, sudah tidak bisa. Tapi masih dapat kau datangi, kau tengok lagi untuk jadi cermin, jadi kitab referensi seperti apa kamu dulu.
Aku, sering menertawai diri sendiri. Bukan karena merendahkan. Bukan pula menggangap remeh yang telah lalu. Hanya saja aku bersyukur, bahwa aku sudah melewati proses untuk belajar. Terkadang berbuat salah adalah pintu untuk memperoleh hal yang benar.
Aku baru tahu kurang dari 48 jam yang lalu, definisi dari pendidikan. Bahwa pendidikan adalah membentuk sesuatu sedikit demi sedikit hingga mencapai tingkatan sempurna. Dan aku suka dapat mengetahui itu.
8:37 AM
Mushola Al-Fath Fem Fateta
22 Maret 2017
Singgah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan (padahal sih ke bara wkwk)
Tentang Duri
Duri itu menyakitkan, betul sekali. Tidak salah bila ada yang mengatakannya. Tapi, tergantung pada kita bagaimana menyikapinya. Ada yang hanya diam, tak berpelik sedikit pun. Tak ada angin yang dihembuskan, tak ada aksi yang bergerak.
Ada pula yang mengatakan duri itu bisa melukai kita, hati hati jangan diinjak. Lebih ada peningkatan. Ada kata kata yang digubah, ada aksi yang terwujud. Lebih baik. Tapi, bukankah kelak orang orang setelahnya, bisa saja terinjak dan merasakan sakitnya si duri tersebut.
Tapi di sisi lain, ada yang berkata dengan caci maki lisannya, "duri ada di jalan, engga tahu apa ini jalan, engga seharusnya ada orang yang membuang di sini !" dan ia pun berlalu dengan angin panas pada benaknya. Rumput pun terkesima heran bukan kepalang menatap pada yang baru saja berucap. Seolah rumput pun menggeleng gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
Tapi, ada satu yang cerdas menurutku, ia tidak hanya mengambil dan membuangnya ke tempat sampah. Lebih dari itu. Ia memprosesnya terlebih dahulu. Ia memotong motong bagian duri menjadi beberapa bagian. Ia sama sekali tidak akan membahayakan orang lain.
Begitu juga setiap ucapan dan perkataan serta perilaku yang orang lain perbuat kepada kita. Berapa pun level tingkat menyakitkan apa-apa yang terbit dari mereka, kita akan selalu punya pilihan. Membiarkan ia terus menjadi duri bagi perasaan dan fikiran kita ataukah menjadi cerdas dengan mengolahnya dengan baik..
24 Maret 2017
22:29
APD IPB
Sunday, 26 February 2017
Think papayas
Tentang pepaya. Langit sore berbicara padaku melalui pohon pepaya. Tentang mengorganisasi, menstimulasi, dan mengeksplorasi. Alam adalah buku tak berhuruf yang mengajarkan kita banyak hal. Alam adalah puisi tak berbait yang dengan lembut melantunkan pesan pesan Nya untuk kita.
Dalam satu pohon pepaya akan memiliki banyak buah. Tapi buah buah tersebut bervariasi dari segi ukuran dan kematangannya. Ada yang besar dan kecil. Ada yang sudah menguning dan masih hijau. Analoginya seperti orang orang dalam satu organisasi. Ada yang dengan matang bisa "muncul dan terlihat". Dan ada pula yang "masih hijau", terlihat membutuhkan stimulasi untuk bisa "tumbuh dan berkembang".
Bagaimana caranya agar "pepaya pepaya" tersebut bisa menghasilkan buah yang matang dalam jumlah banyak pada satu waktu yang sama ? Atau pada waktu berbeda, tapi tidak terlalu jauh jarak waktu kematangannya antara satu dengan yang lainnya ?
Jawabannya (menurut subjektivitas saya yang tidak tahu apa apa ini) adalah sumbernya. Jika dalam satu organisasi, maka leadernya memiliki peran dan kesempatan untuk bisa membagi sumberdaya yang dimiliki agar semua terstimulasi secara merata. Setiap orang akan tumbuh dan berkembang, asal diberikan stimulasi yang optimal. Ruang untuk bisa mengeksplorasi diri. Dan kesempatan untuk mencoba dan belajar. Diberikan pengertian dan perasaan merasa dipahami. Hal ini akan membuat pohon pepaya akan menghasilkan buah yang berukuran maksimal dengan kematangannya. Persis orang orang dalam organisasi akan tumbuh dan berkembang secara optimal.
------------
Based on experience when visited small garden in Mr. Budjo house, bubulak
During SUIJI SLP program
26/02/2017
18:15



